Mengajar di Komunitas Aragon


Semenjak saya memasuki dunia kampus, sebagai mahasiswa baru, mengikuti OSPEK, malam keakraban jurusan dan pengenalan UKM. Rasanya saya sering merasa minder, waktu itu. Maklum dari desa, gaya saya juga masih cupu, hee.. Tapi gak cuma saya juga sih, karena memang kampus saya itu adalah kampus rakyat yang SPP nya termurah  (saat itu, tahun 2006 SPP Rp 1.5 juta, kemudian turun jadi 1 juta, lalu turun lagi jadi 750ribu) dan khususnya kampus eksak yang dominan anaknya rapi jali (cupu). Maka sebenarnya tidak cuma saya yang bergaya oldist, didukung dengan suasana kampus di daerah jawa tengah bagian barat. Maka tambah sederhana-sederhana tuh, kami biasa ke kampus berjalan kaki atau memakai sepeda, angkot juga di sana jarang banget.

Nah, keadaan 10 tahun lalu itu rupanya sekarang sudah berubah. Saya pun tambah sadar saya semakin menua, sempat mengalami beberapa fase dari cupu, alay, kroco, sampai di tahun ini beralih menuju tahap mature. Tapi bukan perubahan diri saya yang akan dibahas sekarang, tapi adalah perubahan mahasiswa. Bisa jadi karena saya mengajar di kota besar dengan kemampuan ekonomi orang tua dari mahasiswa yang mapan, maka dari segi penampilan pun mereka berbeda dengan saya dulu.

Akhir-akhir ini, yang menjadi perhatian saya adalah mahasiswa yang biasa duduk di paling belakang. Mereka anak teknik, sesuai dengan kelumrahan anak teknik adalah jumlah mahasiswinya sedikit, termasuk di kelas yang saya ajar. Hanya ada 1 mahasiswi. Saya selalu meyakini jika anak teknik itu pintar, terutama matematika yang sangat mendukung mata kuliah yang saya ampu. Umumnya mereka cepat faham dan benar saja lebih pintar dalam hitung-hitungan di banding saya yang lulusan natural science.

Mereka yang saya perhatikan, rupanya punya nama komunitas sendiri. Sempat terselenting nama yang saya dengar dari mereka sendiri yaitu ARAGON (anak rambut gondrong). Sesuai dengan namanya ya mereka memang gondrong. Mereka juga mempunyai kemampuan yang sama pintarnya dengan anak-anak yang duduk di depan (sebutlah anak depan ya, biar gak kepanjangan saya nulisnya) dalam berhitung, tapi mereka cenderung lebih tidak rajin saja dalam mengerjakan latihan atau PR yang saya berikan. Maka, minggu lalu saya mencoba masuk di komunitas mereka, meski tidak lengkap beberapa ternyata ada yang mencatat apa yang saya jelaskan. Seperti biasa, saat saya cek rupanya belum mengerjakan latihan. Maka saya coba membimbing langsung mengerjakan dan rupanya bisa dan selesai.

Kadang sebagai pengajar, saya malas untuk memperhatikan mahasiswa yang duduk di belakang terfokus sama mahasiswa yang rajin saja, bahkan sampai hafal nama mereka. Sebenarnya tidak salah juga sih. Tapi, saat saya mencoba mendekatkan diri dengan mereka, rupanya mereka pun bisa. Hanya mungkin perlu tambahan penjelasan secara private.

Terimakasih Aragon, mulai sekarang saya harus adil membagi perhatian kepada semua mahasiswa saya.

Cerita menuju Ph.D


Salah seorang dosen saya bercerita semasa beliau merantau ke Perancis. Kemungkinan beliau mengetahui kegalauan kami, bagaimana tidak, dari pindah jurusan saja dengan basic ilmu yang berbeda tentu sudah bisa terbaca kalau kami masih setengah hati.

Beliau sangat tertarik dengan computer vision, sementara sebelumnya S1 dan S2 yang didalami bukan bidang tersebut. Singkat cerita, karena antrian untuk beasiswa untuk staff agar bisa S3 di kampus kami cukup panjang. Maka beliau memutuskan menghubungi Profesor di Perancis. Gayung pun bersambut, dengan kendala keuangan dan beasiswa belum ada serta deadline pendaftaran ke universitas yang mepet. Sang profesor dengan kerendahan hatinya ikut membantu proses pendaftaran, termasuk mengantri di loket pendaftaran. Mungkin, di negara kita belum dijumpai hal seperti ini.

Dosen saya tersebut, kursus singkat bahasa Perancis selama 3 minggu, lalu saat tiba di Perancis ternyata sama sekali tidak faham dengan native, bahkan selama 3 hari tidak mau keluar kamar untuk bertemu orang karena bahasa. Beliau cerita ada 3 masalah pada waktu itu; bahasa, ilmu yang berbeda, dan jauh dari anak istri.

Kelas kami kadang riuh dengan tawa, saat beliau bercerita. Ada hal-hal lucu dalam kegetiran beliau berjuang di Perancis. Tentu saat di posisi sebenarnya sebenarnya tidak lucu ya, hanya saja beliau menceritakan kenangan itu dengan gaya yang menyenangkan. Kepahitannya jadi manis, kayak kopi. Haahah #apasih.

Satu setengah tahun pekerjaannya hanya membaca, bukan karena senang membaca, tapi karena gak ada yang bisa beliau kerjakan (membuat program). Maka membaca menjadi pekerjaan saat itu. Katanya, beliau hanya membaca, menandai hal penting, dan mencatatnya, sampai rak nya penuh. Sampai mencapai 200an jurnal yang beliau baca. Dan saat membaca pun beliau tidak mengerti apa yang dibaca, hanya saja ditandai yang dirasa penting dan dicatat. Kemudian perlahan  membuat program

Pada saat yang tepat, rupanya apa yang beliau baca, tandai, dan tulis. Akhirnya terangkai menjadi ilmu yang beliau pelajari. Puzzle nya sudah lengkap tersusun, hingga tanpa disadari beliau pun sebenarnya dengan membaca adalah progress yang luar biasa. Selama bimbingan dengan Profesor, beliau menyampaikan resume dari jurnal yang dibaca. Sampai akhirnya beliau bisa lulus dengan gelar akademi PhD.

Saya yang selama ini merasa kalau bidang saya pelajari sekarang berbeda jauh dengan sebelumnya gampang menyerah kalau membaca dan tidak mengerti. Padahal dari cerita dosen saya, dengan terus membaca dan membaca rupanya kekosongan ilmu itu akan terus terisi. Beliau bilang, kan perintah buat kita itu, Bacalah! ya baca aja, kalau belum ngerti baca lagi yang lain, jangan lupa tulis.

Terima kasih Pak, atas wejanganya. Kelaspun bubar dengan pikiran terbuka dengan motivasi dari beliau

Sepahit apapun hari ini, akan menjadi kenangan manis di masa depan


Setelah menyelesaikan amanah sebagai dosen wali untuk semester 1 bagi mahasiswa angkatan pertama di program studi ini rasanya lega melihat progress yang ditunjukkan mereka. Teringat saat pertama kali pendaftaran mahasiswa baru, ada salah satu orang yang menjelang daftar ulang mendadak ingin mundur karena masalah biaya. Sebenarnya untuk angkatan pertama ini full beasiswa pendidikan sampai lulus, hanya saja tidak termasuk beasiswa biaya hidup. Untuk ukuran biaya hidup sehari-hari dan kost di Depok memang dirasa berat bagi  calon MABA ini, mengingat ia berasal dari desa dengan penghasilan orang tua yang tidak besar sebagai supir dan asisten rumah tangga.

Alhamdulillah, berkat ide dari salah satu guru besar yang mencanangkan santunan dari staff pengajar. Akhirnya MABA tersebut mau melanjutkan proses daftar ulang. Setelah perkuliahan berjalan, ia pun rupanya belum bisa beradaptasi dengan lingkungan kampus dengan teman-teman yang berasal dari Jabodetabek. Akhirnya sang MABA, minder, stress, ingin mundur kembali, akhirnya tetap bertahan setelah diberikan support baik dari staff pengajar dan keluarganya. Alhamdulillah di akhir semester, rupanya MABA tersebut bisa survive juga, dengan nilai yang baik untuk tiap mata kuliah.

Saya sering bercerita di kelas, bagaiman teman-teman kuliah saya dulu dengan kesulitannya masing-masing justru bisa berprestasi dan sukses di saat ini. Yang mau baca kisah teman-teman saya (7 bintang di puncak kenanga) bisa klik disini. Untuk masalah  keuangan, jika tidak mendapat solusi sendiri, saya selalu menekankan untuk cerita saja baik ke teman atau ke saya pun tidak apa-apa. Saya tidak ingin kejadian teman kontrakan saya terulang pada mereka. Ya. Teman saya si bintang keempat, ceritanya bisa dibaca disini.

Di akhir tulisan ini, saya ingin menyampaikan kepada mahasiswa yang saat ini dalam kesulitan bahwa sepahit apapun hari-hari kita saat ini, di masa yang akan datang akan menjadi kenangan manis.