First Love – “Akhir Cinta Segitiga”

Semburat senja di kota Bandung dengan jingga tersapu di langit barat. Sesekali aku menyeruput teh hangat dan kembali bermesraan dengan sejuknya udara Bandung. Energi positif yang datang dari Cia selama ini rupanya mampu menginduksi untuk lebih semangat dalam menjalani keseharian, hingga akhirnya pertemuan dengan Cia akan berlangsung gak berapa lama lagi, tepatnya minggu depan. Dan aku harap hal itu akan segera tiba.

Hingga keesokan harinya, masih bisa merasakan sisa semangat kemarin telah menjalar dalam pembuluh darah dan menyebar ke semua tubuh.  Move on!! Kata sakti dari Cia selalu terngiang di telinga, bahkan sejenak aku terlupa pada masa lalu. Sengaja pagi ini aku jogging, aku pikir ini efek dari induksi semangat dari Cia juga. Entahlah, mesti belum yakin dengan perasaanku, tapi yang aku yakini bahwa hari ini aku sangat bahagia.

Aku,, yang tadinya lari.. perlahan-lahan berkurang kecepatan dan kemudian berjalan dan akhirnya berhenti di 1 km pertama. Tertegun disebuah rumah yang sebelumnya aku kenali, dulu aku pernah berlari ke rumah ini saat demam hanya untuk menemuinya.

Alice..

Sebuah nama terlintas dalam pikiranku dan tanpa pamit memutar kembali kisah dengan Alice. Lututku terasa melemah dan nafas yang ngos-ngosan. Seketika induksi semangat dari Cia terpatahkan. Untuk beberapa lama aku pandangi rumah yang masih persis sama saat ditempati Alice, sepertinya pemilik baru tidak merenovasi atau mengecat ulang rumah itu.

Aku akhirnya meniggalkan rumah itu, baru dua langkah.. sebuah mobil melintas dengan seorang gadis dari jendela mobil terbuka melihat ke arah rumah Alice.. tanpa sengaja pandangan kita beradu. Manis, pikirku. Saat kembali meneruskan langkah aku teringat sesuatu.

Secara bersamaan saat aku menoleh kebelakang, mobil tadi berhenti. Aku menunggu reaksi gadis penumpang tadi. Tak lama kemudian, satu kaki muncul dari balik pintu.. jujur jantungku mulai berdegup, terjadi perang dalam pikiran mengenai gadis tadi.

Seraut wajah melongok ke luar pintu dan keluar berjalan menghampir dengan senyuman khasnya. Senyum yang paling aku senangi.. senyum yang dapat menghadirkan perasaan hangat di dadaku.

            Alice.. ucapku lirih..

            Ia semakin mendekat dan ragaku saat itu rasanya terbetot dari rangkanya. Benarkah? Selama ini aku cari-cari.. sekarang dia yang datang buatku??

***

            Hampir seminggu, Alice dan aku kembali menyusuri kenangan kami saat TK dan SD.. melihat tembok di kolam renang yang meski tulisannya sudah pudar, bahkan nyaris hilang. Malam mulai pekat dengan cahaya bulan yang lembut menyusup dari balik jendela kamar. Namun, malam ini tak sedikitpun dapat aku katupkan mataku barang sebentar. Semua serba membingunkan, setelah aku menemukan sosok Cia, Alice kembali muncul tanpa terduga. The two Alices.. siap yang akan aku pilih??

            Aku terlanjur menanam benih cinta pada Cia tanpa pernah aku sadari dan begitu pun aku yang mulai terbiasa untuk menyukainya. Di ruang hatiku yang lain, Alice masih berjangkar cukup dalam meski kisah kami hanya sesaat dan dalam masa kanak-kanak. Sungguh bagaimana harus aku perbuat.

            “Aku masih menyukaimu, Ven” ucapnya tegas dengan menatap lekat mataku, terdengar serius. Alice pagi ini sungguh sangat mempesonaku dengan balutan pakaian dan senyumnya yang selalu terkembang dengan rona merah dipipiya.

            Mataku berputar mencari jawaban di balik pohon dimana kami dulu sering bermain, kemudian mataku terpusat pada satu titik namun justru malah tembus pandang jauh ke sebrang samudra hindia dan sampai di benua australia.. Cia.. besok kamu datang.. apa yang akan aku lakukan pada kalian berdua.

            “Ven.. ” kali ini suara Alice lebih lirih, tangannya lembut menyentuh jemariku.

            “kamu sudah punya yang lain?”

            Oh, Tuhan… perih. Jantungku serasa diremas.

            “Boleh aku cerita?” aku balik menggenggam tangan Alice, lalu aku lepaskan dan meluncurlah ceritaku dalam pencarian tentang dirinya kemudian bertemu Cia, sampai tumbuhlah perasaan itu, kemudian…

            Kemudian aku tak mampu meneruskan ceritaku,, Mata Alice telah basah,, aku mengutuk diriku terlalu jujur padanya.

            “Alice…”

            Tangisnya semakin menjadi, aku sibuk membujuknya untuk berhenti menangis, namun tidak berhasil. Aku hanya pasrah, bola mataku turut perih.. baru Alice yang aku sakiti, bagaimana dengan Cia?? Sedangkan aku masih belum meneguhkan pilihan.

***

            Semenjak kejadian itu, alice mulai susah ditemui. Lagi-lagi dia menghindar. Aku pusing, sementara beberapa jam lagi Cia sampai di bandung dan aku akan bertemu dengannya. Tuhan.. tolonglah diriku..

            “Keven!!” seru seorang gadis berseru kepadaku.

            Ia nampak sangat cantik, jauh lebih cantik dari foto yang ia kirim waktu itu. Cia.. benar sosok sempurna untuk seorang gadis keturunan cina-jepang. Sesaat gerimis di hatiku bersama Alice mulai mengering dan bersemi.. sungguh.. Cia menawarkan keindahan seorang wanita.. bunga-bunga di hatiku tumbuh subur mendapat sinaran wajahnya.

            Sepanjang perjalanan kami berbincang banyak, mengenai apapun, tapi satu hal yang belum kami bahas, status kami yang masih menggantung. Hal tolol yang pernah aku lakukan adalah tidak memberikan jawaban saat Cia menyatakan cintanya, dan pasti kedatangannya ke sini adalah untuk menagih jawaban itu.

***

            Aku berdiri di balik pagar TK, dan memandangi pohon besar tempat dulu aku dan Alice pertama bertemu dan semuanya berawal. Namun, saat ini justru aku di sini bersama Cia. Ia memaksaku untuk mengunjungi tempat ini, tempat yang ingin aku hindari untuk saat ini. Semenjak Alice menangis kemarin, dia belum mau aku hubungi.

            “Aku sudah menunggu jawabanmu selama ini, Ven.. apa kamu juga sayang aku?”

            Deg!! Aku melap keringat yang muncul dari sela-sela keningku,, pertanyaan itu sunggu membuat gerah hati dan pikiranku. Belum sempat aku menjawab, tiba-tiba..

            “Jadi kamu itu cewek yang kamu bilang!” teriak seorang perempuan di sebrang jalan.

            “Siapa itu, ven?” Cia terkejut.

            Wajah perempuan di sebrang pucat pasi, ia kemudian hendak lari lalu aku cegah.

            “Siapa itu, Ven?” desak Cia.

            Aku bingung antara mengejar Alice atau tetap bersama Cia..

            “Itu Alice??” mata Cia menyelidikku

            Aku mengangguk dan berkata,

            “Tunggu disini sebentar!”

            Aku melesat ke tengah jalan mengejar Alice,, dan tanpa aku sadari terjadi tumbukan dahsyat antara badanku dengan depan sebuah mobil, hingga akhirnya tubuhku terpelanting dan semua gelap.

***

            Dua orang gadis, sesenggukan menabur bunga di tanah merah dan masih basah. Mereka duduk mengapit sebongkah tanah yang menggunduk dengan dua buah nisan yang salah satunya bertuliskan nama : KEVEN!

TAMAT

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba “First Love ~ Create Your Own Ending” yang diadakan  oleh emotional flutter dan Sequen sakura.

Catatan :

  1. Tanpa mengurangi rasa hormat, kepada pengarang asli, mohon maaf tokoh utama pria dalam cerita saya dibuat meninggal, itu semata-mata karena untuk memperkaya cerita saja supaya tidak sama dengan cerita dari kontestan lain.
  2. Yang penasaran dengan cerita aslinya silahkan buka blog keven

 

Iklan

10 comments

  1. “Ia semakin mendekat dan ragaku saat itu rasanya terbetot dari rangkanya”, ini kalimat yang bikin dhe tertawa Van, sumpah.. terbetot apaan?? hahahahahah 😀

    sip sip dah, baguuusss.. ada juga yang nyeritain kalo Keven meninggal..

  2. mbak Dhe : hahahaaa… saya pas bangun tidur baca komen km jadi ikutan ngakak jg,, hahahaa… terbetot??? hahahaa… gak tau tuh kata itu tiba2 muncul dalam pikiran saya,, serapan dari bahasa sunda itu Mbak Dhe.. terbetot itu sama kayak tercerabut kali ya, hahhaaa… atau dicabut paksa gitu…

    @Keven:
    makanya di notes bawah saya minta maaf kalo misal toko pria-nya alias keven nya berakhir tragis, kan katanya bebas mw berimajinasi apa aja,hehee

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s