Bioekologi Tanaman Kentang

Kentang merupakan tanaman semusim dari famili Solanaceae yang berumur pendek dan berbentuk perdu (Samadi, 2003). Daunnya majemuk yang menempel di satu tangkai dengan warna daun hijau muda sampai gelap dan tertutup oleh bulu halus (Sunarjono, 2007). Menurut Hartus (2001), klasifikasi kentang adalah:

Divisi          : Spermatophyta

Subdivisi     : Angiospermae

Kelas         : Dicotyledonae

Ordo          : Tubiflorae

Famili         : Solanaceae

Genus         : Solanum

Spesies       : Solanum tuberosum L

Berdasarkan warna umbinya, kentang dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu kentang merah, kentang putih, dan kentang kuning. Kentang merah merupakan kentang yang memiliki kulit merah dan daging kuning, golongan yang termasuk kentang merah diantaranya dasiree, arka, dan red pontiac. Kentang putih merupakan kentang yang kulit dan dagingnya berwarna putih, contohnya radosa, sebago, dan donata. Kentang kuning merupakan kentang yang kulit dan dagingnya berwarna kuning, golongan ini diantaranya patrones, eigenheimer, dan granola (Taufiq dan Indarto, 2004).

Tanaman kentang dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik apabila ditanam pada kondisi lingkungan yang sesuai dengan persyaratan tumbuhnya. Keadaan tanah dan iklim merupakan dua hal yang penting untuk diperhatikan, selain faktor penunjang lainya (Rukmana, 2006). Sunarjono (2007) menyatakan bahwa selain hama dan penyakit tanaman, faktor lain yang mempengaruhi produksi kentang adalah kondisi lahan, iklim, teknik budidaya, jumlah tunas, dan varietas kentang.  Kondisi lahan meliputi jenis tanah, kesuburan tanah, dan ketinggian tempat.

Kentang menghendaki tanah yang subur dengan kandungan bahan organik tinggi. Tekstur tanah yang ideal untuk tanaman kentang adalah lempung berpasir sehingga struktur tanah remah, gembur, dan tidak mengakibatkan air menggenang sewaktu hujan. Keasaman (pH) tanah yang optimal untuk tanaman kentang adalah antara 5-5,5. Pada pH kurang dari 5, tanaman akan mengalami defisiensi Posfor (P) dan magnesium (Mg) serta keracunan mangan (Mn). Pada pH tinggi tanaman akan mengalami defisiensi kalium (K) (Hartus, 2001). Menurut Samadi (2003), keadaan pH yang sesuai untuk tanaman kentang bervariasi antara 5,0-7,0 tergantung varietasnya.

Tanaman kentang tumbuh baik di daerah pegunungan atau dataran tinggi dengan ketinggian 800-1500 m di atas permukaan laut (dpl). Akan tetapi, tempat pada ketinggian tersebut sangat terbatas, sehingga saat ini banyak dikembangkan kentang di dataran menengah, yaitu antara 400-600 m dpl (Sunarjono, 2007).

Pertumbuhan tanaman kentang membutuhkan suhu udara antara 15-23 oC. Pembentukan umbi membutuhkan suhu siang 17,7-23,7 oC dan suhu malam antara 6,1-12,2 oC (Rukmana, 2006). Apabila suhu di bawah 10 oC atau di atas 30 oC akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Setiadi dan Nurulhuda, 2004).  Kelembapan udara optimal untuk kentang berkisar antara 60% samapai 85% (Hartus, 2001). Menurut Samadi (2003), kelembapan udara yang rendah akan menghambat pertumbuhan tanaman dan pembentukan umbi.

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s