HADIAH DARI PAK BOS!!

(insiparasi dari temen2 yg lagi penelitian)

Seandainya aku adalah penyair pasti sudah aku goreskan mata pena untuk menggambarkan suasana pagi ini dengan sebuah syair. Cerah dan sejuk. Rasanya rela harus tiap hari berjalan kost to kampus tiap hari, kalo cuacanya kayak gini. Senyuman tujuh sentiku tak lelahnya menebarkan gambaran susana hati. Dari Bapak Satpam, Bapak Penjaga Hall Depan, dan Bapak “bersih-bersih” pun kebagian manisnya senyumku.

Hmmmhhhmm..

Sengaja aku memutar arah ke belakang kampus dan menghirup nafas panjang di sebuah saung milik petani tepat di tengah areal persawahan. Aku acungkan kepalan tangan menantang matahari, “Aku pasti bisa!!”.

Wong edan!!!!

Hah?? Aku terperanjat menurunkan kepalanku dan menoleh pada sosok kerempeng yang berdiri sepuluh meter di belakangku. Tapi, jujur saja dia terlihat anggun dengan jilbab merah hati-nya.

“Lagi ngapa kowe??” aksen banyumasannya kental. Ia cekikikan melihat aku kaget dengan teriakkan cemprengnya. Jilbab merah hati-nya tertutup helm merk ternama berwarna merah, stelan jeans hitam dan jaket merah tanpa retsleting dan dipadu kaos kuning, tak lupa tentunya sarung tangan hijau yang membuat aku berpikir, nih orang mau ke sawah apa mau narik ojek ya??

Masih heran aku memandang orang langka di depanku, dia terus nyerocos banyumasan hingga akhirnya tak kuasa untuk terpingkal-pingkal mendengar leluconnya. Beberapa teman mulai berdatangan berurutan dan saung pun semakin sesak dan riuh oleh  tawa kami, mahasiswa tingkat akhir Fakultas Pertanian.

***

Sepertinya memang matahari sudah tidak mau bersahabat lagi. Siang ini ia seratus delapan puluh kali lipat panas dari tadi pagi. Untunglah pasca membantu mbak “inyonk” di sawah tadi sempat pulang dan mandi, tapi tetap saja, GERAH.

Beberapa medium berisi biakan jamur terpaksa harus bersaing dengan segelas es jeruk dan tempe mendoan untuk mencuri perhatianku. Sayangnya Ibu kantin yang setia mengantar kami logistik keburu datang.

Horee.. kulirik sebentar biakan jamurku, si  Fusarium, ia hanya merunduk kecewa. Tenang kawan, just five minutes!! Seruku membatin.

Srruutttt…

Hanya puluhan detik, gelasku hanya tinggal menyisakan bongkahan es. Beruntunglah kami yang stay di lab saat menempuh riset (dibaca : penelitian), karena kemudahan begitu tersedia, dari WC VIP, service ibu kantin, dan tentunya snack potatoes yang kami buat sendiri dari hasil rebusan kentang untuk membuat medium Potato Dextrosa Agar / Liquid. Alhasil, laboratorium kami memang tidak pernah sepi dari mahasiswa.

Sambil berhaha-hihi dengan sesama penghuni lab (sebutan untuk mahasiswa yang penelitian di lab) aku menangkap bayangan seseorang perawakan besar dari jendela dan hilang di balik barisan rak dan lemari lab.

“Shabara Zhafira”

Telingaku menegak saat nama lengkapku disebut. Suaranya aku kenal tapi aku tak berani menengok untuk memastikan. Suara pletak-pletok langkah sepatunya aku pun kenal dan yang penting panggilan selengkap itu hanya satu orang yang sering mengucapkannya.

“ Proposalnya sudah saya koreksi. Maksud saya bukan seperti ini Shabara Zhafira” Perkataannya dingin dengan penekanan pada kata Sha-ba-ra zha-fi-ra. Penghuni lab yang lain sudah dipastikan tidak ada di tempat, entah karena dingin dan tajamnya perkataan Pak Bos atau karena kasihan melihat wajahku yang memucat. Lebih lanjut Pak Bos mencerca proposal dan hasil analisisku dengan sentuhan yang lain, dingin, datar, tapi penuh penekanan pada beberapa kata.

Lima menit yang aku janjikan pada sohibku si Fusarium molor karena harus berunding dengan Pak Bos. Kini hasil draf pertamaku telah berpindah tangan dengan penuh coretan. Man Shabara Zhafira, siapa yang bersabar akan beruntung. Keningku berkerut memprotes kenapa nasibku tak sebagus namaku.

Hawa lemari pending sudah  tak sanggup meredam emosi yang aku tahan. Hampir sepuluh menit aku benamkan kepalaku di tengah sesaknya Erlenmeyer dan tabung reaksi yang tersusun rapi di rakrak lemari pendingin. Berharap untuk beku dari rasa jengkel, kecewa, dan marah.

***

Aku sudah tak kuasa lagi berhadapan dengan laptop si “unyil”. Sengaja aku memerikan nama itu karena yang mpunya mirip unyil, hahaha…. Maaf kawan!!! Hampir tiga bulan aku berkutat dengan jamur-jamur pathogen, hawa mistis lab kalau malam, cercaan Pak Bos, dan.. teman-teman seperjuangan yang dengan setia menemani penelitian (haa… kuharap ini tidak lebay).

“Istirahat dulu Neng…”

Segelas wedang jahe tiba-tiba mampir  ke meja.

“Kak Nuunikkkk…”

Aku segera merangkul kakak kost satu ini. Ia datang di saat yang tepat.

“Srrrrrrrrrruuuutttt…….. hemm… Mantap kak ”.

Kakak Nunik membuka file skripsiku dan manggut-manggut,

“Alhamdulillah.. akhirnya kamu bisa melewatinya dengan baik” ia membalikkan badannya padaku “apa kata kakak.. sesuatu yg kita kerjakan dengan sungguh sungguh pasti akan memperoleh kesuksesan, Man jadda wajada!”

Aku hanya cengangas-cengenges..

“Oia, besok jadi pakai rok? ” tanya kakak Nunik dengan menahan tawa.

“Kakaaak…..” akhirnya cubitanku mendarat di punggung kak Nunuk. “Jangan ngeledek deh” aku pasang tampang cemberut.

“Iya deh” Kak Nunik hanya cekikikan melihat tingkahku dan segera pamitan untuk kembali ke kamarnya.

“Sukses ya buat besok”.

***

Deg!

“Selamat Datang di Seminar Hasil Penelitian saudara Shabara Zhafira…. ”

Keringat sebesar biji jagung dengan tanpa malunya meluncur di keningku. Dengan lihainya Mbak Inyonk menjadi moderator pagi ini. Saat tiba giliranku untuk mempresentasikan hasil penelitianku. Aku hanya mampu sekejap untuk berdo’a dan berucap basmallah.

HHmmm… Aku mampu berdiri dan menerangkan hasil penelitianku dengan lancar.

Sesekali aku melihat raut wajah Pak Bos. Ia begitu ekspresif melihat slide presentasiku, tampak bersahabat dan membuatku semakin bersemangat untuk segera mengakhiri seminar ini.

Yang aku ingat, saat tepukan tangan dari audience saat Pak Bos mengumumkan nilai seminarku mendapat A, aku baru sadar dan merasakan kembali berpijak di bumi.

***

“Shabara Zhafira…”

Khas sekali panggilan itu ditelingaku..

Aku memutar badan untuk mencari suara itu. Genap lima tahun pasca lulus kuliah belum pernah ada yang memanggil namaku selengkap itu. Dan kalian pun tahu hanya satu orang yang selalu memanggilku seperti itu.

“Shabara Zhafira…” seorang laki-laki paruh baya menepuk bahuku.

“Pak Boss…” aku sontak kaget melihatnya ada di Jakarta dan segera aku menyalami tangannya.

Rupanya Pak Bos sedang menengok anaknya yang sekarang tinggal di Jakarta. Sumpah.. tak percaya aku bisa bertemu dengannya. Ia bercerita banyak mengenai kampusku dan adik-adik kelasku sekarang di sana.

“Oia, Bapak belum sempat bilang kalau kamu memang murid yang baik dan pekerja keras”.

“Mungkin ini telat” sepertinya Ia mampu membaca pikiranku.

“.. tapi bapak bersyukur akhirnya didikan Bapak yang keras sama kamu berbuah juga bukan ??” Ia tersenyum dan terkekeh melihatku.

“Selamat ya Bu Menejer” ia kemudian menyalamiku dan berpamitan, Ada rasa haru dan sesal, kenapa Pak Bos tak sebaik itu saat membimbing skripsiku. Tapi sudahlah.. terima kasih Pak Bos. Ini adalah hadiah terindah dari Bapak.

Iklan

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s