#mahasiswa

Mahasiswa dan Orang Tua


Menjelang ujian tengah semester seperti biasa saya merekap absensi mahasiswa, siapa saja yang rajin masuk, siapa yang bolong-bolong, dan siapa yang sama sekali tidak pernah masuk. Pernah di semester lalu, saat jaga ujian ada salah satu mahasiswa yang saya sama sekali belum pernah lihat di kuliah tatap muka. Saya sengaja menghampiri, lalu tanya “kok kamu baru kelihatan sekarang? Gak pernah masuk kuliah ya?” Lalu sang mahasiswa pun hanya tersipu malu. Selama mahasiswa tersebut bisa mengerjakan soal mungkin tidak apa-apa, soalnya saya jadi bingung mau ngasih nilai. Setelah nilai ujiannya tidak bagus, dari mana saya bisa mencari bahan tambal sulam nilai jika tugas, kuis, dan kehadiran saja tidak ada.

Banyak info dari teman-teman sejawat tentang ketidakhadiran mahasiswa yang kadang hanya hadir saat ujian. Sayangnya ternyata banyak juga yang ternyata orang tua pun tidak tahu, lebih parah lagi saat orang tuanya tahu kalau selama ini membayar SPP, anaknya berangkat kuliah, tapi rupanya mereka tidak mengurusi akademiknya (termasuk daftar ulang, isi KRS dan kegiatan akademik lainnya). Mirisnya orang tua baru tahu setelah bertahun-tahun, anaknya tidak lulus-lulus, saat tanya ke kampus rupanya sang mahasiswa non aktif, tapi SPP tetap masuk tiap semester.

Saya yang saat ini telah menjadi orang tua pastinya sedih dengan kondisi seperti itu. Entah mungkin masalahnya ada di anaknya atau mungkin bisa juga di orang tuanya. Selayaknya anak dan orang tua perlu ada komunikasi. Bisa jadi, selama ini sang anak kuliah di jurusan yang tidak dia inginkan karena pilihan orang tua sehingga terjadi hal seperti itu. Tapi apapun alasannya, rasanya sakit ya kalau selama ini sebagai orang tua bayari SPP tiap semester selama bertahun-tahun, tahu kalau anaknya berangkat setiap hari, lalu tiba-tiba tahu ternyata anaknya gak mengurusi akademiknya. Ya, mungkin karena komunikasi dan kesibukan orang tua juga kali ya.

Hal ini menjadi pelajaran juga buat saya. Sering kali saat ngobrol dengan istri, kita harus berusaha membuat anak nyaman untuk cerita. Maka, jika ada apa-apa dengan anak, kami ingin yang menjadi orang yang lebih dulu menjadi tempat untuk anak bercerita, berdiskusi, berbagi.

Mengajar di Komunitas Aragon


Semenjak saya memasuki dunia kampus, sebagai mahasiswa baru, mengikuti OSPEK, malam keakraban jurusan dan pengenalan UKM. Rasanya saya sering merasa minder, waktu itu. Maklum dari desa, gaya saya juga masih cupu, hee.. Tapi gak cuma saya juga sih, karena memang kampus saya itu adalah kampus rakyat yang SPP nya termurah  (saat itu, tahun 2006 SPP Rp 1.5 juta, kemudian turun jadi 1 juta, lalu turun lagi jadi 750ribu) dan khususnya kampus eksak yang dominan anaknya rapi jali (cupu). Maka sebenarnya tidak cuma saya yang bergaya oldist, didukung dengan suasana kampus di daerah jawa tengah bagian barat. Maka tambah sederhana-sederhana tuh, kami biasa ke kampus berjalan kaki atau memakai sepeda, angkot juga di sana jarang banget.

Nah, keadaan 10 tahun lalu itu rupanya sekarang sudah berubah. Saya pun tambah sadar saya semakin menua, sempat mengalami beberapa fase dari cupu, alay, kroco, sampai di tahun ini beralih menuju tahap mature. Tapi bukan perubahan diri saya yang akan dibahas sekarang, tapi adalah perubahan mahasiswa. Bisa jadi karena saya mengajar di kota besar dengan kemampuan ekonomi orang tua dari mahasiswa yang mapan, maka dari segi penampilan pun mereka berbeda dengan saya dulu.

Akhir-akhir ini, yang menjadi perhatian saya adalah mahasiswa yang biasa duduk di paling belakang. Mereka anak teknik, sesuai dengan kelumrahan anak teknik adalah jumlah mahasiswinya sedikit, termasuk di kelas yang saya ajar. Hanya ada 1 mahasiswi. Saya selalu meyakini jika anak teknik itu pintar, terutama matematika yang sangat mendukung mata kuliah yang saya ampu. Umumnya mereka cepat faham dan benar saja lebih pintar dalam hitung-hitungan di banding saya yang lulusan natural science.

Mereka yang saya perhatikan, rupanya punya nama komunitas sendiri. Sempat terselenting nama yang saya dengar dari mereka sendiri yaitu ARAGON (anak rambut gondrong). Sesuai dengan namanya ya mereka memang gondrong. Mereka juga mempunyai kemampuan yang sama pintarnya dengan anak-anak yang duduk di depan (sebutlah anak depan ya, biar gak kepanjangan saya nulisnya) dalam berhitung, tapi mereka cenderung lebih tidak rajin saja dalam mengerjakan latihan atau PR yang saya berikan. Maka, minggu lalu saya mencoba masuk di komunitas mereka, meski tidak lengkap beberapa ternyata ada yang mencatat apa yang saya jelaskan. Seperti biasa, saat saya cek rupanya belum mengerjakan latihan. Maka saya coba membimbing langsung mengerjakan dan rupanya bisa dan selesai.

Kadang sebagai pengajar, saya malas untuk memperhatikan mahasiswa yang duduk di belakang terfokus sama mahasiswa yang rajin saja, bahkan sampai hafal nama mereka. Sebenarnya tidak salah juga sih. Tapi, saat saya mencoba mendekatkan diri dengan mereka, rupanya mereka pun bisa. Hanya mungkin perlu tambahan penjelasan secara private.

Terimakasih Aragon, mulai sekarang saya harus adil membagi perhatian kepada semua mahasiswa saya.

Sepahit apapun hari ini, akan menjadi kenangan manis di masa depan


Setelah menyelesaikan amanah sebagai dosen wali untuk semester 1 bagi mahasiswa angkatan pertama di program studi ini rasanya lega melihat progress yang ditunjukkan mereka. Teringat saat pertama kali pendaftaran mahasiswa baru, ada salah satu orang yang menjelang daftar ulang mendadak ingin mundur karena masalah biaya. Sebenarnya untuk angkatan pertama ini full beasiswa pendidikan sampai lulus, hanya saja tidak termasuk beasiswa biaya hidup. Untuk ukuran biaya hidup sehari-hari dan kost di Depok memang dirasa berat bagi  calon MABA ini, mengingat ia berasal dari desa dengan penghasilan orang tua yang tidak besar sebagai supir dan asisten rumah tangga.

Alhamdulillah, berkat ide dari salah satu guru besar yang mencanangkan santunan dari staff pengajar. Akhirnya MABA tersebut mau melanjutkan proses daftar ulang. Setelah perkuliahan berjalan, ia pun rupanya belum bisa beradaptasi dengan lingkungan kampus dengan teman-teman yang berasal dari Jabodetabek. Akhirnya sang MABA, minder, stress, ingin mundur kembali, akhirnya tetap bertahan setelah diberikan support baik dari staff pengajar dan keluarganya. Alhamdulillah di akhir semester, rupanya MABA tersebut bisa survive juga, dengan nilai yang baik untuk tiap mata kuliah.

Saya sering bercerita di kelas, bagaiman teman-teman kuliah saya dulu dengan kesulitannya masing-masing justru bisa berprestasi dan sukses di saat ini. Yang mau baca kisah teman-teman saya (7 bintang di puncak kenanga) bisa klik disini. Untuk masalah  keuangan, jika tidak mendapat solusi sendiri, saya selalu menekankan untuk cerita saja baik ke teman atau ke saya pun tidak apa-apa. Saya tidak ingin kejadian teman kontrakan saya terulang pada mereka. Ya. Teman saya si bintang keempat, ceritanya bisa dibaca disini.

Di akhir tulisan ini, saya ingin menyampaikan kepada mahasiswa yang saat ini dalam kesulitan bahwa sepahit apapun hari-hari kita saat ini, di masa yang akan datang akan menjadi kenangan manis.