PERSELISIHAN SQUAD

Untuk kesekian kalinya, dalam persahabat terjadi perselisihan. Kali ini, dan entah mungkin untuk yang keberapa kalinya kami tidak pernah benar-benar mengerti bahwa karakter keras Lisma sebenarnya adalah sesuatu positif dan untuk keberapa kali pula kami salah paham mengartikannya dan mungkin tersinggung. Efa misalnya, kasus Lisma dan Efa tempo hari di SQUAD akhirnya memaksa kami dikumpulkan Bobby (salah satu anggota Squad). Lewat pertemuan saat itu dan nasihat Bobby kami akhirnya mencoba mengerti satu sama lain. Meski ujung-ujungnya Bobby izin mundur dengan alasan yang dapat sangat kami mengerti 😦 Alasan dan sedikit wejangan Bobby waktu itu sangat menyentuh. Kehadiran Bobby sebenernya sangat dibutuhkan ditengah anggota squad lain yang sangat hiperaktif, outlier, dan motil (kecuali Edwin dan Nadhirah).

Tentu selain canda, tawa, saling membully.. lagi-lagi ada perselisihan. Giliran saya yang mencak-mencak dengan sebuah kasus di Squad yang diawali dengan status Retno, kemudian ditanggapi keras Lisma, hehe.. entah saya yang mengartikan demikian (keras) atau memang lagi sensi saja, akhirnya saya pikir bubarkan saja squad. Jujur saya gak berani baca komen setelah saya buat status itu, agak gak enak sama Jihad. Bagaimana pun, Jihad kan nahkodanya?

Tahu imbasnya setelah itu? Puncaknya adalah Lisma keluar dari Squad.

Tentu saja yang sibuk adalah Retno, dia sms permohonan maaf. Bahkan Jihad, nahkoda kapal kami pun melakukan hal serupa. Kenapa akhirnya begini?? pikir saya. Satu-satunya orang yang tetap kalem adalah Edwin.. sahabat saya satu ini memang paling stabil dalam hal emosi dan tentunya Bobby yang mungkin saja tetap memantau kami.

Entah malam keberapa setelah Lisma keluar, kami sepakat membujuknya kembali di squad. Karena kami tahu meski kekerasan kepalanya sekeras baja, tapi tetap kehadirannya sangat dibutuhkan. Terutama bagi Efa dan Retno yang memang sudah dekat dengannya. Maka malam itu entah sudah berapa album saya nyanyikan disertai wajah-wajah memelas Efa, Retno dan Jihad. Hingga akhirnya adegan habis tissue pun ter-uploade juga di whatsapp.. Lisma gak berkomentar apapun, hanya motion nangis dan bungkus tissue tanpa isi yang bicara malam itu. Sekarang kami sadar, bahwa kadang kala perselisihan selalu membawa hikmah tersendiri. Lisma, meski ngaku-ngaku ingin jadi lumba-lumba yang baik hati, tapi dia adalh sang hiu bagi si tuna Efa, Mak lampir bagi Jihad, cekaman bagi saya,, lagi-lagi buat Edwin dan Nadhirah yang belum punya kesan seram, hehhe… Terima kasih Mbak Lisma…  maaf aku membully-mu lewat tulisan ini. Biarlah korban berikutnya Retno, Efa, dan Jihad yang aku jadikan bahan tulisan. Edwin sama Nadhirah perlu diinduksi dulu biar terekspresikan kegilaannya. Kekerasanmu sebenarnya bukanlah penghalang kami, hanya sudut pandang kami saja yang perlu dibelokkan untuk mengerti apa maksudmu.

Bahkan segala kekurangan dan kelebihan sahabat kita,

kelak menjadi hal yang akan sangat kita rindukan.

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s