Kevirulenan Patogen

Menurut Siregar (2003), secara umum tumbuhan akan memberikan tanggap terhadap serangan patogen dan tanggap tersebut akan bertanggung jawab terhadap ketahanan tanaman terhadap patogen. Akibat adanya serangan patogen akan memberikan reaksi pertahanan untuk melindunginya. Tanaman akan mempertahankan diri dengan dua cara, yaitu (1) adanya sifat struktur pada tanaman yang berfungsi sebagai penghalang fisik dan akan menghambat patogen untuk masuk dan menyebar di dalam tanaman, (2) tanggap biokimia yang berupa reaksi kimia yang terjadi di dalam sel dan jaringan tanaman sehingga patogen dapat mati atau terhambat pertumbuhannya.

Pada kondisi normal, tanaman tahan terhadap kebanyakan mikroba patogen. Hanya relatif sedikit terdapat kombinasi hubungan patogen-inang yang terjadi. Kejadian biokimia yang terdapat pada interaksi tanaman inang dan bukan inang dengan suatu patogen adalah sama, tetapi intensitas dan bentuk penampilannya tergantung pada kondisi lingkungan dan fisiologinya (Siregar, 2003).

Lebih lanjut dikatakan, sebelum patogen dapat mencapai proses infeksi, patogen harus terlebih dahulu dapat mengatasi penghalang yang melindungi tanaman. Umumnya virus dan bakteri masuk ke dalam tanaman melalui luka atau dengan bantuan vektor. Jamur patogenik dapat masuk ke dalam tanaman melalui luka atau bagian tanaman yang terbuka secara alamiah, seperti stomata atau secara aktif menetrasi lapisan permukaan tanaman.

Beberapa jamur patogen tanaman mengeluarkan kutinase yang merupakan suatu enzim yang mengkatalisasi degradasi kutin. Sintesis enzim ini terinduksi oleh adanya kutin pada tanaman. Terjadinya penghambatan yang khusus oleh enzim ini dapat melindungi tanaman dari infeksi jamur (Siregar, 2003).

Kevirulenan strain Fusarium yang berbeda pada tanaman berkolerasi dengan tingkat kutinase yang dihasilkan pada saat perkecambahan spora. Pada konteksi ini kutin merupakan penghalang utama pada tanaman terhadap serangan mikroba fitopatogen. Sebaliknya dan telah diketahui bahwa untuk patosisitem pada kultivar tahan, penetrasi dari kutikel terjadi secara bebas dengan mengabaikan kevirulenan jamur dan tingkat kerentanan tanaman (Siregar, 2003).

Patogen yang lebih virulen akan mampu dengan cepat menginfeksi inangnya dan menghasilkan inokulum yang lebih banyak jika dibandingkan dengan patogen yang kurang virulen. Oleh karena itu, tanaman yang diserang patogen yang tingkat kevirulenannya tinggi akan lebih cepat sakit (masa inkubasi gejala cepat), berat serangannya lebih tinggi (parah), dan patogennya lebih cepat menghasilkan inokulum dalam jumlah yang banyak. Pada tingkat kevirulenan yang sama, maka semakin banyak jumlah propagul yang terdapat pada atau dekat tanaman inang, akan mengakibatkan lebih banyak inokulum yang dapat mencapai inangnya, sehingga akan lebih besar peluang terjadinya epidemi (Siregar, 2003).

Agrios (2005) menambahkan bahwa kevirulenan mikroba patogen terhadap satu atau semua inangnya sering menurun apabila patogen tersebut tetap dipelihara di dalam biakan dalam jangka waktu cukup lama, atau apabila patogen tersebut digilir satu kali atau lebih pada inang yang berbeda. Patogen yang pernah kehilangan sebagian atau seluruh kevirulenannya pada medium biakan atau pada inang lain sering mendapatkan kembali sebagian atau seluruh kevirulenannya, jika diinokulasikan kembali lagi ke inangnya. Cook et al. (1981) menambahkan bahwa kehilangan kevirulenan suatu patogen tidak dapat kembali.

2 thoughts on “Kevirulenan Patogen

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s