Mahasiswa dan Orang Tua

Menjelang ujian tengah semester seperti biasa saya merekap absensi mahasiswa, siapa saja yang rajin masuk, siapa yang bolong-bolong, dan siapa yang sama sekali tidak pernah masuk. Pernah di semester lalu, saat jaga ujian ada salah satu mahasiswa yang saya sama sekali belum pernah lihat di kuliah tatap muka. Saya sengaja menghampiri, lalu tanya “kok kamu baru kelihatan sekarang? Gak pernah masuk kuliah ya?” Lalu sang mahasiswa pun hanya tersipu malu. Selama mahasiswa tersebut bisa mengerjakan soal mungkin tidak apa-apa, soalnya saya jadi bingung mau ngasih nilai. Setelah nilai ujiannya tidak bagus, dari mana saya bisa mencari bahan tambal sulam nilai jika tugas, kuis, dan kehadiran saja tidak ada.

Banyak info dari teman-teman sejawat tentang ketidakhadiran mahasiswa yang kadang hanya hadir saat ujian. Sayangnya ternyata banyak juga yang ternyata orang tua pun tidak tahu, lebih parah lagi saat orang tuanya tahu kalau selama ini membayar SPP, anaknya berangkat kuliah, tapi rupanya mereka tidak mengurusi akademiknya (termasuk daftar ulang, isi KRS dan kegiatan akademik lainnya). Mirisnya orang tua baru tahu setelah bertahun-tahun, anaknya tidak lulus-lulus, saat tanya ke kampus rupanya sang mahasiswa non aktif, tapi SPP tetap masuk tiap semester.

Saya yang saat ini telah menjadi orang tua pastinya sedih dengan kondisi seperti itu. Entah mungkin masalahnya ada di anaknya atau mungkin bisa juga di orang tuanya. Selayaknya anak dan orang tua perlu ada komunikasi. Bisa jadi, selama ini sang anak kuliah di jurusan yang tidak dia inginkan karena pilihan orang tua sehingga terjadi hal seperti itu. Tapi apapun alasannya, rasanya sakit ya kalau selama ini sebagai orang tua bayari SPP tiap semester selama bertahun-tahun, tahu kalau anaknya berangkat setiap hari, lalu tiba-tiba tahu ternyata anaknya gak mengurusi akademiknya. Ya, mungkin karena komunikasi dan kesibukan orang tua juga kali ya.

Hal ini menjadi pelajaran juga buat saya. Sering kali saat ngobrol dengan istri, kita harus berusaha membuat anak nyaman untuk cerita. Maka, jika ada apa-apa dengan anak, kami ingin yang menjadi orang yang lebih dulu menjadi tempat untuk anak bercerita, berdiskusi, berbagi.

Iklan

One comment

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s