DEDE [fiksi]

“Makanlah, De”

“Gak lah Bu, nanti Aa marah” ia kembali dari meja makan dan kembali ke beranda depan.

Apa pernah kalian mendapat seorang saudara yang jauh lebih jernih hatinya darimu?

Hanya sepotong ayam goreng yang terhidang di meja, ia relakan untuk seorang kakak yang belum tahu kapan pulang.

“Sudah makan saja” Ibu menyakinkan.

“Tidak usah, Bu. Biar buat Aa saja”

***

“ Ibu, tidak pernah membedakan kalian. Kalian berdua, sama-sama anak Ibu” itu yang sering Ibu ceritakan.

“Gak pernah adikmu iri sama kamu. Ia hanya akan diam, saat waktu kamu beli motor, hp, atau apapun. Sebenernya hati Ibu sakit ngeliatnya, kak. Tapi mau gimana, Ibu belum percaya sama adikmu”

Dede. Allah memberikan kelebihan padanya, daya tangkapnya berbeda dengan teman sebaya, hingga saat seumurannya dulu yang sudah pandai bicara dia butuh waktu lama. Butuh waktu untuk bisa menyebut kata “motor” dengan baik, sebab ia hanya akan bilang “atang eek”. Jauh sekali. “Mobil Truk” menjadi “Beubeuteuk”, “cendol” menjadi “anoy”. Kadang belum bisa membedakan mana barat atau timur. Belum bisa membaca di kelas 2 SD. Ia terpaksa naik kelas.

Saya adalah Kakak. Dulu. Ibu pernah nangis di hadapan kami, saya dan Bapak. Sepulang, dari sebuah yayasan anak, waktu itu Dede diperiksa semacam di klinik tumbuh kembang anak. Hasilnya, IQ dede di bawah rata-rata orang kebanyakan. Vonis yang paling sulit dipercaya adalah penangan Dede sudah agak terlambat, sebab jika sejak dini mungkin masih bisa teratasi. Bagaimana kami tahu, kami orang kampung.

Hasil belajar di sekolah Dede, tanpa bekas. Buku catatannya hanya ada gambar dan coretan. Setelah bisa membaca dan menulis, buku catatannya kemudian terekam beberapa kata, hanya namanya sendiri. Dede.

“Ibu, jengkel Kak” isaknya tak terbendung.

“Adikmu nakal banget, coba lihat apa yang ia lakukan. Ibu, capek. Kadang berpikir kenapa Bapakmu meninggalkan anak seperti ini”

Keluhnya tumpah pada saya, sekian kali pula saya menguatkannya.

“Bagaimanapun, adikmu masih anak Ibu” lanjutnya. “Ibu sakit hati, Kak, jika ada yang mengejek adikmu”

Waktu, tak pernah menunggu. Kami tumbuh besar. Dengan kasih sayang dan cinta Ibu yang sama. Kebutuhan saya tercukupi dengan baik, entah itu pakaian, makanan, dan pendidikan.

“Pengeluaranmu itu jauh lebih besar dari adikmu, lho kak” pernah Ibu bilang begitu.

Sementara adik saya, tumbuh jadi pemuda sederhana. Ia terlihat normal seperti oran lain, tapi sebenarnya pemahaman Dede agak berbeda dengan usianya sekarang.

“Kak, sepertinya adikmu sudah mengenal jatuh cinta. Mulai suka sama lawan jenis. Kemarin dia bilang dah punya pacar. Dia gentle ngaku, gak seperti kamu yang tidak pernah terbuka sama Ibu kalau dah punya pacar” goda Ibu.

“Tapi Ibu khawatir”

“Ia harus dapat istri yang ngerti kondisinya, yang pengertian dan mau bersama-sama menjalankan usaha keluarga. Adikmu gak akan bisa jadi pegawai kantoran”

 Dede, yang selalu banting tulang. Setidaknya tenaganya sangat besar di keluarga kami. Ia yang paling rajin mengurus usaha. Meski kadang ia mengeluh, masih nakal, masih suka buat Ibu nangis, tapi itu karena Ibu sayang, karena Dede masih anak Ibu.

“Ibu titip, Kak. Kamu yang sekolah tinggi. Kamu tumpuan keluarga, kelak Ibu titip adikmu”

“Ibu gak akan menaruh harapan pada keluarga Ibu. Keluarga Bapak. Atau siapapun. Ibu hanya menaruh harapan padamu, Kak. Kelak saat kamu sukses, sayangi adikmu”.

-TAMAT-

17:16 WIB

Alhurriyyah, 12 Februari 2012,

sembari menunggu hujan reda.

Iklan

19 comments

  1. saya jadi inget murid saya di sekolah yang kurang lebih kondisinya sama seperti itu……dia memang “special” berbeda dengan teman2nya yang lain, tapi kepedulian dan ketulusannya, dia kepada temannya begitu luar biasa, sampai pernah suatu saat, di bawa sebungkus Ch*Ch*, semua teman2nya dia bagi, cuma tersisa 2 biji saja untuk dia, tapi dia tidak sedih, dia tetap tersenyum dan menikmati….:)

    selalu ada yang special dari anak2 yang “special” itu^^

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s