Bioekologi Tanaman Padi Gogo

Tanaman padi termasuk golongan tanaman Gramineae atau rerumputan, yang ditandai dengan batang yang tersusun dari beberapa ruas (Siregar, 1981). Klasifikasi tanaman padi menurut Plantamor (2008) sebagai berikut.

Kingdom          : Plantae

Subkingdom     : Tracheobionta

Superdivisio      : Spermatophyta

Divisio              : Magnoliophyta

Kelas               : Liliopsida

Subkelas          : Commelinidae

Ordo                : Poales

Famili               : Poaceae

Genus               : Oryza

Spesies : Oryza sativa L.

Padi, selain ditanam di sawah dengan pengairan sepanjang musim, ada juga yang ditanam di tegalan, tanah hutan yang baru dibuka, lahan pasang surut dan rawa, sehingga terdapat istilah padi ladang, padi gogo, padi gogo rancah dan padi lebak (Siregar, 1981). Siregar (1981) juga menyatakan, padi gogo dan padi ladang sebenarnya hampir sama, yaitu sama-sama ditanam di lahan kering. Perbedaannya terletak pada lahan yang dipergunakan untuk menanam, dimana padi ladang ditanam secara tidak menetap pada lahan bekas hutan atau semak belukar, sedangkan padi gogo ditanam pada lahan permanen.

Menurut Prihatman (2008), padi dapat dibedakan menjadi padi sawah dan padi gogo. Padi sawah biasanya ditanam di daerah dataran rendah yang memerlukan penggenangan, sedangkan padi gogo ditanam di dataran tinggi pada lahan kering. Tidak terdapat perbedaan morfologis dan biologis antara padi sawah dan padi gogo, yang membedakan hanyalah tempat tumbuhnya (Siregar, 1981).

Syarat tumbuh padi gogo menurut Prihatman (2008) sebagai berikut.

  1. Ditanam di dataran tinggi dengan ketinggian 650 – 1500 m dpl, dengan suhu 19 – 23 oC.
  2. Media tanam yang baik untuk padi gogo adalah tanah yang berhumus, struktur remah dan cukup mengandung air dan udara.
  3. Memerlukan ketebalan tanah 25 cm, tanah yang sesuai bervariasi, mulai yang berliat, berdebu halus, berlempung halus, sampai tanah kasar.
  4. Keasaman tanah bervariasi dari 4,0 – 8,0.

Walaupun padi gogo memiliki potensi yang baik, tetapi masih kurang mendapat perhatian, karena produktivitasnya yang masih rendah jika dibandingkan dengan padi sawah (Syiena, 2008). Berdasarkan data BPS (2006), produksi padi gogo hanya 2,56 ton/ha, jauh lebih rendah dibanding dengan padi sawah yang mencapai 4,78 ton/ha. Selain itu, beras yang dihasilkan padi gogo kurang disukai konsumen, karena tekstur nasi yang pera dan rasa nasi yang kurang enak (Syiena, 2008). Oleh karena itu, para ilmuwan berusaha memperbaiki sifat padi gogo, sehingga dapat lebih disukai dan berproduksi tinggi. Salah satunya dengan mengembangkan padi gogo aromatik.

Menurut Syiena (2008), padi gogo aromatik adalah padi gogo yang memiliki wangi yang khas dan dikembangkan dengan tujuan memperbaiki sifat padi gogo pada umumnya. Padi gogo aromatik diharapkan memiliki sifat hasil produksi tinggi, tahan penyakit blas, tahan rebah, lebih adaptif terhadap lahan kering serta memiliki sifat nasi yang pulen dan wangi (Syiena, 2008).

Iklan

3 comments

  1. nih dpet referensi dri mn??? mksd na untuk daftar pustaka??? kyk ex : prihatman??? buku apa n thun brp???

    terima ksih….

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s