7 BINTANG DI PUNCAK KENANGA

—-

Siapa bilang kisah-kisah sedih hanya dapat kau tonton dari sinetron. Kehidupan nyata sering menawarkan banyak kisah sedih, namun dari semua kesedihan itu adalah bagaimana kau mengumpulkan yang berserakan, kembali kokoh, dan menatap masa depanmu yang gemilang.

Kenanga akan menjadi saksi kami dalam perjuangan itu. Di Griya Ikhwan.

Pernah kau merasakan matahari-mu runtuh?? Luruh dan mencair, kemudian hanya gelap dan kelembutan bulan yang hanya hadir di hari –hari kau ??

Itulah saat Ayah kau pergi, untuk selamanya. Saat itulah rasanya kapal kehidupanmu mulai terombang-ambing. Membadai. Bagiku, begitulah rasanya. Jangan pernah kau tanya cahaya bulan akan meredup!!! Meski pantulan benderang keperkasaan sinar matahari telah hilang, kelembutan bulan akan tetap kau rasakan, itulah cahaya bulan sebenarnya. Cahaya ketulusan dan cinta yang mendalam bagi kami.

Di puncak kenanga, Griya Ikhwan, di sanalah aku belajar dari bintang. Mereka bersinar, kerlap-kerlip yang menawarkan optimisme hidup, keyakinan, mimpi, dan Tuhan.

Bintang ke-1

Baginya tumbuh tanpa matahari dan bulan telah terbiasa, semenjak sekolah dasar. Sementara aku beruntung merasakan kehangatan matahari lebih lama, 19 tahun 8 bulan. Dia adalah nakhkoda sekaligus awak bagi kapalnya sendiri. Namun, bintang mampu melewati badai dengan kegigihan, kesabaran, do’a yang selalu bermekaran, hingga ‘setumpuk hadiah’ pun hadir dari Sang Maha Mendengar, lulusan terbaik kampus, terbang Ke Ankara Turki, melanjutkan studi.

Bintang ke-2

Kehilangan matahari dan bulan tidak harus dengan kehilangan sinarnya yang perkasa dan cahayanya yang lembut. Tapi saat keduanya tidak bersatu, tidak menghadirkan sebuah kehangatan yang lama tidak pernah ia rasakan, semenjak kecil. Keputusan untuk tidak memilih mengikuti keduanya, menjadikan bintang hidup lebih banyak di sebuang bengkel. Sekali lagi, optimisme, mimpi, dan Tuhan adalah cara bintang untuk bangkit. Bintang yang mampu menjadi bintang yang sebenarnya di kampus, aktivis, trainer, dan juga beasiswa melanjutkan studi.

 Diantara kedua bintang ini, masih ada bintang lainnya, Bintang ke-3 sampai Bintang ke-7 (biar aku simpan dulu cerita mereka, mungkin suatu hari nanti akan kutulis) yang tetap berkelip. Bersinar. optimisme dan mimpi, masing-masing punya kisah sedih. Namun mereka bangkit. Gairah hidup yang membakar, bagaimana kami biasa berbicara mimpi, rencana-rencana hidup, cita-cita, tentang menikah, semua  kami tulis. Aku belajar menjadi bintang, membagi terang dan gemilang.

Note :

Kenanga adalah sebuah jalan kecil percabangan Jalan Gunung Slamet.  Sementara Griya Ikhwan adalah sebuah rumah mungkil 2 lantai, yang dari sanalah ketujuh bintang bertemu, membentuk sebuah rasi mimpi yang indah.

Teruntuk ketujuh bintang, terimakasih telah hadir melengkapi menapaki jalan dengan kerlip cahaya kalian.

Iklan

23 comments

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s