Mencoba Belajar Ikhlas

Bicara ikhlas.. sepertinya gak akan jauh dari hati.. sebab ikhlas hanya datang dari hati dan tak dapat terukur oleh orang lain, sebab hanya dialah dan Tuhan yang tahu.

lagi-belajar-ikhlas

Sumber gambar pinjam dari sini


Obrolan di #lingkaran_inspiratif semalam yang membahas ikhlas, sepertinya cukup membuat saya sadar bahwa ikhlas tidak hanya sekadar terucap atau hanya berupa lintasan niat saja tapi ikhlas juga merupakan proses dan perlu paksaan. Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana jika melakukan suatu tindakan untuk mendapat reward?? Kesimpulan yang saya tangkap semalam sih membolehkan, jika reward tersebut hanya datang dari Allah.. misal sedekah sekian rupiah untuk mendapat ganti yang berlipat sekian rupiah (emh.. kalau saya salah tolong diingetin ya,hehehe.)

Kata Abang saya yang pernah mondok,, ikhlas itu ada 3 tingkatan:

1. Ikhlas seorang budak : dia ikhlas berbuat untuk mendapat reward dari majikannya dan takut akan hukuman

2. Ikhlas seorang pembisnis: dia akan ikhlas dengan penuh perhitungan

3. Ikhlas seseorang yang bersyukur: dia akan ikhlas karena semata-mata untuk mendapat ridho Allah.

Si Abang mencontohkan saat Aisyah yang melihat kaki Rasulullah SAW yang bengkak karena sholat malam dan bertanya kenapa Rasul masih melaksanakan sholat malam padahal sudah dijamin masuk surga, dan Rasul menjawab beliau melaksanakan hal tersebut untuk bersyukur. Ikhlas seperti inilah yang merupakan tingkatan tertinggi dari ikhlas.

Ada satu analogi yang sedikit (maaf pinjem kata2 si Teteh) “cetarr membahana badai halinlintar” dari Abang saya yang lain, yang membuat riuh gelak tawa malam ini. Si Abang bilang ikhlas saat memberi dapat diibaratkan buang air besar,, dimana saat dikeluarkan, kita lega, dan kemudian  lupa begitu saja. Wkwkwkwk…

Ikhlas tidak hanya saat memberi tapi juga saat menerima, entah itu sebuah amanah  maupun takdir yang telah ditetapkan.

Emm.. salah satu indikator ikhlas saat beribadah adalah dimana saat ada atau tidak ada orang intensitas ibadah kita sama, tidak ada bedanya. Artinya tidak ada sedikitpun sifat riya yang muncul saat ada orang lain.

Wallohu’alam…

jika ada kesalahan semata-mata karena kekurangan saya aja menyampaikan ulang obrolan semalam.

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s