Berkunjung ke Negeri Domba

* Secara khusus Mas Apri (kawan main) buat tulisan perjalanan kami ke Garut, ke rumah saya saat di idul adha kemarin.. setelah mendapat izin beliau saya coba share di blog saya.. Berikut ceritanya:

I see skies of blue… and clouds of white

The bright blessed day… the dark say good night

And I think to myself… what a wonderful world

(What a Wonderful World, dipopulerkan oleh  Louis Amstrong)

***

Sudah sejak lama aku utarakan keinginanku untuk berkunjung ke rumah Evan, salah seorang sahabatku. Evan menyanggupi dan sangat bersemangat untuk mengajakku berkunjung ke kampung halamannya di Garut. Libur panjang akhir pekan, bertepatan dengan Idul Adha, menjadi waktu yang tepat untuk berkunjung ke Garut. Rencana ini kami ceritakan kepada beberapa orang sahabat. Dua orang mengutarakan keinginannya untuk ikut serta. Evan pun menyanggupi untuk mengajak kami bertiga: Joni (Dosen muda di Sangatta, dengan dua putra dan seorang istri yang ia tinggalkan jauh di Kalimantan sana), Budi (mantan bankir yang akhirnya memilih melanjutkan sekolah), serta aku sendiri.

Garut1

Keterangan gambar dari kiri ke kanan : Mas Joni (Dosen dari Borneo), Mas Apri (Bos tambak udang di Palembang), Evan (dari dulu sampe sekarang mahasiswa), Mas Budi (mantan bankir syariah di Lampung)

Kamis, 25 Oktober 2012

Kami berkumpul di bawah pohon besar pangkalan angkot, Balio. Pukul 14.00 WIB kami meninggalkan Dramaga dengan kendaraan mesin beroda dua. Aku dibonceng  Evan, sedangkan Joni dibonceng Budi. Perjalanan cukup lancar. Kami berhenti sejenak di Masjid At Taawun, Puncak, untuk solat ashar. Lepas ashar kami kembali melanjutkan perjalanan.

Jalanan berkelok dan udara dingin menemani perjalanan kami sore itu. Kami berhenti sejenak sebelum memasuki Padalarang untuk berbuka puasa. Segelas es cincau sebagai pelepas dahaga dan beberapa jambu air (terasa asam bahkan kecut) yang dibeli Joni di pinggir jalanan Cianjur menjadi  hidangan berbuka (Jon, ikhlaskah engkau dengan jambu yang kau berikan? Hahahaha). Lepas solat maghrib yang dijamak dengan isya, kami pun melanjutkan perjalanan.

Tak disangka, perjalanan kami mesti terhenti sejenak. Macet total di kawasan keluar pintu tol Padalarang menjadi penyebabnya. Kira-kira 30 menit kami mesti bersabar menunggu hingga akhirnya perjalanan bisa dilanjutkan kembali. Tak hanya sekali kami diizinkan untuk berhenti sejenak, maka untuk kali kedua kami harus terjebak kemacetan. Kali ini macet lebih parah. Kami terhenti sekitar 1 jam di bawah fly over sebelum memasuki kota Cimahi.

Lepas Cimahi, kami memasuki kota Bandung. Jalanan lurus sepanjang By Pass Soekarno Hatta terasa membosankan untukku. Aku mulai mengantuk, pinggangku sakit, pantatku perih. Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat di salah satu pom bensin yang ada. Cuci muka, meregangkan badan, dan menghilangkan dahaga menjadi aktivitas kami kala itu. Kulirik jam di HP, pukul 21.30 WIB. Berarti sudah 7,5 jam kami di perjalanan. Merasa diri ingin segera sampai rumah Evan, makan malam, beristirahat, dan memejamkan mata, akhirnya aku, Budi, dan Joni menanyakan hal yang sama, “Kira-kira berapa jam lagi sampai di rumahmu, Van?”. Evan pun angkat bicara, dengan elegan dia menyawab, “Hmm.. sekitar satu jam lagi, bro. Nanti makan malamnya dirumahku saja”. Jawaban Evan membuat kami sedikit tenang dan bersemangat kembali. Bayangan kasur empuk untuk berbaring dan meluruskan badan menari-nari di pikiranku. Kupikir hal serupa juga yang ada di dalam benak Joni dan Budi.

Satu jam terlewati. Tak ada tanda-tanda kami akan segera sampai. Aku baru sadar bahwa posisi kami saat itu berdekatan dengan pintu keluar tol Cileunyi. Evan telah membohongi kami. Kasur empuk batal dinikmati. Akhirnya karena kesal tak kunjung sampai, ditambah perut lapar karena sejak pagi belum diisi nasi, Budi menegur Evan agar kami berhenti untuk makan malam. Kami berhenti di warung tenda pinggir jalan. Seporsi pecel lele dan segelas teh hangat menjadi pilihan kami malam itu. Beruntungnya kami, pesanan kami merupakan empat porsi terakhir yang tersedia di warung tenda. Tepat pukul 22.30 kami memakan hidangan yang disuguhkan dengan lahap.

“Aku bilang satu jam lagi sampai supaya kalian tetap semangat…”, jawaban diplomatis Evan ketika kami minta konfirmasi atas pernyataan menyesatkan seorang dokter tanaman dari Garut itu. Melihat Evan dengan tampang memelas dan memasang jurus tatapan iba seperti kucing di film Shrek, kami pun maklum. Sungguh, sebenarnya aku tersentuh dengan upaya Evan agar kami tetap bersemangat melanjutkan perjalanan ke Garut.

Lepas pukul 23.00 WIB kami melanjutkan perjalanan. Aku sudah pasrah dengan sisa waktu perjalanan yang masih harus kami tempuh hingga benar-benar sampai di Garut. Saat itu aku hanya berpikir dan berdoa agar kami sampai di Garut dengan selamat.

Setelah melewati puluhan kelokan, tanjakan, dan turunan, serta melewati lingkar Nagrek yang fenomenal, akhirnya kami memasuki kota Garut. Hujan menyambut kami lewat tengah malam itu. Pukul 01.15 WIB kami bisa merasakan hangatnya rumah Evan. Pengalaman pertama bagiku, melakukan perjalanan 11 jam lebih naik motor dari Bogor ke Garut. What a wonderful trip… :-).

Jumat, 26 Oktober 2012

Pukul 04.30 kami terbangun. Bergegas ke masjid dekat rumah Evan untuk solat subuh. Dingin udara sangat terasa. Sekembalinya dari masjid, kami memutuskan untuk meringkuk kembali di bawah selimut. Kami hampir saja ketinggalan untuk solat sunah Idul Adha. Kami sampai ke masjid ketika takbir pertama solat Id diteriakkan imam. Ternyata solat Ied di desa kediaman Evan dimulai sangat pagi, pukul 06.00 WIB. Aku sempat mengutuk diriku jika saja aku gagal untuk ikut solat Ied pagi itu. Aku berpikir akan lengkap kemalanganku pagi itu: sudahlah perjalanan 11 jam lebih ke Garut, gagal pula solat Ied… Hahahaha.

Lepas solat, Evan kami berkunjung ke rumah ketua RT untuk lapor diri sebagai tamu. Aih, tenyata aturan 1×24 jam tamu wajib lapor, masih berlaku di sana (harap maklum karena desanya masih pelosok banget… huahahaha…).

Setelah pamit dari rumah pak RT, kami memutuskan untuk berkeliling desa. Desa tersebut berada di kaki Gunung Guntur. Tak jauh dari Gunung Guntur terdapat pula Gunung Putri. Tak mengherankan bila desa ini udara sangat dingin, sejuk, airnya adem… Dari Desa Evan pula, gunung Papandayan nampak berdiri kokoh. Sungguh pemandangan pedesaan yang sangat indah. What a wonderful world.

Sepulangnya dari keliling desa, kami menyantap masakan Ibu Evan. Masakan yang sangat lezat, karena pastinya dibuat dengan sepenuh hati. Tidak seperti jambu air masam yang Joni suguhkan ke kami… hahahaha. Pukul 08.00 WIB kami izin ke Ibu Evan untuk berjalan-jalan ke kota Garut. Evan menjadi pemandu wisata kami hari itu. Akhirnya pagi itu aku bisa berkeliling kota Garut. Sebenarnya ini adalah kali kedua aku ke Garut. Sebelumnya, pada April 2008 aku sempat ke Garut untuk menghadiri pernikahan Dama, teman kuliahku. Sangat disayangkan saat itu aku tak sempat berkeliling kota.

Setelah berkeliling kota, kami memutuskan menuju pusat kota: alun-alun kota Garut. Alun-alun kota Garut cukup luas. Terdapat sebuah lapangan utama dikelilingi Mesjid Raya, Gedung Pendopo dengan Babancong yang megah, serta beberapa kantor pemerintahan. Pola seperti ini merupakan tata kota yang jamak ditemui di sebagian besar kota di Pulau Jawa.Hal menarik yang kujumpai di alun-alun Garut yaitu paket hiburan andong untuk balita: domba difungsikan layaknya kuda.

Setelah mengambil beberapa foto, kami memutuskan menuju Masjid Raya Garut. Sebelum masuk masjid, kami sempat menyeruput es kelapa muda yang dijual di halaman masjid. Kami akhirnya beristirahat di pelataran masjid sembari menunggu datangnya waktu solat Jumat. Selepas solat Jumat yang khutbahnya disampaikan dalam bahasa sunda, kami memutuskan mencari makan siang di pasar dekat alun-alun kota. Empat porsi siomay bakso tahu menjadi pilihan kami, dengan tiga gelas jus buah sebagai pelepas dahaga. Berbeda dengan kami, Joni memilih untuk menyeruput es kelapa muda kembali. Siang itu aku tahu, Joni terobsesi dengan es kelapa muda….

Setelah puas jalan-jalan, kami kembali ke rumah Evan. Ibu Evan menyuguhkan makan siang berupa gulai kambing. Kurasa itu adalah daging kambing kurban. Gulainya sangat sedap, kami makan dengan lahap. Tanpa malu-malu kami menambah porsi makan kami siang itu…..Semoga saja Ibu Evan dan Iqbal (adik Evan) memaklumi kondisi kami… huahahaha.

Ibu Evan juga menyediakan buah tomat sebagai pencuci mulut. Evan makan dengan lahap, apalagi Budi yang sampai makan beberapa butir tomat. Sedangkan aku mencoba sekuat tenaga menghabiskan sebutir tomat saja. Sore itu aku jadi tahu, Budi terobsesi dengan buah dan sayuran.

Sore harinya kami memancing di kolam yang terletak di samping rumah Evan. Saat itu pula pertama kali kami berkenalan dengan Fitra, sepupu Evan berumur 6 tahun. Kurasa bocah cilik itu punya bakat untuk menjadi artis.

Kami menutup hari yang menyenangkan itu dengan memasak mie instan selepas isya. Lalu beristirahat dengan nyenyak…..

Sabtu, 27 Oktober 2012

Pukul 07.00 WIB kami meninggalkan kediaman Evan menuju Puncak Darajat, terletak di kawasan pegunungan yang menjadi daerah wisata di Garut. Pemandian air panas menjadi objek wisata utama di daerah tersebut. Tak hanya satu lokasi pemandian, di Darajat terdapat setidaknya 5 lokasi pemandian air panas dengan pengelola yang berbeda. Aku melihat bahwa wisata pemandian air panas yang ada dikelola dengan profesional. Hal ini jauh berbeda dengan pemandian air panas di kota asalku, Curup. Sepertinya pengelola wisata Suban Air Panas di Curup bisa belajar banyak dari pengola wisata di Darajat tersebut.

Tiket masuk seharga Rp. 15.000 mengantarkan kami masuk ke kolam pemandian air panas yang ada. Setelah puas berenang dan berendam selama 2 jam lebih, akhirnya kami memutuskan menyudahi aktivitas yang sangat menyenangkan tersebut. Selesai bilas dan berganti pakaian, kami dikejutkan dengan kabar hilangnya kunci motor milik Evan. Kami panik, terlebih lagi Evan. Bisa rumit urusan seperti ini. Setelah lama mencari di sekitar kolam, kunci motor Evan tak kunjung ditemukan. Ternyata eh ternyata, kunci motor Evan masih tertancap manis di lobang kunci dekat jok…#sujud syukur.

Untung saja tidak ada orang yang tahu kecerobohan fatal tersebut. Kalau saja ada yang tahu, lalu motor Evan di bawa kabur, bisa kubayangkan bahwa Evan akan menangis histeris lalu teriak tidak jelas sambil koprol dan ngegelinding dari Puncak Darajat hingga sampai ke rumahnya di kaki Gunung Guntur… Huahahaha.

Pukul 10.00 kami meninggalkan Puncak Darajat dan bergegas menuju kawasan wisata selanjutnya: Kawah Kamojang. Perjalanan menuju lokasi kawah Kamojang tak kalah menariknya dengan perjalanan ke Puncak Darajat. Jalanan menanjak dengan sisi kiri berupa jurang menjadi daya tarik perjalanan kami. Ketika menjumpai jalanan menurun, Joni berteriak kencang untuk melepaskan semua kepenatannya. Hamparan pegunungan dengan pepohonan hijau turut menyertai keceriaan kami hari itu..

Sebelum sampai di kawasan kawah Kamojang, kami sempat berhenti untuk berfoto di depan tugu dekat perkantoran Pertamina. Kami sempat diteriaki “kakara nya’…”oleh pengendara motor yang lewat, yang sepertinya penduduk asli kawasan tersebut. Kami yang tak bisa berbahasa sunda menanyakan artinya kepada Evan. Setelah mendapatkan penjelasan dari Evan, barulah kami mengerti maksud teriakan pengendara motor tersebut. Biasalah, kalau orang keren dimana-mana pasti selalu menjadi pusat perhatian. Huahahahah.. (Evan, tak perlulah kau jelaskan lagi arti Kakara nya’… itu, bisa tambah perih hati ini).

Kami tiba di pintu masuk kawasan kawah Kamojang sekitar pukul 11.30 WIB. Setelah membeli tiket, kami  bergegas masuk ke kawasan kawah yang secara administratif berada di daerah Bandung. Pengunjung di kawah cukup ramai, terlihat cukup banyak wisatawan domestik berkulit kuning langsat dan bermata sipit yang datang bersama keluarga mereka. Kawah di kawasan ini terpencar di beberapa lokasi. Ukuran kawahnya kecil-kecil. Bau belerang memenuhi rongga penciuman kami siang itu…

Pukul 13.00, langit mulai gelap. Kami bergegas meninggalkan kawah Kamojang dan memprediksi bahwa akan segera turun hujan. Dugaan kami tepat, di tengah perjalanan pulang, hujan turun amat deras. Kami memutuskan untuk berteduh di depan sebuah warung kecil yang sedang tutup hari itu. Cukup lama kami  dan beberapa orang lain yang berteduh menunggu hujan reda. Saat hujan deras itu pula, tanpa malu-malu Joni bernyanyi cukup kencang (naluri keartisannya muncul). Hal tersebut sepertinya membuat beberapa orang yang berteduh ilfeel dan perlahan menjauhi kami… huahaha.

Saat hujan mulai reda, kami segera menuju masjid yang dibangun oleh Pertamina, tak jauh dari tempat kami berteduh tadi. Selesai solat dzuhur kami melanjutkan perjalanan pulang. Di perjalanan pulang, kami sempat berhenti lagi untuk berteduh karena diguyur hujan yang sangat deras. Pondok bambu di pinggir jalan menjadi pilihan kami untuk berlindung.

Kami tiba di rumah Evan menjelang ashar. Badan yang letih dan kedinginan akibat guyuran hujan, menjadi alasan kami untuk segera beristirahat. Malam harinya kami sempat menyaksikan acara di salah satu televisi swasta. Momen itu menjadi kali pertama untuk kami secara bersama-sama mendengar ungkapan “cetar membahana…”.

Minggu, 28 Oktober 2012

Bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda, kami memutuskan untuk menyudahi perjalanan kami di Garut (apa hubungannya ya?  hahaha). Sebelum pulang, kami berpamitan dengan keluarga Evan (dan berharap masih bisa diterima bila kami berkunjung lagi ke Garut). Pukul 06.00 WIB kami meninggalkan Garut menuju Bogor. Cuaca sangat cerah. Kami melewati jalan lingkar Nagrek yang menanjak. Jujur, aku sangat terkesan dengan jalan lingkar Nagrek yang begitu hebat menurutku. Kami melewati jalanan yang dibuat menembus gunung. Saat melewati jalur yang menyerupai terowongan tersebut, aku merasa tidak berada di pelosok Garut. Aku merasa berada di jalanan luar negeri atau jalanan masa depan yang amat canggih (huahaha ketahuan katrok).

Perjalanan pulang ini terasa lebih santai. Evan tak henti-hentinya bernyanyi, berusaha mengeluarkan suara terbaik yang ia punya. Berbagai judul lagu ia lantunkan, mulai lagu pop romantis hingga lagu anak-anak saat ia kecil . Pagi itu aku tahu, Evan terobsesi menjadi penyanyi :-).

Kami sempat berhenti di pom bensin di daerah Padalarang untuk istirahat sejenak dan solat dhuha. Bekal dodol yang dibawakan Ibu Evan tak bosan kami cicipi, walaupun satu stoples dodol kacang merah di rumah Evan telah kami habiskan tanpa ragu-ragu apalagi malu-malu. Sebelum memasuki Cianjur, kami beristirahat kembali dan melepas dahaga dengan minum es cincau.

Perjalanan kami lanjutkan kembali. Kami akhirnya memutuskan istirahat siang di daerah Cisarua, setelah sebelumnya gagal berhenti di Masjid At Taawun karena terlalu ramai. Masjid di pasar Cisarua menjadi pilihan kami untuk solat dzuhur dan sejenak melepas lelah. Kami sempat menyantap bakso ditambah dorokdok yang dibawakan Ibu Evan. So Lekker….

Setelah kenyang, kami lanjutkan perjalanan. Bayangan kasur empuk di kamar kos, ditambah angin yang berhembus sepoi-sepoi membuat mataku berat. Semakin kuat aku berusaha menahan kantuk, semakin kuat pula keinginan kelopak mataku untuk menutup. Sadar dengan hal ini, Evan memberhentikan motor dan memutuskan istirahat di depan sebuah mini market yang ternyata sudah berada di dekat persimpangan masuk The Junggle. Ah, secepat itukah perjalanan dari Cisarua… Aku tersadar, jangan-jangan benar bahwa aku sudah sempat tertidur selama perjalanan. Maafkan aku, Evan… :-).

Akhirnya, sekitar pukul 14.00 WIB kami sampai dengan selamat di Dramaga. Tiba di kamar kos, aku langsung menghempaskan tubuh di atas kasur untuk tidur. Sore itu aku sadar, bahwa aku terobsesi dengan tidur setelah perjalanan yang melelahkan….

Iklan

17 thoughts on “Berkunjung ke Negeri Domba

    1. Luarr biasa Mas Dani.. saya sampe jadi bulan-bulan mereka karena itu perjalanan jauh pertama teman-teman naik motor.. Biasanya saya 6 jam naek motor Bogor – Garut.. karena macet malam takbiran jadilah 11 jam 😀

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s