KOSONG!!! (Part 1)

Gua Galang..!!

Satu-satunya yang gua benci adalah menerima orang asing yang tiba-tiba muncul di kehidupan gua. Benci karena gua belum siap menerima kehadirannya. Setelah tiga tahun bokap meninggal, terlintas dalam pikiran gua, nyokap pasti akan nikah lagi. Dia masih muda, gak mungkin harus menyendiri dan gua gak akan bisa merawat nya,, setidaknya gua tenang tinggal jauh dari nyokap.

Gua kira mudah menerima orang yang akan jadi suami nyokap, ternyata gua bisa bilang dengan tegas bahwa TIDAK MUDAH.

Sumpah gua stress!! Satu sisi gua pengen nyokap gua bahagia, tapi disisi lain gua gak bisa nerima pengganti bokap gua.

Suatu hari nyokap ngenalin calon suaminya.

DAMN!!

Ada kecemburuan di hati gua, tapi gua tutupin.

Hingga akhirnya nyokap izin buat nikah lagi. Speachless gua. Tanpa bisa apa2 gua mengizinkan.

Hari pernikahan tiba.. Gua sedih. Inget bokap!

Arrrggghhh,.. gua pengen lenyap dari Bumi.

Saat ijab qabul tiba gua berdiam di kamar, tapi sial tante gua datang.

Gua gak mau keluar!!

Sekali lagi tante gua datang, nyokap cari gua.

Akhirnya gua keluar.

Itu calon suami nyokap! Gua membuang muka..

Gua menjadi saksi pernikahan nyokap gua.. sakit!

Lepas ijab nyokap memeluk gua dan menangis, what the hell???

Kenapa, Ma?? Nyesel nikah?? atau merasa bersalah ke gua??

Gua tahu nyokap dilematis besar untuk pernikahan ini, apalagi gua sempat protes keras tengah malam sama pernikahannya dan mengancam tidak akan hadir.

Gua Galang!!

Gua benci harus memilih membuat nyokap gua bahagia atau membiarkan gua sakit hati.

Gua benci sama suami nyokap, karena ia tidak seperti bokap gua.

Gua benci karena ia muncul tiba-tiba, tanpa pernah memberi waktu gua untuk menerima kehadirannya.

Gua benci semua kekurangannya.. meski gua sempat berharap dia akan memberikan kehangatan seorang ayah dalam hidup gua yang sebelumnya telah Tuhan ambil dari sosok bokap gua. Meski hati gua sempat tersentuh dengan apa yang dia perbuat.

Tapi sampai detik ini, gua belum bisa menerima dan membuka hati untuk kehadiran dia di rumah gua.

Gua gak ngerti akhir cerita akan seperti apa. Gua anggap dia adalah suami nyokap, bukan bokap gua. Hormat gua buat dia sebatas dia suami nyokap, bukan bokap gua.

Gua…

Galang..

Darmaga, 10 Desember 2001

Iklan

14 comments

  1. semua peristiwa pasti ada hikmahnya Man
    alangkah bijaksananya mengorbankan sedikit rasa sakit hati untuk kebahagiaan ibunda yang telah melahirkan dan membesarkan

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s