Cerita menuju Ph.D

Salah seorang dosen saya bercerita semasa beliau merantau ke Perancis. Kemungkinan beliau mengetahui kegalauan kami, bagaimana tidak, dari pindah jurusan saja dengan basic ilmu yang berbeda tentu sudah bisa terbaca kalau kami masih setengah hati.

Beliau sangat tertarik dengan computer vision, sementara sebelumnya S1 dan S2 yang didalami bukan bidang tersebut. Singkat cerita, karena antrian untuk beasiswa untuk staff agar bisa S3 di kampus kami cukup panjang. Maka beliau memutuskan menghubungi Profesor di Perancis. Gayung pun bersambut, dengan kendala keuangan dan beasiswa belum ada serta deadline pendaftaran ke universitas yang mepet. Sang profesor dengan kerendahan hatinya ikut membantu proses pendaftaran, termasuk mengantri di loket pendaftaran. Mungkin, di negara kita belum dijumpai hal seperti ini.

Dosen saya tersebut, kursus singkat bahasa Perancis selama 3 minggu, lalu saat tiba di Perancis ternyata sama sekali tidak faham dengan native, bahkan selama 3 hari tidak mau keluar kamar untuk bertemu orang karena bahasa. Beliau cerita ada 3 masalah pada waktu itu; bahasa, ilmu yang berbeda, dan jauh dari anak istri.

Kelas kami kadang riuh dengan tawa, saat beliau bercerita. Ada hal-hal lucu dalam kegetiran beliau berjuang di Perancis. Tentu saat di posisi sebenarnya sebenarnya tidak lucu ya, hanya saja beliau menceritakan kenangan itu dengan gaya yang menyenangkan. Kepahitannya jadi manis, kayak kopi. Haahah #apasih.

Satu setengah tahun pekerjaannya hanya membaca, bukan karena senang membaca, tapi karena gak ada yang bisa beliau kerjakan (membuat program). Maka membaca menjadi pekerjaan saat itu. Katanya, beliau hanya membaca, menandai hal penting, dan mencatatnya, sampai rak nya penuh. Sampai mencapai 200an jurnal yang beliau baca. Dan saat membaca pun beliau tidak mengerti apa yang dibaca, hanya saja ditandai yang dirasa penting dan dicatat. Kemudian perlahan  membuat program

Pada saat yang tepat, rupanya apa yang beliau baca, tandai, dan tulis. Akhirnya terangkai menjadi ilmu yang beliau pelajari. Puzzle nya sudah lengkap tersusun, hingga tanpa disadari beliau pun sebenarnya dengan membaca adalah progress yang luar biasa. Selama bimbingan dengan Profesor, beliau menyampaikan resume dari jurnal yang dibaca. Sampai akhirnya beliau bisa lulus dengan gelar akademi PhD.

Saya yang selama ini merasa kalau bidang saya pelajari sekarang berbeda jauh dengan sebelumnya gampang menyerah kalau membaca dan tidak mengerti. Padahal dari cerita dosen saya, dengan terus membaca dan membaca rupanya kekosongan ilmu itu akan terus terisi. Beliau bilang, kan perintah buat kita itu, Bacalah! ya baca aja, kalau belum ngerti baca lagi yang lain, jangan lupa tulis.

Terima kasih Pak, atas wejanganya. Kelaspun bubar dengan pikiran terbuka dengan motivasi dari beliau

Iklan

4 comments

    1. Pada umumnya bisa beda bidang asal masih satu rumpun ilmu, contohnya dosen saya tersebut, tapi kalau yang benar-benar beda bidang lintas ilmu saya mas,, 😦 itu pun karena penugasan pimpinan

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s