BIOEKOLOGI Myzus persicae

PENDAHULUAN

Pembangunan pertanian saat ini telah mencapai pengembangan agribisnis dan agroindustri. Pengembangan tersebut telah mendorong pertumbuhan sektor pertanian tetap terjadi peningkatan Perkembangan pertanian dalam hal budidaya tentu saja tidak akan terlepas dari adanya serangan organisme penganggu tanaman, seperti hama tanaman.

Hubungan antara tanaman dan hama tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Tanaman sangat diperlukan oleh hama sebagia tempat berlindung, makanan dan berkembangbiak. Adapun tanaman yang yang terserang oleh hama akan mengalami kerusakan dan menimbulkan gejala kerusakan (Sumarsono dan Achmad Munadjat, 2004).

Golongan hama yang banyak berpotensi menjadi hama adalah dari kelas insekta. Salah satunya dari jenis kutu (aphididae), seperti Myzus persicae Sulzer. M. persicae merupakan hama yang cukup penting, sebab selain sebagai hama yang menyerang pucuk tanaman, juga berperan sebagai vektor virus, misalnya Citrus Vein Enation Virus (CVEV). Saat mengisap cairan dari daun, kutu daun mengeluarkan toksin dan menularkan virus melalui air ludahnya sehingga timbul gejala kerdil, deformasi dan terbentuk puru pada helaian daun (Departemen Pertanian, 2009a).

Oleh karena itu, pada tugas terstruktur ini akan dibahas mengenai hama M. Persicae untuk dikaji lebih lanjut bioekologinya.

PEMBAHASAN

Hama Myzus persicae merupakan kutu daun yang bersifat kosmopolitan dan polipagus. Tanaman inang yang lebih disukai di Indonesia adalah tanaman tembakau, tetapi di daerah Pulau Jawa hama ini ditemukan pula pada tanaman kentang (Kalshoven, 1982).

Myzus persicae merupakan vektor lebih dari 150 strain virus (Pracaya, 2007). Hal tersebut sesuai dengan Departemen Pertanian (2009b) bahwa M. persicae merupakan salah satu penyebar dan pembawa / vektor penyakit puru berkayu yang disebabkan oleh CVEV. Penyakit ini biasa terjadi pada tanaman jeruk nipis (Citrus aurantifolia) dan tanaman jeruk dengan batang bawah Rough Lemon.

Klasifikasi dari M. persicae adalah (Zipcodezoo, 2009)

Kingdom: Animalia

Phylum : Arthropoda

Kelas : Insekta

Ordo : Hemiptera

Famili : Aphididae

Genus : Myzus

Spesies : Myzus persicae

Menurut Pracaya (2007) keberadaan hama M. persicae dapat mengakibatkan kualitas daun mejadi rendah karena ada embun madu beserta embun jelaga. Kutu daun ini menyerang tunas dan daun muda dengan cara menghisap cairan tanaman sehingga helaian daun menggulung. Koloni kutu mengeluarkan toksin melalui air ludahnya sehingga timbul gejala kerdil, deformasi dan terbentuk puru pada helaian daun (Deptan, 2009a).

Gejala serangan khas diawali dengan mengkoloninya M. persicae pada bagian bawah permukaan daun muda (pucuk), kemudian daun muda (pucuk) akan berpilin melengkung ke dalam (Gambar 1). Hal tersebut disebabkan cairan dalam daun dihisap oleh hama M. Persicae. Serangan berat pada bibit dapat menyebabkan daun menjadi rontok, sebab daun yang berada di daerah hisapan menjadi rapuh. Selain itu, keberadaan hama M. persicae dapat menarik cendawan jelaga tumbuh pada daun jeruk. Sementara itu Soelarso (1996) menyebutkan bahwa hama M. persicae juga dapat menyerang tunas muda dengan menghisap cairannya.

Gambar 1. Gejala serangan hama M. persicae pada daun jeruk keprok garut

Pada umumnya kutu daun tidak bersayap dan berwarna hijau pudar atau hijau kekuningan. Panjang lebih kurang 1,8 – 2,3 mm. Sementara itu, kutu daun dewasa yang bersayap mempunyai panjang lebih kurang 2 – 2,5 mm. Kepala dan dada kutu dewasa berwarna coklat sampai hitam dengan perut hijau kekuningan. Panjang antena sama dengan ukuran panjang tubuhnya (Pracaya, 2007).

  1. (b)

Gambar 2. Morfologi hama M. persicae, (a) tanpa sayap, (b) bersayap.

Menurut Soelarso (1996) pengendalian M. persicae dilakukan setelah koloni kutu terlihat pada tunas, yakni dengan insektisida yang mengandung bahan aktif Methidathion (Supracide 40 EC), Dimethoate ( Prefekthion, Rogor 40 EC dan Cygon), Diazinon (Basudin 60 EC, Basazinoon 30 EC), Phosphamidon (Dimecron 50 SCW), Melathion (Gisonthion 50 EC), Confidor, dan Afugan. Sementara itu, pengendalian hayati dapat dilakukan dengan pemanfaatan musuh alami, seperti Larva lalat Syrphidae dan lembing Chilomenes sexmaculatus dari Coccinellidae (Pracaya, 2007). Menurut Kalshoven (1982) larva Syrphidae dan larva Menochilus sp dari Coccinellidae sangat efektif sebagai musuh alami dari hama M. persicae.

KESIMPULAN

Hama Myzus persicae merupakan hama yang cukup penting pada tanaman sebab bersifat polipag dan kosmopolitan. Selain itu, kerusakan yang ditimbulkan dapat berlipat ganda dengan munculnya embun jelaga dan peranannya sebagai vektor virus. Pengendalian yang dapat dilakukan dapat dengan pengendalian hayati, seperti pengembangan musuh alami, dan pengendalian secara kimia yaitu dengan pestisida síntesis.

Iklan

4 thoughts on “BIOEKOLOGI Myzus persicae

  1. Aslmkm…
    i like this site,,
    at least i find one ,ore IMMPERTI friend…^_^
    Afwan, ada info tentang biopestisida berbahan Lantana camara?

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s