Menemukan ‘RATU’ di Gunung Salak

Adalah Retno. Salah satu Squad termuda diantara kami. Meskipun usianya lebih muda, kadang kedewasaanya serasa menjadikan ia Ibu bagi kami, sekaligus dengan kerempongan dan segala jenis makar yang akhirnya membelit kami dalam suatu masalah yang pada akhirnya ia sendiri yang akan menyelesaikan. Hujan mengepung kawasan Gunung Salak, Bogor. Inilah makar Retno yang kesekian kali. Acara berlibur Squad yang diagendakan ke Bandung, harus di cancel, berganti-ganti tujuan hingga akhirnya liburan kami ‘terpaksa’ menaiki Gunung Salak, menuju Kawah Ratu.

kawah

“ Ayo!! kalian harus semangat.” teriaknya di tengah pendakian. Retno sang aktivis kepanduan yang tangguh. Menulusuri jalan setapak tanah merah yang licin, tak jarang membuat kami terpeleset, untuk yang pertama, saya lah korbannya. Terjatuh dan terselip. Hiburan kami satu-satunya adalah suara dan lukisan alam, meski beberapa celoteh teman-teman terlontar tapi tak membuat saya bergeming. Lelah. Bayangkan kami mendaki pukul 10,, emang dikira mau ke mall?? Terima kasih Lisma,, kejengkelanku yang pertama adalah menunggumu. Tapi sungguh, aku semua telah luluh melihat kesabaran dirimu dalam melanjutkan perjalan. Benar. Dia baru sampai pulang dari jogja lalu ikut tracking. Aku bisa merasakan kelelahanmu, kali ini kamu bukan lagi tokoh antagonis,, tapi protagonis yang dikorbankan. Melihatmu lahap menyuap nasi dengan gemetar dipinggir sungai itu kembali meluluhkan hati kami, hingga akhirnya guyonan jempol cantengan membuatmu kembali bersemangat membully kami. Huuahahhaa..

Seperempat perjalanan menuju Kawah Ratu, sebagian besar adalah keluhan. Capek, hujan, dan kotor. Adalah Retno, yang kembali jadi sasaran kelelahan kami. Saya yakin, Edwin dan Jihad yang anak pantai akan kapok kalau diajak kembali mendaki ke Kawah Ratu. Tahu apa yang kami lalukan sesampainya di kawah ratu?? Hanya foto2 kemudian pulang, ckckck.. 15 menit untuk perjalan mendaki selama 3 jam.

kawah 2

Turun dari kawah putih itulah saya kembali merasakan semangat dan mulai menikmati perjalanan. Agaknya karena perut telah terisi penuh dengan perbekalan. Perjalanan di tutup dengan sholat Ashar berjamaah.. Terima kasih Retno, akhirnya yang aku pelajari dalam kisah ini adalah bukan tempat wisatanya (kawah ratu) yang menjadi daya tarik dan juga yang menyenangkan, tapi kebersamaan kita lah yang membuat suasana menyenangkan.

Iklan

4 comments

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s