Penyakit Diplodia

Penyakit kulit diplodia atau sering disebut penyakit blendok tersebar luas di berbagai negara penanam jeruk. Di pulau jawa penyakit blendok terutama mempunyai arti penting di daerah rendah.  Jenis jeruk keprok (Citrus nobilis) dan jeruk besar (Citrus grandis) sering sangat menderita karena serangannya (Semangun, 1989). Menurut Wiratno dan Nurbanah (1997) penanganan dan pengelolaan kebun yang baik terutama kebersihan atau sanitasi kebun, menyebabkan gangguan penyakit blendok jarang ditemui, oleh karena itu tingkat keparahan penyakit blendok dapat mencerminkan tingkat perawatan kebunnya.

Menurut Semangun (1989) ada dua macam penyakit diplodia, yaitu diplodia basah dan kering. Diplodia basah ditunjukkan dengan reaksi batang, cabang atau ranting yang terserang setelah terinfeksi mengeluarkan blendok berwarna kuning keemasan dan pada stadia lanjut, kulit tanaman mengelupas atau bahkan bisa mengakibatkan kematian. Diplodia kering, kulit batang atau cabang tanaman yang terserang tidak mengeluarkan blendok/ gummosis tetapi kulit batang akan mengelupas, langsung mengering sehingga gejala awal lebih sulit diamati.

Menurut Semangun (1989) penyakit kulit diplodia disebabkan oleh jamur Botryodiplodia theobromae Pat., yang dulu banyak dikenal dengan nama Diplodia natalis P. Evans.  Klasifikasi B.  theobromae adalah (Zipcodezoo, 2009a)

Kingdom: Fungi

Phylum  : Ascomycota

Kelas      : Ascomycetes

Ordo       : Dothideales

Famili     : Botryosphaeriaceae

Genus     : Botryodiplodia

Spesies   : Botryodiplodia theobromae

Diplodia nataliensis memiliki piknidium berwarna hitam dan letaknya tersebar, tidak berstroma, dibedakan dengan B. theobromae yang memiliki piknidium berkumpul dan berstroma (Deptan, 2009a). Akan tetapi karena sifat tersebut tidak tetap maka keduanya sekarang disatukan. Pada diplodia basah, B. theobromae membentuk piknidium yang tersebar, mula-mula tertutup, kelak pecah, hitam, berpapil, berukuran lebih kurang 150-180 mm. Konidium jorong, bersekat satu, tidak berkonsriksi, berwarna gelap, rata-rata berukuran 24 x 15 mm, dan eksosporanya mempunyai jalur-jalur (Semangun, 1989).

Pengendalian penyakit blendok yang efektif adalah dengan menyayat batang atau cabang yang luka, kemudian diolesi dengan fungisida yang mengadung tembaga (Nurhadi dan Whittle, 1988 dalam Muhammad et al, 2003). Selain itu, menurut AAK (1994) upaya pencegahan terjangkitnya penyakit diplodia sebelum musim hujan, tanaman jeruk disemprot dengan bubur Bourdeaux 2%, sedangkan untuk tanaman yang sudah terserang agak parah dapat disemprot dengan Supracide 40 EC dengan dosis 200 g/10 l. Sementara itu, penggunaan fungisida campuran antara kabendazim 6,20% dan mankozeb 73,80% yang dioleskan pada batang yang telah disayat kulitnya, sebanyak dua kali per tahun dapat menekan serangan sampai 72,10% (Taufik et al, 2001 dalam Muhammad et al, 2003).  Pengendalian dapat pula dilakukan dengan pelaburan bubur california pada batang.  Menurut Helmiyetti (1991) pelaburan tersebut dapat mengurangi laju infeksi serangan Diplodia pada pengamatan satu tahun, sedangkan pada pelaburan yang diimbangi dengan pemupukan NPK 1,5 kg dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas buah yang dihasilkan pada dua tahun setelah aplikasi.

Daftar Pustaka

Aksi Agraris Kanisius. 1994. Budidaya Jeruk. Kanisius, Yogyakarta. Hal 99-108.

Departemen Pertanian. 2009a. Diplodia (Botryodiplodia theobromae Pat.). (On-line) http://www.kttp.deptan.go.id/download/Diplodia.pdf diakses tanggal 18 Juni 2009.

Muhammad, H., Armiati, dan Wanti Dewayani. 2003. Jeruk Keprok dan Upaya Pelestariannya. (On-line). Jurnal Litbang Pertanian 22(3). www.pustaka-deptan.go.id/publikasi/p3223031.pdf diakses tangggal 9 Juli 2009

Semangun, H. 1989. Penyakit-Penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Hal. 397-402.

Wiratno, A.T. dan S. Nurbanah. 1997. Pengendalian Penykit Blendok pada Tanaman Jeruk Besar. (On-line). www.pustaka-deptan.go.id/agritek/jwtm0106.pdf diakses tanggal 18 Juni 2009

Zipcodezoo. 2009a. Taxonomy. (On-line). http://Zipcodezoo/B/Botryodiplodia_theobormae/ diakses 18 Juni 2009.

 

Iklan

4 thoughts on “Penyakit Diplodia

  1. pengedalian diplodia dapat digunakan dengan membuatkan pasta fungisida diplodia,,… kemudian di oleskan ke pangkal batang atau bagian yang terserang

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s