Story Pudding : Endless Love

Pernikahan tidak selalu dengan kemewahan untuk merasakan kebahagian,, dan tidak harus bahagia dulu baru tersenyum. Meski saya belum menikah, izinkan saya menuliskan pernikahan kedua orang tua saya, seperti yang pernah ibu ceritakan kepada saya.

 

Beloved mother

Pagi itu, sambil saya menunggui ibu memasak, ia bercerita kenangan tentang ayah. Lelaki yang dengan kesederhanaan dan kegigihannya mampu mencuri hati ibu. Di awali dari pertemuan ibu yang masih SMA yang tiap berangkat dan pulang sekolah selalu diikuti ayah, mahasiswa Fakultas Hukum di Bandung. Hal ini terus berlanjut hingga ayah mulai berani datang ke rumah. Meski ibu tahu persis bahwa ayah dari keluarga berada, satu hal yang jadi point penting, ayah tidak pernah pamer kekayaan,  ia pun tidak malu main dengan mengajak teman-teman mahasiswa datang ke rumah ibu yang sangat sederhana.

Seperti yang saya bilang, pernikahan tidak selalu dengan kemewahan untuk merasakan kebahagian,, dan tidak harus bahagia dulu baru tersenyum. Kebahagian dan limpahan syukur sangat ibu rasakan di pernikahannya yang amat sederhana, sebab calon suaminya mencintai dirinya. Meski pedih, sebab Ibu ayah (Nenek saya) dan kakak-kakak ayah tidak setuju menikahi ibu, karena status sosial. Tapi, itulah ayah, ia tidak pernah menyerah begitu saja. Meski, saat itu ayah hanya ditemani kakak iparnya dan seorang kerabat, ia menikahi ibu, tanpa didampingi orang tuanya.

Ibu semakin kuat menggosok lantai dapur dengan lap pel, seakan ingin menghapus memori pedih itu dari hatinya. Ia bercerita tentang ayah dan pernikahannya sambil bekerja di dapur.

“Meskipun begitu, dia tidak pernah menyia-nyiakan istrinya, Nak”.

Ibu bilang, meski nenek tidak merestuinya, ayah sangat menyayanginya, dengan seluruh tanggungjawab yang besar. Cintanya selalu penuh. Hadirnya selalu dinantikan. Tangannya selalu hangat untuk merangkul Ibu ketika ia menangis. Sebab, setelah menikah ibu tinggal di rumah orang tua ayah dan tentunya sebagai menantu yang tidak diharapkan, pembaca tahu seperti apa rasanya tinggal bersama mertua.

Berawal dari pernikahan sederhana, tanpa restu nenek, cinta, dan kehangatan ayah. Ibu menjadi wanita yang tangguh, penuh kasih, dan bakti kepada ayah. Hingga ayah telah dipanggil pencipta-Nya, ibu masih mencintai ayah,, ia sering ke pemakaman ayah, bahkan sampai saat ini, 3 tahun setelah ayah pergi.. saat surat Yaasin ia bacakan, selalu ada getaran cinta dan rindu dalam suara ibu.. kadang terdengar pedih.. kadang terdengar ada ketegaran.. angin mengibarkan jilbab ibu kemudian membawa do’a kami ke tempat yang jauh di sana..

Catatan:

  1. Alhamdulillah saat ini hubungan nenek dan ibu sudah baik
  2. Sayang sekali tidak ada dokumentasi (foto) pernikahan ibu dan ayah

Kisah ini diikutsertakan pada “A Story Pudding For Wedding” yang diselenggarakan oleh Puteri Amarillis dan  Nia Angga

Iklan

10 comments

  1. cerita cinta memang selalu haru-biru……apa yg dialami oleh alm ayah anda tak jauh beda dengn sy sbenarnya…..tpi sudahlah……itu msa lalu saya……
    nice post…..salam kenal ya….!

  2. terharu saat membacanya..cerita nya tak beda jauh dengan kami, salam buat ibunya..

    “pernikahan tidak selalu dengan kemewahan untuk merasakan kebahagian,, dan tidak harus bahagia dulu baru tersenyum.” setuju bangat

  3. Semoga Ayahnya mendapat tempat terbaik disisiNya ya…
    salut atas kesabaran dan ketabahan Ibu…
    alhamdulillah sabarnya membuahkan hasil manis, berupa hubungan yg membaik dgn ibu mertua ya.. 🙂

    sukses kontesnya 🙂

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s