Perbaikan respon tanaman pada kondisi cekaman kekeringan dengan penggunaan Trichoderma

Sudah bukan rahasia lagi jika tanaman memerlukan air bagi kelangsungan hidupnya. Namun, tidak semua daerah memiliki kondisi pengairan yang baik, khususnya untuk daerah yang tidak terdapat pengairan irigasi (kering) atau dengan kata lain hanya sekedar lahan tadah hujan, yang mengandalkan datangnya hujan saja untuk budidaya tanaman. Baik pada daerah yang memang tidak ada jalur irigasi atau pada saat musim kemarau. Kekeringan merupakan faktor pembatas penting bagi produksi tanaman yang akan mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan, dan hasil tanaman. Sementara itu, tanaman umumnya memiliki kemampuan terbatas untuk mengatasi perubahan lingkungan.

Akan tetapi ternyata beberapa interaksi spesies mikroba diduga berkontribusi pada respon tanaman terhadap lingkungan kering, sebagai contoh banyak tanaman membentuk simbiosis dengan organisme lain, termasuk cendawan mikoriza, bakteri fiksasi nitrogen, dan cendawan endofit (Rudgers and Swafford 2007).
Coba anda bayangkan rerumputan atau tanaman liar yang tidak secara dirawat oleh manusia dan di lingkungan yang kering ternyata mampu tumbuh dengan baik. Hal ini ternyata adanya mikroorganisme endofit (mikroorganisme yang ada dalam jaringan tanaman) yang dapat mengubah respon terhadap kekeringan dengan menghindari cekaman melalui 1) adaptasi morfologi, 2) adaptasi fisiologi, 3) adaptasi biokimia, 4) meningkatkan pemulihan terhadap kekeringan (Bae et al. 2009).

Lalu bagaimana dengan endofit pada tanaman yang dibudayakan ??

Beberapa spesies Trichoderma telah dilaporkan mampu memperbaiki respon tanaman terhadap cekaman kekeringan, seperti adanya pengaruh pada panjang tajuk dan akar dari padi (Shukla et al. 2012), hipokotil yang lebih tinggi, berkurangnya kelayuan pada persemaian kakao setelah diberi perlakuan Trichoderma hamatum DIS 219b (Bae et al. 2009), dan peningkatanpersentase perkecambahan dan pertumbuhan pada gandum dan tomat (Hubbard et al. 2012; Mastouri et al. 2010) pada kondisi cekaman kekeringan. Selain itu, penurunan laju fotosintesis, konduktansi stomata, dan peroksidase yang diakibatkan oleh cekaman kekeringan dapat ditekan dengan perlakuan Trichoderma (Bae et al. 2009; Shukla et al. 2012). Pada pengujian pola ekspresi gen yang dianalisis menggunakan primer baru terhadap respon kekeringan ESTs (expressed sequence tags) menunjukkan adanya ekspresi yang sama antara perlakuan tanaman pada kondisi normal (tanpa cekaman kekeringan) dengan tanaman yang diberi perlakuan Trichoderma pada kondisi cekaman kekeringan (Bae et al. 2009).

Trichoderma-Placa

Penjelasan simpelnya bahwa Trichoderma yang mengkoloni tanaman dapat meningkatkan pertumbuhan akar yang menghasilkan perbaikan pengambilan air dan meningkatkan kadar air, sehingga respon terhadap kekeringan dapat diperbaiki.

Bagi saya yang belajar penyakit tanaman, selama ini baru mengetahui mekanisme Trichoderma sebagai mikroorganisme antagonis yang dapat digunakan untuk mengendalikan patogen penyakit tanaman. Namun, ternyata ada fungsi ganda dimana Trichoderma dapat pula memperbaiki respon tanaman pada saat kekeringan. Semoga bermanfaat.

Referensi:

Bae H, Sicher RC, Kim MS, Kim SH, Strem MD, Melnick RL, Bailey BA. 2009 The Beneficial Endophyte Trichoderma hamatum Isolate DIS 219b Promotes Growth and Delay the Onset of the Drought Response in Theobroma Cacao. Journal of Experimental Botany. 60 (11): 3279-3295.

Hubbard, M, Germida J, Vujanovic V. 2012. Fungal endophytes improve wheat seed germination under heat and drought stress. Botany. 90: 137-149. Mastouri F, Bjorkman T, Harman GE. 2010. Seed treatment with Trichoderma harzianum alleviates biotic, abiotik, and physiological stresses in germinating seeds and seedlings. Phytophatology. 100 (11): 1213-1221.

Rudgers JA, Swafford AL. 2007. Benefit of a Fungal Endophyte in Elimus virginicus Decline Under Drought Stress. Basic and Ecology. in press.

Shukla N, Awasthi RP, Rawat L, Kumar J. 2012. Biochemical and Physiological Responses of Rice (Oryza savita L.) as Influenced by Trichoderma harzianum Under Drought Stress. Plant Physiology and Biochemistry. 54: 78-88.

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s