AKU DAN MBAK DESI…

Walaupun hanya sebagai penyiar radio, namun tidak mengurangi popularitas Kemal, remaja berumur 18 tahun. Tentu saja menjadi populer dikalangan remaja sudah menjadi keinginan setiap orang seumurannya.


Ting.. tong…!!!!

“Kemal ada, Mbak??”

“Ade siapa??”

“Rani”

“Siapanya Kemal?”

“temannya”

“Kenal di mana??”

“Di kampus, mbak. Oia, Kemalnya ada??”

“Ada, tunggu sebentar”

Itulah Mbak Desi. Entah kenapa dia sering mengintograsi tiap teman perempuan Kemal. Setiap yang datang atau telepon pasti ditanya inilah, itulah dan lain sebagainya yang kadang nggak terlalu penting. Tak hanya itu, yang bikin kesel Mbak Desi suka ikut nongkrong kalo ada temen cewek masuk rumah.

“Supaya menjaga agar gak berduaan, kan tar yang ketiganya setan” pernah suatu kali Mbak Desi bilang begitu.

“Iya dan setan itu mbak, yang selalu mengganggu kesenangan orang”. Biasanya akan diakhiri dengan adu mulut. Kemal pikir, Mbak Desi itu terlalu fanatik sama agama lihat saja penampilannya, kolot dengan jilbab besarnya. Apalagi kalau ada teman cowok yang main ke rumah, pasti gak mau dikenalin, salaman, jalannya nunduk, untung aja kalo jalan nggak kejedot pintu, hehee…

Mbak Desi sebenernya baik, satu-satunya perempuan yang mencintai dan menyayangi Kemal. Sejak umur 8 tahun Ibu Kemal meninggal, otomatis Mbak Desi sebagai kakak satu-satunya mengambil peran Ibu untuk mengurus rumah tangga. Sementara itu, Bapak telah menikah lagi dan tinggal di Semarang. Disadari atau tidak Mbak Desi telah menjelma menjadi sosok ibu bagi Kemal.

***

“Dede… volumenya kecilin dong…” Mbak Desi teriak di belakang pintu kamar Kemal, sesekali pintu digedor karena yang di dalam kamar nggak mau menuruti permintaannya. Hingga akhirnya yang punya kamar muncul dari balik pintu.

“Ya Allah, Dede… bukannya belajar atau ngaji malah nyetel musik gak jelas” tegur Mbak Desi, walaupun gak ada mimik marah tapi setiap kali menasehati Kemal Mbak Desai selalu tegas.

“Dede…”

“Kenapa sih mbak suka panggil dede?? Kemal kan dah gede” protes Kemal.

Seulas senyum terkembang dari bibir Mbak Desi, senyum ini yang selalu meluluhkan hati Kemal saat dia kesal dan marah sama Mbak Desi yang suka ngatur, sama perempuan gak boleh terlalu deket, bukan muhrim, anak cowok sholatnya di masjid berjamaah, belum lagi kalo lihat isi kamar Kemal, Mbak Desi bisa berkomentar gak berhenti selama 2 jam apalagi baru-baru ini rak buku Kemal penuh dengan Komik.

“Kalo dede dah gede, tunjukkin dong kalau cara berpikir dan perilakunya kayak orang gede, masa mau sholat subuh aja masih dibangunin” senyum Mbak Desi kembali meluluhkan hati Kemal. Memang, Kemal gak pernah bisa untuk benci sama Mbak Desi.

“Ini buat kamu” Mbak Desi mengeluarkan sesuatu dibalik jilbabnya. Gak salah pasti buku lagi, pikir Kemal. Entahlah sudah beberapa bulan ini Mbak Desi sering ngasih buku islami, padahal buku yang bulan kemaren aja belum dibaca.

“yang ini harus dibaca” ujar Mbak Desi seolah mengerti apa yang Kemal pikirkan.

***

            “Assalamu’alaikum” salam Mbak Desi saat tiba di rumah.

“Wa’alaikumsalam”

Tumben gak nyapa dan tanya-tanya, pikir Kemal. Biasanya rewel banget, dah sholat dzuhur belum? Sholat ashar udah kan?? Ngajinya jangan lupa tuh!!. Setidaknya pertanyaan itu yang selalu Mbak Desi tanyakan saat ia tiba di rumah sepulang kuliah. Untunglah ada rumah peninggalan nenek di Bandung, jadi Kemal dan Mbak Desi tidak perlu nge-kost dan bisa tinggal berdua. Saat makan malam tiba menu yang dihidangkan sungguh menggugah selera ada nasi putih anget, sayur bening, tempe bacem, dan kerupuk. Untuk cuci mulutnya ada papaya yang kebetulan masak di pohon samping rumah. Tapi,, aneh, Mbak Desi tetap diam. Ahh.. mungkin lagi banyak tugas, pikir Kemal.

Tiga hari berturut-turut Mbak Desi berdiam diri, sampai-sampai gak merhatiin kalo Kemal mulai berubah, sedikit sih gak banyak, sholat subuh gak dibanguniin dan langsungsung ke masjid di ujung tikungan jalan depan. Sebelum Mbak Desi pulang, rumah dan perabotan sudah kinclong, tapi gak ada reaski apapun dari Mbak Desi.

“Mbak lagi ada masalah ya?” Kemal akhirnya menghampiri Mbak Desi di kamarnya.

“kalo ada masalah cerita aja mbak, sapa tahu Kemal bias bantu”

“mbak marah karena Kemal gak pernah nurut ya??”

“gara-gara nyetel musik keras ya?”

“atau jatah uang jajan Kemal beliin komik??”

“oh, Kemal tahu… pasti marah karena jatah ayam goreng mbak kmaren malem aku abisin ya…”

“ Dedeee…” Mbak Desi gemas dan mengacak-ngacak rambut Kemal. “”Bukan itu Dede!! Sok tahu ahh..”

Mbak Desi kembali diam, dia menghela nafas panjang..

“Mbak dilamar orang…”

“Apa???” Kemal melotot… “sama Mas Paimin tukang bakso itu??”

“iih.. dedeee,,,” kali ini cubitan Mbak Desi mendarat di pinggang Kemal dan ia hanya bisa nyengir menahan sakit.

“Bukan dia” Mbak Desi terlihat manyun setelah digoda Kemal, tapi kemudian wajahnya cerah dan menceritakan sosok laki-laki yang telah melamarnya.

“Jadi dia mahasiswa tingkat akhir di sastra arab UNPAD ya” ucap Kemal sembari manggut-manggut.

“Dia aktivis di kampus, presiden BEM juga dan insya allah akhlaknya baik” Mbak Desi menyodorkan foto laki-laki itu.

“Mbak kenal dimana?”

“dari guru ngaji, de”

“Mbak yakin ??”

Mbak Desi menerawang ke atas langit-langit kamarnya, ada keyakinan dalam bola matanya. “Mbak dah istkharoh dan hati mbak semakin condong sama dia” .

Kemal ikut terdiam, sebenarnya ia sedih. Kakak perempuan pengganti ibunya akan menikah. Nanti, aku tinggal sama siapa,,tanya Kemal dalam hati. Bapak Kemal sudah berkali-kali memintanya tinggal di rumah barunya, namun selalu Kemal tolak dengan halus.

“Bapak sudah tahu, mbak?” suara Kemal tercekat.

Mbak Desi mengangguk kecil, tangannya mulai mengelus kepala Kemal. Mata kemal mulai terasa panas, ia berusaha tidak menangis.

“Kapan akadnya?” suaranya tercekat

“dua minggu lagi”

Akhirnya pertahanan Kemal jebol juga, air matanya membasahi jilbab Mbak Desi. Mbak Desi pun demikian, ia tak sangup mengatakan hal ini pada Kemal, makanya beberapa hari ini ia berdiam diri.

***

Hari yang dinanti sudah tiba, langit cerah kota Bandung menjadi saksi terikatnya dua hati di jalan Allah. Kemal terlihat berada di barisan depan saat akad nikah berlangsung. Satu buku yang cukup menggugah hati Kemal. Buku kumpulan cerpen karya Helvy Tiana Rossa, salah satu ceritanya adalah Ketika Mas Gagah Pergi. Ada unsur kesamaan dari cerpen itu dan kisah hidup kemal. Yang pasti Mbak Desi lah yang tahu pesan apa yang ingin dia sampaikan lewat buku ini. Apakah Mbak Desi ingin supaya Kemal seperti sososk Mas Gagah atay menjadi adiknya Mas Gagah yang akhir hidupnya berubah baik karenan dukungan dan kerja keras Mas Gagah. Yang pasti Kemal senang karena ending dari cerita Mas Gagah tidak terjadi pada Mbak Desi.

USai pernikahan selesai, alhamdulillah Kemal masih bisa tinggal bersama Mbak Desi dan suaminya. Semoga ini bisa menjadi titik awal perbaikan diri, semoga harapanmu padaku terwujud Mbak..

(cerpen ini saya tulis di tahun 2007, tanggal 23 juli,, ckckck dah lama banget ya)

Iklan

4 comments

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s