PERSIAPAN DAN PENANTIAN [FIKSI]

“ Nenaa.. apakah menikah itu sebuah keinginan?”

 Yang ditanya malah asyik memainkan kecipak air di kolam. Kaki-kakinya berayun menciptakan cipratan air.

“ kalau menikah itu adalah sebuah keinginan, apakah itu masuk keinginan dunia?” tanyanya kembali. Mengela nafas panjang dan membuangnya.

 “Emang kenapa?” Nena mengangkat kakinya dari kolam, sibuk ia mengelap kakinya. Lalu beranjak dari pinggir kolam. Ritual aneh. Nena tahu, jika  ingin bercerita, ia pasti akan mengajaknya berkeliling. Entah itu ke taman, danau atau tempat yang membuatnya nyaman untuk bercerita.

 Fahma mengikuti Nena ke tenda samping kolam, dua buah gelas es kelapa muda telah tersaji di meja.

“Bagaimana etika meminta keinginan dunia sama Allah?”  kembali bertanya. Baginya untuk masalah ini Nena bisa dipercaya dan bisa memberi solusi yang terbaik.

“Memperbaiki diri, Fa” ujar Nena.. ia menyeruput es kelapa miliknya.

“Rasulullah pernah bilang ke fatimah ” siapkanlah dirimu menjadi ibu 15 tahun sebelum menjadi ibu. Begitu penting dan sulitnya menjadi ibu sampai kita harus menyiapkan selama itu”

“Apakah Fa dah siap??”

“Ketika kita merasa siap, belum tentu Allah menilai kita benar-benar siap, jadi semua masih butuh belajar dan belajar every minutes”

Keduanya terdiam, asyik dengan es kelapa dan isi pikiran masing-masing. Beberapa pasang muda-mudi tampak cerita bermain perahu angsa di tengah danau.

“Saya hanya takut permintaan-permintaan itu hanya orientasi dunia,bukan karena ingin lebih mendekatkan diri pada-NYA” kini gelas  telah tandas, hanya tersisa daging kelapa.

Nena kini serius memandang  lekat-lekat.

“Yang perlu dperhtikan adalah antara keinginan dan kesiapan itu berbeda tipis, bukan sekedar ingin menikah tapi siap dan memantapkan hati atas segala konsekuensi menjalin rumah tangga”

“Menikah itu memang sebuah keinginan, seseorang melakukan sesuatu itu pun karena keinginan kok, kepentingan, entah itu keinginan pribadi ataupun oarang lain,  tapi yang paling penting adalah cara membingkai keinginan itu agar tetap dikoridor agama. caranya ya dengan menikah.”

“Semoga Allah meluruskan keinginan-keinginan dihati. apapun itu. keinginan-keinginan yang mendekatkan diri kepdaNYA… Terima kasih ya Nena..”

Senyum Fahma mengembang.. Ritualnya bercerita sore ini cukup melegakan. Semoga tidak lama lagi.. Ia meyakininya dalam hati.

010113

Sumber inspirasi dan ide : Kawan-kawan di Squad : Efa , Retno , dan Lismayana 

Iklan

8 thoughts on “PERSIAPAN DAN PENANTIAN [FIKSI]

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s