Cinta Kala Senja

Hatiku basah layaknya embun di tepi daun, yang siap meluncur menempa keringnya tanah di musim kemarau. Angin yang berhembus dari celah jendela tak sanggup lagi mendinginkan suasana hatiku, yang ada hanyalah menambah sesak suasana kereta ekonomi ini. Malang sekali malam ini kereta jurusan Jogja-Bandung begitu padat penumpang,sampai harus berdiri dan penumpang berjubel rela lesehan di lorong-lorong kereta hanya untuk sampai tujuan.
Aku menerawang keluar jendela, walau hanya hitam yang terlihat tapi pikiranku berputar mundur beberapa hari. Pagi itu merupakan akhir kebersamaan kami, sebenarnya dalam gelak tawa kelulusan kami ada kepedihan yang tersimpan rapat. Sebuah rasa yang rapi terselimuti, sebab tak pantas dan tak ada keberanian untuk mengungkapkan. Hingga akhirnya,
“ Hari..!! “ panggilannya menghentikan obrolanku dengan Iqbal.
“ Selamat yah, semoga gelar sarjana ilmu politiknya bermanfaat “ begitu ringan ia berucap, padahal mendengar suaranya saja aku sudah gemetar. Empat tahun sudah, namun tak puas aku mendengar suaranya yang merdu, senyumnya yang manis dan pakaian muslimahnya yang membuatnya terlihat lebih elegan. Semenjak menjadi teman sekelompok di ospek sampai detik ini ia selalu tampil dan bicara apa adanya denganku, tidak berubah. Semoga saja dialah permata yang dicari selama ini yang baru kutemui tapi aku tak tahu pasti rencana Ilahi, apakah dia kan kumiliki.
“ADUHHH!!!” Pekikan seorang anak perempuan membuyarkan lamunanku. Kakinya terinjak oleh penumpang lain. Sungguh malang nian kami. Anak perempuan tadi bersandar dibahu laki-laki separuh baya beralaskan tumpukan karung, nasibnya sama sepertiku, tak kebagian tempat duduk. Hanya saja mereka beruntung masih bisa duduk di atas tumpukan karung. Sesekali tukang asongan bolak-balik melewati jubelan manusia yang terpaksa duduk di lorong kereta, sungguh cekatan namun tak ada perikemanusian, pikirku.
Bayangan Ibu, Bapak, De Bagus, De Bagas, Teh Asri selalu muncul bergantian ditengah letihnya tubuh ini. Hanya bayangan mereka yang memberiku semangat untuk bersabar dalam kereta ini hingga akhirnya aku kembali menginjakan kaki di tanah kelahiranku. Kakiku sudah tak tahan menopang raga, hampir 3 jam aku berdiri disudut gerbong kereta. Malam ini adalah malam untuk mengedepankan ego, waktunya untuk egois. Toh tiap orang hanya peduli dengan kenyamanannya sendiri tanpa mereka sadari atau bahkan pura-pura tidak peduli ada seorang Ibu yang terpaksa bersimpun memangku anaknya di depan pintu WC, kaki-kaki yang terinjak, rasa mual, semua campur aduk.
Senja sebelum keberangkatanku, sempat aku kembali bertemu dengan Naila, jilbab merah mudanya berkibar. Ia berdiri di tepi peron kereta, rupanya ia pulang hari ini juga. Mataku tertunduk, kuharap ia tak melihat aku sudah beberapa kali mencuri pandang darinya.Hatiku hanya mampu bertasbih, semoga dawai yang bergetar ini bukanlah nafsu semata, tapi ketulusan dari fitrahku sebagai manusia. Ketika kupalingkan lagi padanya, kudapati seulas senyum sebelum akhirnya kereta executive jurusan Jogja-Surabaya membawanya jauh.
Perpisahan senja tadi menambah letihnya jasad ini, pertahananku roboh juga, tak sanggup lagi aku berdiri, dengan celah yang ada aku terpaksa duduk di atas tas ranselku. Aku mengeluarkan mushaf kecil dari balik jaket hitamku, biarlah keletihan dan rasa sakit ini ini semakin mendekatkan aku dengan sang khaliq. Bibirku semakin basah, basah oleh ayat-ayat-Nya yang semakin lama semakin aku tak tahan untuk membendung air mata ini. Kuharap malam ini aku bisa mendapatkan satu cinta diatas cinta.

19 Juni 2009

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s