Ibu dan Romansa Kampus Hijau

”Kasihmu terasa begitu luasnya bak lautan tak terkira lebarnya harap miliki kesempatan membalas jasamu ibu. Ibu, ku sayang padamu dengan segenap jiwaku namun kutahu ku tak kan mampu membalasmu jasa layaknya kau mengasuhku. Semoga Allah selalu menjagamu ”.

(Kiswah: Kasihmu Ibu)

ilustrasi dari google

Kalo home sick ini sudah mencapai akut, aku sudah tak tahu lagi kemana harus aku berkeluh kesah. Walaupun jarak Purwokerto–Garut masih terbilang dekat dari pada Garut–Sorbonne, Garut-Bangkok, atau bahkan Garut–New Delhi dan Garut-Leshoto,negara kecil yang dikelilingi oleh daratan Afrika selatan. Untunglah teknologi paling mutakhir sudah ada sehingga tak perlu mudik, karena hanya lewat layar handphone saja wajah teduh Ibu sudah nampak. Namun sayang justru aku tak punya fasilitas itu dan hanya harus puas mendengar suara Ibu yang sesenggukan saat Ia mendo’akan kelancaran kuliahku, saat mengingatkan jangan meninggalkan sholat, jangan sampai telat makan, jaga kesehatan, jangan terlalu banyak ikut organisasi, hal pokok, pertama dan utama adalah belajar.

Aku tak sanggup melukiskan wajahnya ketika harus berpisah di terminal Indihiang kelas A di Tasikmalaya, saat liburan semester kemarin berakhir. Ada kaca – kaca bening yang akan terpantul dari matanya, aku akan mencium tangannya dengan takzim dan ciuman lembut segara mendarat di pipi kananku. Orang akan menganggap berlebihan jika melihat pemuda seperti aku diperlakukan seperti itu. Namun jangan salah itulah yang menjadi kekuatan bagiku menjalani awal – awal kehidupan di Kota Satria ini, bahkan akan menjadi kekuatan ketika nanti aku ditakdirkan meninggalkan tanah air untuk melanjutkan studi kelak di negeri orang.

Teringat awal aku berangkat ke Purwokerto, Ibu berada di sisiku. Deretan pohon karet sepertinya tak mau juga merelakan aku pergi. Dari mulai perbatasan Jawa Barat–Jawa Tengah sampai Cimanggu dan beberapa daerah di Cilacap Barat yang tak ku kenal, pohon–pohon karet itu tetap bersikukuh mengantarkan kepergianku. Ku lihat Ibu mengamati pohon itu seakan mencurahkan isi hatinya. Wahai pohon karet… kau adalah saksi perjalananku mengantar buah hatiku, jantung hidupku untuk menetap di tempat asing. Tak salahkah anakku memilih melanjutkan sekolah di tempat nun jauh di sana.

Aku akan memutar nasyid Kasihmu ( Ibu ) dari Kiswah, Ibu dari The Fikr, Rindu Ibu dari getaran Religius, Kasih Ibunda dari Tazaka atau title – title Ibu lainnya dari koleksi berbagai munsyid untuk menepis kerinduan untuk bertemu, atau hanya sekedar merasakan mencium tangannya yang telah mulai terasa kasar, karena Ia sering memandikan aku waktu kecil, mencucikan baju, memasakan hidangan terlezat, yang diam–diam masuk kamar tengah malam untuk membenarkan selimut, dan saat sakit tangan itu pula lah yang akan mengelus dan mengusapkan kayu putih untuk menghangatkanku. Ia melakukannya dengan satu alasan, CINTA, kecintaan pada amanah yang telah dititipkan Allah kepadanya.

Dua puluh tahun, mata ini telah mengenal indahnya dunia. Aku berdiri tegak di atas menara masjid, saat–saat home sick akut inilah aku akan memanjat puluhan anak tangga untuk sampai di puncak dan merenung sejenak di sana. Mata ini ku gunakan untuk menyapu bentangan alam yang begitu luas, bukti sebuah penciptaan sang Khaliq. Gedung stasiun televisi lokal, pusat perbelanjaan yang namanya mengingatkan kaum Muslim di Filipina : kaum MORO. Gedung–gedung perkuliahan dari mulai Fakultas depan yang perlente dengan mahasiswa–mahasiswa berduit dan hedonis, tak ketinggalan Fakultas belakang yang sederhana, bahkan kampus hijaupun terlihat. Aku tersenyum melihat kampus hijau itu, rupanya sudah dua puluh empat bulan aku mengenyam pendidikan di sana.

Banyak hal yang aku curahkan di menara itu, saat rindu rumah karena satu semester belum pulang, dulu kalau aku pulang adik–adik akan berhamburan di pintu gerbang rumah dan Ayah Ibu akan duduk santai di bangku belakang rumah menyambutku, saat banyak praktikum dan tugas–tugas kuliah yang menumpuk tak pernah mau berkompromi dengan lelahnya mata untuk mengaduk–aduk materi kuliah

Di kampus hijau, aku mencoba berkompetisi dengan batinku sendiri di awal-awal kuliah, sebab saat semester satu berakhir aku seperti kapal yang terkurung dalam badai sehingga terdampar di pulau yang tak ku mengerti sebelumnya. Aku teringat betul ekspresi Ibu saat aku meminta untuk pindah dari kampus hijau ini, dialah yang pertama mendukungku. Di saat aku gagal untuk pindah dia pula yang membesarkan hatiku untuk menerima kenyataan dan meyakinkan bahwa di sinilah tempat terbaik yang sudah direncanakan sang sutradara dan penulis skenario terbesar dan ter-Maha : Allah swt. Bukankah belum tentu jika aku pindah adalah akan lebih baik? Belum tentu yang tidak baik buat kita, bagi Allah adalah hal terbaik yang ia berikan.

Benar saja, dari nasehat Ibu aku terpacu untuk tetap bertahan dan mencari keistimewaan di kampus hijau ini. Siapa sangka bahwa tanaman–tanaman yang orang nilai remeh, hanya tinggal tanam, panen, makan!!!!! Ternyata butuh perhatian pula, bagaimana mungkin salah satu negara di Eropa, Irlandia, terjadi kelaparan, karena tanaman kentang yang terserang penyakit hawar daun. Salah satu jenis jeruk yang hampir punah karena serangan Virus. Selain itu, siapa yang percaya bahwa dari sekian banyak spesies hewan di dunia ini tiga perempatnya di tempati oleh serangga. Serangga yang mungkin terkenal indah dan ada manfaatnya untuk tanaman seperti kupu-kupu yang membantu penyerbukan, ternyata saat berbentuk larva adalah serangga yang merusak tanaman. Banyak spesies lainnya yang baru aku ketahui dari kampus hijau ini yang berpotensi menjadi hama dan merusak tanaman, bayangkan jika semua tanaman dirusakan hama-hama itu, bayangkan jika semua bagian dan hasil tanaman terserang puru akar, hawar daun, karat daun, antraknosa, die back, smuts, root rots, powder mildew yang disebabkan jamur patogen, atau generasi bakteri semacam Xanthomonas, Ralstonia, Erwinia, Pseudomonas dan kawan-kawannya melimpah ruah, seperti halnya ledakan penduduk, belum lagi serangan dari Virus, mikro organisme yang hanya dapat jelas dilihat dengan bantuan mikroskop elektron, bayangkanlah itu!!!Bayangkanlah wahai anak muda yang merasa gengsi masuk kuliah di Pertanian, dengarlah kalian yang tak akrab dengan peluh yang bercucur saat mengolah tanah, menanam, menyiangi, memanen! Wahai kalian yang hanya tinggal makan! Kalian yang menganut modernisasi atau faham revolusi industri! Kalian pendiri bangunan-bangun pabrik Industri, sehingga Dunia sesak dengan asap-asap angkuhmu!Indonesia adalah negara Agraris,dan Dunia butuh Dokter Tanaman, dunia butuh entomologist ahli insect pest management atau plant pathologist yang ahli dalam bakteriologi, virulogi dan fungiologi.

Akankah kejadian di Irlandia itu terulang di Indonesia. AKULAH YANG DITUNGGU DUNIA!!!!

Beberapa burung dari family Ploceidae, atau tepatnya bernama Passer montanus Dub. berterbangan dari sangkar-sangkar di atas rumah penduduk, rupanya mereka merasakan geraman dan semangat yang menyala dari atas menara ini.

Aku memejamkan mata setelah memandangan bentangan alam ini, udara pagi yang bersih sengaja ku hirup dalam-dalam. Matahari yang jauh di timur sana menghangati jauh ke lubuk hati. Beberapa pikiran-pikiran yang rumit dalam batok kepalaku seakan menguap dengan hadirnya mentari. Aku memutari menara ke arah utara, di sana berdiri kukuh Gunung Slamet, warnanya biru, tampak di puncak awan putih menyelimutinya dari dinginnya pagi, melindunginya dari terik matahari, bahkan menutupi kawah yang sepertinya malu dilihat hamparan langit, dan jutaan bintang serta bulan saat malam. Aku bahkan pernah mendapat oleh-oleh berupa batu dari Gunung Slamet dari salah seorang teman yang mengikuti kegiatan pencinta alam. Batu yang sekarang ada dalam genggamanku.

Kebiasaan mengasingkan di menara itu nyaris aku tinggalkan, beberapa bulan, setahun, dua tahun hingga akhirnya pagi ini aku kembali mengulangnya dengan nuansa berbeda. Dulu aku sering mengeluh tentang kampus hijau yang tak pernah sebersitpun ada dalam cita-cita di masa kecil. Saat-saat home sick akut yang menjalar tubuh, saat kengen Ibu, saat laporan dan praktikum yang tak kenal henti. Aku mengukir salah satu dinding menara, kemudian menuruni tangga dan akhirnya motor biru yang senantiasa menemaniku selama tiga tahun setengah menuju tempat paling sakral hari ini.

Aku berada dalam deretan orang berjubah hitam dan topi aneh, ya.. ini adalah hari wisuda. Ketika nama ku disebut, ada sepasang mata yang mengantarku ke podium, mata itu kemudian basah, basah oleh linangan kebahagian. Ada kerutan di bawah sepasang matanya, garis –garis tua yang mulai menghampiri tak akan mudah mengalahkan kegigihan wanita yang sedang menghapus air matanya itu.

Ada rasa haru ketika aku menghampirinya, seperti biasa aku mencium tangannya takzim dan medarat pula lah ciuman itu. Ia memandangku dalam, dalam sekali, di ujung matanya ada tetesan air bening. Ia memejamkan matanya dan tersenyum, menggandeng tanganku berjalan menerobos lautan manusia yang tumpah ruah di sekitar jalan kampus. Ia begitu manis menggandengku dan tersenyum pada semua orang seakan mengabarkan berita ke seantro dunia. Inilah anak saya, sekarang sudah lulus sarjana.Ternyata dari hasil tangan saya sendiri saya mampu menyekolahkan anak saya. Ya.. perkenalkan ini anak saya, dia yang tadi yang memberikan sambutan dari perwakilan mahasiswa sebagai penyandang gelar cum laude, seorang Sarjana Pertanian.

Perjalan Purwokerto–Garut kali ini dilalui dengan perasaan bahagia, seakan jarak yang ratusan kilo meter itu terasa sejengkal. Saat melewati pohon–pohon karet yang dulu pernah di lewati saat kami pertama kali ke Purwokerto, Ibu menggenggam tanganku tapi pandangannya tak lepas dari pohon–pohon karet itu, rupanya ia kembali mencurahkan isi hatinya dan memamerkan aku pada mereka. Lihatlah wahai pohon karet… aku telah membawa buah hatiku, jantung hidupku kembali!

(ditulis pada tahun 2008,, semi fiksi)

Iklan

One thought on “Ibu dan Romansa Kampus Hijau

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s