Menyalurkan Rasa Iri



Sebetulnya menuliskan judul itu membuat saya agak terbebani, sebab tentu saja kata ’iri’ menurut sebagian orang mungkin konotasinya jelek. Tapi sudahlah, saya memang ingin memakai kata yang terdiri dari 3 huruf tersebut. Anggap saja rasa iri itu merupakan sebagian dari cara kita untuk memotivasi diri untuk bisa seperti orang mereka.

Kehadiran beberapa kawan yang ‘lebih’ dalam beberapa hal memang cukup membanggakan namun tak sedikit pasti ada secuil rasa iri dengan sesuatu yang ‘lebih’ itu. Sebut saja wisma sederhana di pojok kenanga yang telah saya tempati selama tiga tahun semasa kuliah. Berhubung kami semua anak satu fakultas jadi kehidupan kampus pun terbawa ke wisma atau sebaliknya kehidupan wisma terbawa ke lingkungan kampus, celakanya saya yang jadi korban disini, (hehee.. ngaku2).

Wisma saya terdiri dari 7 orang anak, berikut 3 besar yang berprestasi adalah sebagai berikut :

  1. Mr. A, beliau kakak angkatan saya, presiden BEM dan masuk PIMNAS, aktivis, kemudian melanjutkan pascasarjana di kampus yg sama.
  2. Mr. B, beliau teman seangkatan, presiden BEM 2 periode setelah kepemimpinan Mr. A, masuk PIMNAS, melanjutkan pascasarjan di kampus yg sama jalur beasiswa unggulan.
  3. Mr. C, teman seangkatan, ketua UKM Keislaman, sekjend ikatan mhswa muslim pertanian indonesia, lulus predikat cumlaude, melanjutkan pascasarjana di kampus yang sama jalur beasiswa unggulan, bulan ini berangkat summer ke Turki.

Pernah satu wisma dengan mereka menjadi sebuah sensasi tersendiri, antara kagum, bangga, beruntung dan iri, (mudah2an yang bersangkutan tidak membaca tulisan ini,, hehee,,, peace.. ah..).

Kagum dan bangga karena saya setidaknya mengetahui sepak terjang mereka dari awal dan sedikit informasi mengenai latarbelakangnya, sehingga menjadi mereka seperti sekarang saat ini adalah diam-diam memberikan rasa kagum. Sementara itu, terselip rasa iri karena saya belum menyamai kapasitas mereka, selama 4 tahun dikampus saya hanya bertengger diposisi kepala departemen (itupun saya syukuri dengan sepenuh hati) dengan prestasi lain yang belum ada. Beruntung, karena saya dapat satu atap dengan mereka beberapa tahun.

Iri saya bukan karena benci dan tidak suka mereka mempunyai segudang prestasi seperti itu, tapi iri karena belum bisa seperti mereka. Iri yang menjadi positif buat saya karena dapat menjadi motivasi untuk mengerjakan sesuatu dengan lebih serius, fokus, dan lebih keras lagi dengan hasil yang paling baik. Setidaknya itu yang selalu yang tanamkan dan saya bersyukur dapat tinggal bersama mereka sebab saya jadi terkontrol sejauh mana ketertinggalan saya. Terbayang jika saya tinggal bersama orang lain, mungkin saya akan lebih malas dan sering main dari sebelumnya.

Terimakasih untuk semua penghuni GI yang telah menemani dalam pergantian waktu dan menjadi sumber inspirasi

Iklan

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s