Setulus Harapan [fiksi]

Harapan demi harapan tertulis jelas di secarik kertas.

Tiap lembaran yang tergores tinta meminta sebuah keinginan,

sedangkan lembaran lainnya mengharapkan sebuah kepastian.

Walau entah kapan keyakinan itu datang,,

meski hanya untuk mengisi lembaran yang terakhir.

—————————————————————————————————————————————

Menangkap senja di Masjid Baitul Muttaqien. seperti biasa, menjelang Magrib ini aku sempatkan mengabadikan bagaimana anak-anak TPQ bubaran, celoteh mereka yang selalu menjadi daya tarik untuk aku kembali memotret mereka. Gemes. Lewat cara inilah, akhirnya aku kenal dengan Pak Narikun, guru ngaji di TPQ. Meski umur sudah lewat 50 tahun, tapi semangat mengajar beliau luar biasa. Biar awet muda,begitu kelakarnya tiap kali aku tanya kenapa Pak Narikun masih semangat mengajar TPQ.

Selepas anak-anak TPQ bubar, biasanya aku dan Pak Narikun akan ngobrol di teras. Persis seperti sore ini.

“Sudah menikah mas ??” suara beratnya mengawali percakapan.

“ Belum, Pak “ jawabku sambil tersenyum.

“ Ah, masa?? “ Pak Narikun ikut tersenyum.

“ Kelihatannya sudah cukup umur untuk menikah mas, apalagi kerja kantoran. Mana ada perempuan yang gak nolak dapet suami kayak mas ini”

“ Ah, masa Pak ?“ tanyaku berniat menggoda Pak Narikun.

“ Benar. Mas mau tak kenalin sama seseorang gak nih? Anaknya baik kok mas, sholehah. Baru lulus kuliah pendidikan”.

“ Oia ??” mataku membulat, seolah ingin minta penjelasan lanjut.

“ Nanti, selesai maghrib jangan pulang dulu. Kita ke rumah sama-sama. Biar mas ketemu langsung sama orangmya”

Pak Narikun beranjak dari teras, bergegas untuk adzan, sedangkan aku masih mematung, tanpa ada kesempatan untuk menolak atau menerima ajakannya. Masih gak percaya, emh.. bukan.. masih belum yakin. Bukan belum yakin sama perkataan Pak Narikun, tapi belum yakin sama diri sendiri. Apa aku dah yakin siap untuk menikah?.

***

Note : Tulisan gaje.. Ide yang sudah tersusun apa.. yang tertulis apa.. ^^

Iklan

16 comments

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s