Anomali Griya Elrijal

Saat derasnya hidayah itu menghujam hati seseorang seketika ia akan sanggup untuk melawan jerat setan yang membelenggu kakinya untuk segera memenuhi panggilan adzan, menutup rapat matanya saat subuh menjelang, dan menghinggapi dadanya untuk selalu menebar benih kedengkian. Semua ringan, terasa ringan, seluruh panca indera terpusat pada satu tujuan, ridho Allah. Tidak muluk-muluk. Teringat akan salah satu tausyiah Mas Anto, kakak kelas sekaligus mentor pertamaku di kampus. Di awal tausyiahnya ia sering mengingatkan gambaran saat di padang masyar, saat mulut ini terkunci, hanya kaki, tangan, mata, dan telinga kita yang akan bersaksi atas amal perbuatan kita. Pun baju kita, sandal kita dan payung yang kita kenakan saat kita berangkat ke masjid untuk menunaikan shalat saat musim hujan tiba. Seketika aku mencoba flash back pada suatu malam, pukul 1 tepat. Tengah malam, tapi saat itu luar biasa ramai, tawa bersahutan siling berganti dan yang miris kostku kecolongan dimasuki perempuan. Na’udzubillah.. Aku hanya mengurut dada, pertanda iman yang lemah karena aku belum mampu mencegah kemungkaran dengan tangan maupun lisan. Aku hanya sanggup mengutuk diriku yang tinggal di kost sesat ini.

Disela gelak tawa aku hanya sanggup mencucurkan air mata dalam tiap raka’at shalat malamku. Aku mohon ampun karena kehadiranku belum mampu mewarnai aktivitas teman satu kostku. Aku sendiri gamang, genap satu bulan mencicipi hidangan hidayahnya, semakin sering disungguhi perilaku sesat temanku. Pukul 3 pagi, tak jarang aku mendengar deru motor anak kost sebelah yang baru pulang dengan meracau, sesekali mereka muntah-muntah. Hujan gemericik menjelang subuh, saat hendak mengambil wudhu maka akan ditemukan beragam botol minuman. Masya Allah… Perih hati ini. Aku tak bisa berbuat apa, ingin segera aku keluar dari neraka dunia ini. Adzan yang terdengar nyaring dari masjid yang persis 500 meter dari kostku menambah getir hatiku. Pelajaran subuh ini, masjid yang begitu megah dengan segala fasilitasnya belum tentu bisa memengaruhi lingkungan yang ada disekitarnya. Hujan semakin deras, dengan payung digenggamanku aku mulai menelusuri jalan menuju rumah Allah, kali ini dengan perasaan sedih aku ingin menjumpai-Nya.

Tiga tahun kemudian

Mesin motor sengaja aku matikan, seketika motor meluncur di turunan gang sempit disebarang jalan kampus. Menukik pada turunan lancip, kemudian berbelok tajam ke kiri. Tampak rumah tipe RSSS (rumah sederhana samping kali) bercat hijau dengan sandal berserakan di teras. Beragam stiker dan tempelan bernuansa islami hampir memenuhi daun pintu, seolah menegaskan bahwa penghuninya adalah muslim taat, setidaknya alim kalau orang bilang.

Memasuki ruang depan juntaian tirai akan menjulur sampai ke lantai untuk mensekat ruang depan dan ruang tengah. Ini lah kostku sekarang, dengan segala kesederhanaannya, saking sederhananya sofa merah hati, yang bolong dan buruk peninggalan pemilik rumah masih teronggok di depan televisi, meski kutut-kutu tampak rakus bersemayam di balik bundelan busa mencari darah.

Kost-an idaman, sekarang jauh lebih baik dari kost terdahulu. Tidak ada lagi suara lengkingan suara nyanyian dan petikan gitar di malam hari, kecolongan masuk perempuan, orang mabok, dan yang paling penting dapat lebih nyaman beribadah dengan berkumpul dengan orang yang aktif di kegiatan keislaman kampus. Begitulah pikirku awalnya.

Namun sebentar, Kawan.

Rupa-rupanya ada yang terlupa, tiga tahun ini aku merasakan ada yang kurang. Semangat untuk beribadah di tengah kenyamanan ini terasa biasa saja, bahkan mulai meranggas, sepi, dan berserakan. Tidak ada kompetisi untuk berlomba dalam kebaikan, pun dengan budaya saling mengingatkan. Semua berjalan mengikuti arus, kami sholat, tilawah, pergi ke kampus, aktif berorganisasi, pulang malam, nonton TV atau belajar, tidur, dan bangun lagi. Nyaris berulang dan dilakuan secara individual. Tidak ada yang menggedor-gedor pintu saat telat bangun untuk subuhan, saat penghuni kamar tertentu jarang untuk berjamaah, saat di kamarnya sepi dari tilawah. Akhirnya semua berjalan sendiri. Beberapa orang terasa dekat, tapi sebagian terasa jauh, tak ada ikatan hati. Untuk saling menasihati dalam kebaikan sungkan, untuk bertegur sapa kita enggan.

Tahun berikutnya, aku ragu untuk menetap di rumah ini, Griya Elrijal. Maaf, kawan. Bukan maksudku untuk menelanjangi rumah kita. Rumah yang pernah kita impikan untuk menjadi kos teladan di kampus. Setidaknya itulah mimpiku dulu, ingin 1 rumah dengan orang seperti kalian Tapi, sudahlah.. biar kita jalani saja kehidupan kita sendiri, sama halnya seperti keseharian kita.. Aku memandangi tulisan di samping pintu depan lekat-lekat. GRIYA ELRIJAL. Semakin aku memandanginya semakin buram, semakin abstrak, dan gelap.

-THE END –

One thought on “Anomali Griya Elrijal

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s