KENANGAN HUJAN DI KOTA HUJAN

Sinopsis dan Ide cerita : Mega

Pengembangan cerita : Saya

Menjejakkan kaki di salah satu kampus terbaik di Indonesia cukup membanggakan buat Annisa. Bukan karena kampus nya bukan yang terbaik, tapi melihat sisi terbaik dari kampus lain adalah hal yang luar biasa. Terlebih, Annisa merasa beruntung mendapatkan kenangan hujan di kota hujan, Bogor!!

“Benarkah?” tanyaku.

“tentu saja” jawab Annisa, kemudian cekikikan.

Tangannya mengatupkan tawanya yang kian melebar dan menampilkan giginya yang putih dan tertata dengan rapi.

Annisa itu adalah teman on-line lalu kemudian terjadi pertemuan. Aku sendiri tidak menyangka akan kembali menemuinya setelah bertahun-tahun, sejak pertemuan pertama 5 tahun lalu. Ada saja topik yang selalu nyambung diantara kami, entah itu tentang sastra, masakan, maupun hal remeh temeh yang terkadang menimbulkan kelucuan diantara kami. Dari situ lah persahabatan kami semakin hari terjalin.

Sisa tawa Annisa masih mengembang, mengingat kembali awal-awal pertemuan kami yang memang sedikit aneh, di mana sebelumnya kami dikenalkan seorang teman, kemudian berlanjut ke sms, dan bertemu. Bertemu dengan cara tidak lazim, di mana kami hanya mencuri-curi pandang mencoba menebak identitas masing-masing tanpa bertegur sapa atau saling mendekat, sebab sebelumnya memang belum pernah kenal meski lewat foto. Namun, justru diawali dengan pertemuan kurang lazim itu akhirnya berlanjut melalui dunia maya.

“Lalu gimana ceritanya Nis?” desakku penasaran

Annisa menarik nafas panjang,, kemudian mengalirlah cerita kenangan hujan-nya itu.

***

“Hei… hei..!! ”

Suara sepatu yang berjingkat-jingkat di aspal terdengar berdecik saat menginjak genangan air, tapi orang yang dipanggil masih saja cuek.

“Hey.. payungin dong” pintaku dengan posisi kedua telapak tangan di atas kepala.

Jilbab putih yang ku kenakan telah basah oleh gerimis yang mulai deras. Ia memandangku dengan tatapan aneh. Entah bingung, entah kaget. Tampak ingin mengatakan sesuatu tapi tertahan.

“Oh..” akhirnya hanya itu yang kemudian keluar dari mulutnya. Sementara itu, ia masih tertegun memakai payung itu sendirian, kemudian berjalan tergesa meninggalkanku.

“Heeeyy..” panggilku. Sia-sia. Kenapa dia?? Apa salahnya dia pinjami aku payung. Sepanjang perjalanan aku tak habis pikir sama pria tadi, bisa-bisanya cuek begitu. Oooh pantas.. hari jum’at, siang ini harus sholat jum’at kan? Sudahlah.. mungkin ia telat ke masjid.

Satu jam kemudian gerimis masih turun, namun tidak terlalu deras, tapi juga tidak dapat ditembus dengan tanpa pelindung badan, bajuku hampir basah, dan ku putuskan untuk bernaung. Hey, itu bukannya pria tadi!! ia pulang sholat jum’at tanpa payung di tangannya. Mungkinkah karma, lalu payungnya hilang, pikirku. Tapi sejujurnya aku tak sekalipun berpikir untuk merasa senang ketika payungnya hilang. Melihatnya basah, telah mengikis kesalku atas penolakannya tadi.

***

Setiap peristiwa akan menjadi kenangan tersendiri bagi yang mengalaminya, bukan?. Setelah mengalami peristiwa penolakan payung 2 tahun yang lalu, aku harus kembali terdampar di kota hujan ini. Di kampus ini. Dan dalam kondisi hujan. Hujan adalah sebagian rahmat dari sang pencipta untuk menggantikan kegersangan kemarau dengan kedamaian yang tercipta dari tanah basah, sisa embun yang bergelayut di tepi daun, kesejukkan, dan lukisan pelangi yang tergambar meronai langit. Hujan pula yang mengingatkan aku akan pria itu. Sebenarnya bukan SKSD begitu saja, aku meminta dipayungi, toh aku dan pria itu sudah saling mengenal, meski tidak terlalu dekat.

Senja di Darmaga masih basah oleh curahan air dari langit. Aku mencari pria itu di sepanjang jalan yang pernah aku lewati saat peristiwa itu. Kemudian, aku menemukannya di sela-sela rinai hujan. Aku mengucap syukur,, sungguh aku bahagia melihatnya. Tanpa disadari pandanganku mengikuti langkahnya, penampilannya yang terlihat santun dan matanya meneduhkan, semuanya telah terpaut dengan hatiku.

Mencoba menata hati aku berjalan menghampirinya, tapi sesaat saja kebahagian itu terampas menjadi kesedihan sebab setelah menemukannya, ia bersikap tidak mengenaliku. Guratan kekecewaan tampak jelas di wajahku, ada rasa sesak yang ingin segera dibebaskan. Ingin menangis, pria itu telah menghujani hatiku.

***

“Begitulah ceritanya” Annisa menghembuskan nafasnya.

“Ok, sekarang gantian kamu yang cerita” sambungnya.

Aku gelagapan, apa yang mesti aku ceritakan.

“Gak ada yang menarik Nis dengan ceritaku” kilahku.

“Ayolah” paksanya.

Aku mengenal calon istriku belum lama, baru 3 bulan, itupun dikenalkan Ibu yang memang telah mendesakku sejak lama untuk segera menikah. Untuk mendapat restu mengambil program master, aku harus mengikuti syarat Ibu untuk menikah dulu.

“Benarkah?” tanya Annisa sedikit terkejut.

“Benar. Tapi aku yakin memang dia adalah wanita yang selalu aku impikan untuk menjadi istriku”

Annisa terkekeh. “Baiklah aku harap kamu dan calon istri kamu bisa datang ya. Mungkin setelah kita telah menikah dengan pasangan masing-masing, sepertinya kita tidak akan bisa sedekat ini lagi, tapi aku harap kita akan selalu berteman”

“Tentu saja” jawabku.

Annisa kemudian pamit dan memberikan sehelai kartu undangan pernikahannya dengan pria yang ia temukan disaat hujan. Ternyata hujan tidak hanya membawa berkah, tapi hujan juga membawa jodoh untuknya.

TAMAT

Iklan

2 comments

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s