Episode empatbelas : Akhirnya..

“Ndang..”

Pemilik nama itu menoleh dengan senyuman terkembang dari bibirnya.

“Maafin aku yah..”

Rindang menghela nafas,, “sudahlah kak.. waktu sudah berjalan 1 tahun, sudah tidak ada perasaan diantara kita..”

Denova menganggukan kepalanya. Matanya lekat memandang Rindang yang sekarang telah jauh berubah dari sifat manjanya. Rupanya waktu telah mengobati luka Rindang, pikir Denova.

“Kuliah kakak lancar?”

Den mengalihkan pandangannya dari Rindang, ia terlihat kikuk.

“Yah.. begitulah.. besok aku berangkat ke bogor. Do’akan aku yah..”

Hening.

“Aku pamit pulang..” Den memecahkan suasana yang membeku. Sebelum ia masuk ke mobil MARCH silver-nya, ia melambaikan tangan pada Rindang.

Sayang sekali, Kak.. Rindang menyeka ujung matanya dengan sapu tangan.

***

“Ibu Dimitri Evarelia??” tanyaku pada seorang gadis muda di depanku.

“Benar. Anda Evan Aditya..”

Kami berjabat tangan. Luar biasa.. aku nilai gadis ini mempunyai IQ yang sangat melebihi rata-rata. Bayangkan…!!! penelitian tesisku disponsori oleh gadis ini. Gadis yang umurnya lebih muda lima tahun dariku. Sulit dipercaya!!! Aku harus memanggilnya Ibu, supaya terkesan lebih profesional.

“Topik penelitian apa yang akan anda ambil??” ia mengajakku duduk di lobi perpus. Kami sedang berada di kampusku.

“Seleksi Ketahanan Galur-Galur Padi Tipe Super terhadap Penyakit Tungro” semua metode telah aku jelaskan untuk keberhasilan penelitian ini yang nanti akan mendukung proyek besarnya untuk menciptakan varietas super unggul, padi dengan musim panen 2 bulan sekali.

Kulihat matanya membulat, ia terkesan dengan materi penelitian yang aku ajukan. Aku suka dengan gaya bicara dan penampilannya. Tapi, sejenius apapun dia tetaplah seorang gadis berumur 18 tahun. Lebih pantas jadi adikku atau.. ah.. sudahlah..

***

Satu tahun lalu..

“Mas harap masih ada kesempatan, Dim..”

Bagas. Matanya nanar memandang bayangan Dimi di teras rumah Ainin.

“Besok mas harus kembali ke Papua..tapi jika kamu mau mas bisa pindah ke sini ”

Ia kemudian memandang wajah Dimi yang berkilau disepuh cahaya senja. Dimi masih tanpa ekspresi. Pandangannya tertunduk pada meja..

“Hmm..” ia menarik nafas.. “Mas.. sudah Dimi bilang sebelumnya.. Sekarang mas Bagas benar-benar Dimi anggap kakak Dimi sendiri, ga ada perasaan lainnya ”

Sekali lagi.. guratan kekecewaan tampak di wajah Bagas.. mata elangnya menguncup.. sayu..

***

Dimi sering mengunjungi kebun percobaan Cikabayan.. sebuah kebun percobaan milik Institut Pertanian di Bogor, kampusku. Sebagai Bos, penyandang dana penelitianku, Dimi malah lebih supel dari yang ku kira sebelumnya. Kini kami tidak seformal awal bertemu jika mengobrol.

 “Aaoooooowww.. “ jerit Dimi..

“ada apa?” tanyaku panik.

Ia menubrukku dan menyusup di dadaku..

“ada ulat di bahuku..” ia terisak.

Benar kataku, bagaimanapun ia masih berumur 18 tahun, masih terbilang remaja, masih belum dewasa, meski sekali lagi aku katakan, ia jenius.

“Sudah..” kataku

Isaknya berubah menjadi tawa.. ia tersipu malu saat melepaskan dekapannya..

“Maaf..” ia menyeka air mata disela tawanya.. pipinya yang kemerahan membuat rasa serrrr.. muncul di dadaku.

***

“Huuuu…” terdengar riuh di kelas. Selepas perkuliahan Den, keluar dengan malas. Ia meninggalkan ruang kelasnya di departemen teknik sipil dan lingkungan, Fakultas Teknik Pertanian. Saat akan menuju parkiran, ia melihat sosok yang dikenalnya. Dimitri.

Benar!! Dimitri. Sedang apa dia dikampusku, gumam Den. Siapa laki-laki itu?

 ***

Rasanya ada yang mengikuti kita, bisikku pada Dimi. Akhirnya aku bisa bebas memanggil bosku ini dengan panggilan namanya, dan dia memanggilku Kakak. Aku dan Dimi mempercepat langkah, memotong jalan dari Fakultas Teknik Pertanian lewat selasar departemen gizi, fakultas ekologi manusia.

“Dimi tunggu” cegahnya saat kami akan memasuki lab klinik tanaman.

Dimi berbalik.. Den..

***

Terlalu rumit aku memahami hubungan Dimi dan Denova. Sembari mengamati tingkat keparahan penyakit padi, Dimi menceritakan semuanya. Tentang sebuah lukisan cendrawasih, halte bus, Rindang, dan Bagas.

Meski umurku lebih dewasa dari Dimi. Jujur untuk masalah cinta, pengalamanku masih nol. Hanya saya aku merasa lain jika dekat Dimi.. perempuan yang baru-baru ini dekat denganku.

“Kak Evan..”

“Yaa..”

aku menghentikan pengamatanku, kemudian duduk disampingnya, membuka sepatu boot dan memasukkan kaki ke aliran air dipinggir petang.. dinginnya menyejukan. Sembari menikmati Gunung Salak di depan kami, aku pandangi wajah Dimi.

“Kenapa kakak liat aku seperti itu?” ia meninju bahuku pelan,

“bikin orang GR saja” tawanya kemudian lepas.. lalu terdiam.

“Rekan kerjaku di penelitian sebelumnya akan menikah, Damian. Bisa temanin aku kak?”

Aku melihat Dimi tidak percaya. Dia minta aku menemaninya??

“Damian itu kakaknya Denova” lirih

“Ooh” hanya itu yang keluar dari mulutku. Apa maksudnya mengajak aku ke nikahan kakaknya Denova. Hmm.. aku menata hatiku,

***

Denova masih bengong selepas akad nikah kakaknya, untunglah kali ini ia tidak berulah seperti sebelum-sebelumnya mengacaukan acara Damian.

Malam ini pun, di pesta pernikahan Damian, Den terlihat tak bahagia, ia mengingat percakapan kemarin di depan Lab Klintan bersama Dimi,

“ Kamu tampak lebih segar, Dim “

“Benarkah?”

“Aku masih terlalu suka sama kamu”

Lamunannya buyar, ketika tangannya disenggol Diana, kakaknya yang lain.

“Rindang datang juga tuh” bisik Diana

Den mendapati Rindang dengan gaun malam yang elegan. Ia memamerkan senyumnya, Den lihat tangan Rindang menggandeng seorang laki-laki yang seusia dengannya.

Rindang melihat Den yang tampak melamun malam ini, ia paksakan tersenyum hangat padanya, dan hatinya berbisik.. Aku belum mampu melupakanmu, Kak.. kemudian tangannya menggandeng laki-laki disampingnya menyembunyikan isi hatinya

***

Aku dan Dimi memasuki gedung pernikahan, nampak jelas status yang punya hajat. Sangat Mewah.

“Senang kamu bisa datang” ucap Damian saat Dimi menyalaminya.

“Ini pacarmu?” tanyanya pada Dimi saat menjabat tanganku.

Dimi hanya tersenyum, aku pun demikian.

“kamu Dimi..”

“Rindang..”

Kami bercakap-cakap bersama, kulihat antara Dimi dan Rindang sudah tidak ada masalah, apalagi kulihat Rindang datang dengan seorang laki-laki yang mungkin pacarnya.

Untuk kedua kalinya sebelum pulang, aku bertemu dengan Denova, ia menghampiri aku dan Dimi.

“Dim, aku mau bicara sama kamu”

“Iya ada apa?”

Den, melihat ke arahku.. aku mengerti..

“Dim, aku tunggu di mobil ya”

***

Dimi tergesa memasuki mobil, ia membanting pintu mobil dan menghempaskan tubuhnya ke jok.

“Jalan!” ucapnya garang

Aku menuruti permintaannya, tapi di tengah jalan….

“Aku gak bisa nerima Denova” suaranya pecah.. dan tangisnya meledak..

Ia menutup wajahnya ketika aku menepikan mobil dan mengelus kepalanya..

“kenapa” tanyaku..

Tak ada jawaban.. aku tanya sekali lagi.. hanya isak tangisnya yang mulai mereda..

***

Mobilku berhenti di pekarangan rumah Ainin.. aku keluar dan membukakan pintu mobil.. Mata Dimi masih memerah, tapi ia masih bisa tersenyum padaku. Rasanya plong melihat senyumnya, saat ia menangis tadi, rasanya aku jadi terbebani.

Sepertinya Ainin belum tidur, lampu ruang depan masih menyala.

Sesaat setelah pintu diketuk.. muncullah orang dari balik pintu. Bukan Ainin, tapi laki-laki. Wajah Dimi tambah sumringah melihatnya,

“Mas Bagas..” Dimi memeluknya dan mendaratlah kecupan di kening Dimi.

Remuk….

Tubuhku melemah, rupanya Dimi diam-diam setengah tahun telah membuka hatinya kembali buat Bagas.

SELESAI

“Cerita ini diikutkan Giveaway Suka-suka Dunia Pagi

Catatan :

  1. Mel akhirnya ending versi aku dah aku buat,, sengaja aku tambahkan tokoh diriku sendiri,hehee.. biar tambah meresapi alur cerita.
  2. Sebenernya diluar rencana klo endingnya si Dimi bakal jadinya sama Bagas, huhuu.. semoga tidak ada fans Denova yang kecewa.
  3. Maaf kalo kepanjangan dan banyak kekurangan disana sini soalnya juga masih belajar nulis,hehehe.. (saran n kritiknya ditunggu lho Mel)
  4. yang mau baca episode sebelumnya disini

12 thoughts on “Episode empatbelas : Akhirnya..

  1. suka dengan ide memunculkan diri sendiri di cerita :D, malah mel sempet berharap DImi jadian sama Evan aja.. xixixi

    Makasih dah ikutaan :D, hara bersabar menunggu pengumumannya yang masih bulan depan 🙂

  2. Amel : iya Mel tadinya aku jg pengen jadi pacarnya Dimi,.. tp gak tahu kenapa aku malah yang jadi patah hati, hikzz

    Mama Rani : hihiii iya tuh masih kebawa tokoh Dimi kayakna amel.. jadi ingetnya unsur hara mulu,hehe

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s