Karena saya bukan PENGEMIS!!!

Artikel ini dikisahkan oleh kakak kelas saya waktu S1 di Unseod, Kang Habri yang dia ambil dari cerita pengalaman temannya.. Dengan mengantongi izin dari sang penulis asli.. saya coba share di sini. semoga bisa mengambil hikmah dari kisah nyata berikut:

Saya dapat cerita dari teman di sukabumi, entah lokasi tepatnya, alamatnya nama desanya apalagi rt/rwnya yang saya tau kini dia di sukabumi disebuah kota panas, tinggal disebuah desa yang berdasarkan cerita beliau ketika kita akan kerumahnya harus melewati sebuah komplek perumahan lumayan mewah, katanya tempat menyimpan uang2 haram penduduk kota jakarta, komplek yang dipenuhi rumah mewah namun antara rumah satu dengan yang lainnya ibarat tetangga antar negara, tak saling kenal dan tak saling peduli, ada 4 orang yang terkenal di tempat itu mulai dari yang memiliki jabatan paling tertinggi,  yaitu pa RT, karna jika ada masalah di lingkungan komplek jelaslah pak RT orang terdepan yang  menjadi pahlawan siap mengamankan wilayahnya, agak kebawah sedikit tukang warung yang memang satu-satunya warung cukup besar d sana siap menyediakan kebutuhan masyarakat komplek, selanjutnya adalah kepala keamanan yang setiap sore menggunakan pakaian putih, siap mengamankan komplek.

Jika waktu malam tiba pak satpam bersama pasukannya keliling demi keamanan komplek, terakhir adalah ibu-ibu dengan dandanan dekil setiap hari jum’at, rabu dan minggu, keliling komplek untuk meminta uang pada masyarakat komplek, kadang ia bawa anak kadang tidak, tapi klo sudah meminta kerjanya adalah mengetuk-ngetuk pintu pagar klo orang belum keluar rumah si ibu tidak akan pergi, jika pemilik rumah tidak mengeluarkan uang si ibu mencibir, pelit katanya….

Kembali ke desa teman saya berada, desa yang jalannya terisolasi oleh keberadaaan komplek, ada sebenarnya jalan lain menuju jalan besar tanpa melewati komplek tapi semakin jauh dan becek, di desa itu ada sebuah keluarga seorang janda beranak 3, anak laki-laki pertama menjadi tulang punggung keluarga bersama ibunya. Jika pagi datang sang ibu pergi ke beberapa rumah di komplek menawarkan untuk membantu mencuci baju, cucian baju ibu bawa dari komplek dan di cuci di rumah, jika sudah kering dan di setrika barulah cucian itu dikembalikan pada pemiliknya, setelah itu barulah sang ibu mendapat uang upah jeri payahnya untuk makan anak-anak, dan sekolah  anak ke dua dan ke tiganya yang masih duduk di kelas 1 dan 4 SD, orang-orang komplek kenal profesi ini dengan sebutan sang pencuci baju keliling, anak laki-laki pertama membantu ibu dengan menjadi tukang semir di pasar, umurnya sudah dianggap cukup bisa membantu ibu mencari uang, keinginannya untuk meneruskan sekolah ke SMP pupus sudah ditelan kebutuhan keluarganya untuk bertahan hidup, cukuplah baginya semangat adik-adiknya besekolah, apalagi jika bagi raport tiba, selama ini sang kakak  mendapatkan laporan yang cukup memuaskan dari ade-adenya begitu jga sang ibu.

Pgi itu ketika para adik berangkat cukup pagi ke sekolah sang ibu tak seperti biasanya, pergi ke komplek menemui beberapa pelanggannya lalu kembali kerumah dengan membawa baju cucian milik orang-orang komplek yang nitp untuk di cucikan, pagi itu ibu hanya bebaring di dipan tuanya, mukanya tampak pucat badannya panas dan batuk keluar dari mulutnya, sang anak pertama begitu mengkhawatirkan keadaan ibunya, ingin rasanya membawa ibu ke rumah sakit terdekat atau minimal puskesmas, tapi sang anak tak berdaya dia bingung dengan biaya yang nanti harus ia keluarkan, setelah menyiapkan makanan seadanya untuk ibunya iapun berpamitan untuk pergi ke pasar berharap ada rezeki yang ia dapatkan untuk kebutuhan pengobatan ibunya, seminggu sudah suasana seperti itu terjadi, sang ibu hanya diberi obat generik yang di beli di apotek uang hasil semir sepatu anaknya, suatu hari sepulang dari menyemir sepatu di pasar sang anak dengan wajah tersenyum pulang ke rumahnya, sang anak sangat senang karna hari ini banyak sekali pria2 kantoran yang menyemirkan sepatu mereka padanya, tak sedikit yang memberikan bayaran lebih, namun setibanya di rumah sang anak terkejut ia tidak menemukan kedua adiknya yang biasanya menyambutnya pulang dan meminta dimasakkan nasi, ia juga tak menemukan ibunya di kamar, bukankah ibu sedang sakit, mungkin ibu keluar rumah berjalan-jalan dengan adik-adiknya pikirnya mencoba membuat sedikit kecemasannya hilang , sepertinya hal itu tidak terjadi jangankan untuk berjalan-jalan, bangkit dari tempat tidur saja sangat susah, akhirnya sang anak berkeliling mencari ibu dan adik-adiknya, ia berkeliling kampung dan komplek hingga malam sesekali ia kembali ke rumah berharap adik dan ibunya sudah kembali kerumah, pukul 20.00 sang anak kembali ke rumahnya, tiba-tiba pria asing (teman ane dg temannya ) datang kerumah, sang anak kebingungan siapa gerangan, akhirnya pria asing itu bercerita, ternyata adik dan ibu sang anak saat ini berada di rumah sakit, pria asing itu adalah orang yang baru saja pindah dari sebuah kota cianjur ke sukabumi, karna sibuk pria itu menjadi langganan sang ibu untuk mencuci bajunya, bermula dari kebingungannya kenapa sudah 1 minggu ini sang pencuci bajunya tidak juga datang, akhirnya ia berinisiatif mencari sang ibu sampai ke rumahnya, kebetulan kerjapun sedang libur, setibanya di rumah sang ibu, pria itu menemukan dua anak dengan wajah yang sedih dan sang ibu yang tergeletak lemah di kamarnya, tanpa pikir panjang akhirnya pria itu membawa sang ibu ke ruamah sakit, sayang cerita ini tidak berakhir bahagia seperti di film-film, sang ibu didiagnosa mengalami serangan kangker (ga jelas kangker apa), sudah sangat lama dan mencapai stadium puncak, karna semangatnya bekerja demi sang anak ibu itupun tidak pernah mengeluhkan penyakitnya, dan akhirnya Nopember 2011 beliau bepulang, sang anak kini menjadi anak asuh sang pria asing (temennya temen ane), hebat ktanya baru nikah sudah punya 3 anak, yang satu sudah smp lagi hehehehe. Ketika anak yang paling besar ditanya kenapa dia tidak menceritakan tentang ibunya yang sakit ke tetangganya, atau Rt di tempatnya, dia bilang itu adalah pesan ibu, ibu bilang bahwa kami bukanlah pengemis, tak ada alasan meminta tanpa membalas budi, lebih baik hidup dengan kelaparan daripada hidup dengan kehinaan di mata Allah, anak itupun melanjutkan bahwa dia tidak ingin mengeluh di depan orang lain, biarlah saya bekerja daripada saya terus mengeluh, jika yang saya dapatkan masih kurang maka saya siap mengerahkan kemampuan saya untuk mencukupi kekurangan yang saya dapatkan….. kepada sahabatku (yang tak mau disebutkan J )bisa jadi yang kau dapat kan bukanlah seorang anak yatim piatu tapi seorang saudara yang bisa membawamu ke jalan Allah.

Iklan

One thought on “Karena saya bukan PENGEMIS!!!

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s