Pseudomonas fluorescens P60

Pseudomonas fluorescens P60 berbentuk batang lurus atau agak lengkung, berukuran (0,5-1,0) x (1,5-5,0)µm, tidak spiral, bergerak dengan satu atau beberapa flagellum polar, dan bersifat gram negatif. Bakteri hidup secara aerob, mempunyai tipe pernapasan secara tegas dari metabolisme, dengan oksigen sebagai penerima elektron akhir (terminal), mempunyai tipe metabolism respirasi tidak fermentatif, dan menggunakan denitrifikasi sebagai pilihan. Beberapa bakteri bersifat kemolitotrof fakultatif, yang menggunakan H2 sebagai sumber energi, sedangkan mekanisme respirasinya bersifat aerob (Soesanto, 2008).

Gambar 2. Koloni Bakteri Pseudomonas fluorescens P60 di bawah sinar UV.

Menurut Goto (1992), pengkelasan Pseudomonas fluorescens adalah:

Kingdom          : Prokariota

Divisi                : Gracilutes

Kelas               : Proteobacteria

Ordo                : Pseudomonadales

Family : Pseudomonadaceae

Genus               : Pseudomonas

Spesies             : Pseudomonas fluorescens

P. fluorescens mengeluarkan pigmen hijau, merah hijau, merah jambu, dan kuning terutama pada medium yang kekuranagn unsur besi. P. fluorescens membentuk pigmen berpendar yang dikenal dengan nama fluorescein. Akan tetapi, sekarang lebih banyak digunakan istilah pyoverdin untuk menghilangkan kebingungan dengan fluorescein yang disintesis secara kimia, yakni resorcinolphthalein. Pyoverdin terdiri atas peptide 5-8 asam amino dan kromofor turunan kuinolin yang berberat molekul sekitar 1.000. Pyoverdin mempunyai kemampuan sebagai senyawa pengikat besi dan pengangkut besi atau siderofor (Soesanto, 2008).

Bakteri P. fluorescens dapat memberikan pengaruh menguntungkan terhadap perkembangan dan pertumbuhan tanaman, yaitu sebagai “ Plant Growth Promoting Rhizobacteria” (PGPR). Bakteri juga menghasilkan antibiotika yang dapat menghambat pertumbuhan patogen, terutama patogen tular tanah dan mempunyai kemampuam mengoloni akar tanaman. Bakteri mempunyai tipe interaksi dengn patogen berupa pesaing hara, penghasil antibiotika, siderofor, dan asam sianida (Soesanto, 2008).

Strain P. fluorescens P60, yang diisolasi dari rizosfer gandum, dan menghasilkan antibiotika 2,4-diasetil floroglusinol (Phl) dapat menghambat patogen layu Verticilium dahliae pada tanaman kentang dan terung (Soesanto, 2000). Menurut hasil penelitian Rokhlani (2005), perlakuan secara gabungan antara Trichoderma harzianum, Gliocladium sp., dan P. fluorescens P60 memberikan pengaruh positif dalam menekan penyakit layu fusarium pada tanaman gladiol hingga 53,98%. Sementara itu, Hastopo (2007) melaporkan bahwa agensia hayati yang paling efektif untuk mengendalikan penyakit layu fusarium pada tanaman tomat  adalah P. fluorescens P60 yang diberikan 2 minggu sebelum tanam karena dapat menekan penyakit layu fusarium sebesar 28,51%, menurunkan populasi akhir patogen F. oxysporum sebesar 35,08% dan populasi P. fluorescens P60 meningkat.

Selain itu, hasil pengujian P. fluorescens P60 in planta terhadap jamur Verticilium dahliae pada tanaman terung menunjukkan bahwa P60 mampu menekan secara nyata infeksi jamur baik yang menyerang batang maupun akar. P. fluorescens P60 mampu mengendalikan penyakit layu Verticilium serta menghambat pertumbuhan jamur V. dahliae dan pembentukan mikrosklerotiumnya. Gabungan antara P. fluorescens P60 dengan Talaromyces flavus lebih meningkatkan pengendalian V. dahliae, dan jauh lebih baik dari penerapan secara tunggal  (Soesanto dan Termorshuizen, 2001, 2004).

Santoso et al. (2007) melaporkan bahwa P. fluorescens P60 mampu menekan intensitas penyakit moler pada tanaman bawang merah sebesar 41,08%. Soesanto et al. (2003)  melaporkan bahwa perendaman sklerotium ke dalam larutan bakteri P. fluorescens P60 dapat menekan perkecambahan sklerotium sampai 99,8% untuk perendaman selama 1000 menit. Perendaman selama 10 menit telah mampu menekan perkecambahan sklerotium sebesar 92%.  Hidayat (2002) menambahkan, perlakuan P. fluorescens P60 konsentrasi 106 upk/ml mampu menurunkan jumlah sklerotium akhir, intensitas penyakit, dan AUDPC (daerah dibawah lengkung laju penyakit) berturut-turut 48-86, 750, 95,82-99,2, dan 85,71-99,26%.

Hal ini diduga karena P. fluorescens P60 mampu menguasai permukaan perakaran secara luas dan menghasilkan antibiotika, sehingga patogen terganggu perkembangannya. Bakteri antagonis P.  fluorescens P60 mampu mengimbas ketahanan tanaman terhadap mikroba patogen. Menurut Azizah (2009), bibit tanaman pisang yang diimbas dengan ekstrak bakteri P. fluorescens P60 dan P. fluorescens P32 menunjukkan lebih tahan terhadap penyakit layu fusarium.

Secara umum, metabolit sekunder yang dihasilkan oleh P. fluorescens memegang peranan penting dalam pengendalian hayati penyakit tanaman. Metabolit sekunder yang berperan penting dalam pengendalian hayati, yaitu siderofor, pterin, pirol, fenazin, dan aneka senyawa antibiotika. Metabolit sekunder tertentu berperan di dalam membunuh secara langsung atau hanya menghambat patogen. Produksi metabolit sekunder antimikroba dan pengaruhnya terhadap patogen tanaman sangat tergantung pada faktor lingkungan, seperti kimia tanah, suhu, dan potensi air (Soesanto, 2008).

Iklan

2 thoughts on “Pseudomonas fluorescens P60

  1. Selamat siang Evan, saya sangat tertarik membaca artikel anda tentang Pseudomonas fluorescens P60, dan penelitian skripsi S1 saya memiliki tema yang kurang lebih sama, tentang aplikasi P. Fluorescens P60 pada cabai, apakah boleh saya meminta bahan yang lebih lengkap mengenai hal ini? kalau boleh, mohon dikirimkan ke email saya di : jouleputra@yahoo.com
    Terima kasih sebelumnya.

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s