Suratku untuk ibu dan ayah

ARTI SEORANG BAYI – yang membuat rumah lebih bahagia, kasih lebih kuat, kesabaran lebih besar, tangisan lebih subuh, malam lebih panjang, masa lalu terlupakan dan masa depan lebih cerah (dikutip dari buku Sengah Isi Setengah Kosong, hal 103). Proses melahirkan pasti akan menjadi momen yang sangat tidak akan terlupakan bagi seorang calon ayah dan juga calon ibu yang berjuang diantara hidup dan mati.

Saat itu, 23 tahun yang lalu.

Seorang bayi terlahir dari rahim seorang wanita yang tangguh dengan segala kelebihannya dalam menyayangi bayi tersebut hingga menjelang ia dewasa, bahkan mungkin saat ia mengantar pada pernikahan anaknya nanti ia akan selalu sayang dengan segala ketulusan dan juga semua pengorbanan dalam membesarkan bayi tersebut. Sementara itu, sesaat setelah bayi itu dibersihkan seorang pria memangku bayinya dengan suaranya yang syahdu ia mengumandangkan adzan pada bayinya, yang kelak akan menjadi penggantinya menjaga istri dan anak keduanya.

Bayi yang beruntung mendapat kedua orang tua yang sangat menyayanginya, seorang ayah yang bertangungjawab dengan memboyong bayi dan istrinya pindah dari rumah orangtuanya supaya mandiri. Kedewasaan ayah yang membuat Ibu menjadi tegar dalam mengurus rumah tangga meski rumah baru mereka baru beralaskan tikar dengan perabot rumah tangga secukupnya.

Hari demi hari.. minggu ke minggu.. bulan berganti bulan.. dan tahun berganti hingga akhirnya bayi itu tumbuh dalam kasih yang berkecukupan bersama keluarga kecil mereka. Meski ayah bayi itu dari keluarga berada namun nasihat yang selalu ia berikan pada bayi kecilnya itu masih terngiang sampai dewasa. “ Nak, jangan pernah menggantungkan diri pada harta orang tua. Ayah tidak akan bisa mewarisi kamu harta, tapi ilmu. Belajarnya yang benar dan sekolahlah yang tinggi ”.

Benar saja,, tak sampai bayi itu berumur 20 tahun ayahnya sudah meninggalkannya, untuk selamanya. Ayah yang tidak akan pernah menyaksikan saat wisuda sarjananya, meminangkan seorang gadis dan mendampinginya di pesta pernikahan. Seorang ayah dengan pesannya itu memacu bayi tadi untuk terus menimba ilmu.

Lain lagi dengan Ibu bayi itu, ia lahir sebagai anak tentara yang sering berpindah-pindah dengan hidup sederhana. Kedisiplian yang ia dapat diterapkan pula pada bayinya hingga dewas. Namun, dibalik sifatnya yang keras, ia jauh lebih baik. Hatinya lembut dan semua kasih sayangnya tercurah segenap jiwa dan raganya. Kehadiran bayi itu baginya adalah karunia terbesar dalam hidupnya hingga saat ini.

Kini sudah 23 tahun, bayi yang sudah beranjak dewasa. Akan tetapi, belum dapat membahagian ibu yang telah mengandung, melahirkan, dan membesarkannya. Di tengah kesendiriannya mengurus rumah tangga selepas ditinggal suaminya, ia tetap tegar karena bayi yang sudah besar itu adalah sumber kekuatannya.

Dan.. bayi itu adalah aku.. ingin aku mengatakan bahwa aku tak akan sanggup membayar jasamu, Bu. Namun, Insya Allah tiap tetes air mata ibu dalam do’a dan sujudmu akan tergantikan dengan kebahagian yang akan aku siapkan untuk ibu kelak.

Mengenai ayah, ia pun sama sangat mencintaiku sama besarnya dengan Ibu. Jika Ayah dapat mendengarku saat ini ingin aku bilang, “Ayah… maafkan aku tidak sempat membahagiakanmu.. Disaat aku meraih gelar sarjana.. kau telah pergi tuk selamanya… itu yang membuat aku haru saat prosesi wisuda tahun kemarin “

Ya Allah… ampunilah dosa Ibu dan Ayahku.. ku mohon sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku dengan berlipat ganda.. serta izinkanlah kami untuk berkumpul kembali di surga Mu…

Purwokerto, 19 Juli 2011 ba’da isya

7 thoughts on “Suratku untuk ibu dan ayah

  1. Evan dengan selalu menyayangi ibu, maka Evan sudah membuat Beliau bahagia,
    walaupun Ayah tak sempat mengantarkan Evan wisuda dan menikah, namun doa Evan utk alm. Ayah sungguh sangat diharapkan, krn hanya doa dr anak yg sholeh saja yg makbul.
    Tetap semangat ya Evan.
    dan, jaga serta sayangi Ibumu dgn sepenuh hati dan sekuat tenaga.
    Bunda titip salam hormat utkl Ibunda tercinta
    Untuk Evan, tetap semangat dan jadi anak yg sholeh ya nak🙂
    salam

  2. Bunda Lily : terimakasih Bunda atas wejangannya.. insya allah salam bunda akan saya sampaikan..
    Mbak Orin : terimakasih buat doanya utk ayah evan,, insya allah salamnya jg nanti ta sampein sama ibu
    Bang Aswi : sama2 mas🙂
    Mba ysalma : makasih ya mba…

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s