Bioekologi Tanaman Pisang

Pisang (Musa sp.) merupakan komoditas buah tropika yang sangat popular di dunia.  Hal ini dikarenakan rasanya lezat, gizinya tinggi, dan harganya relatif murah.  Pisang merupakan salah satu tanaman yang mempunyai prospek cerah karena di seluruh dunia hampir setiap orang gemar mengonsumsi buah pisang.  Selain itu, tanaman pisang sangat mudah dibudidayakan dan cepat menghasilkan sehingga lebih disukai petani untuk dibudidayakan.  Banyak jenis tanaman pisang komersial yang telah dibudidayakan di Indonesia.

Hampir setiap tempat dapat dengan mudah ditemukan tanaman pisang. Pusat produksi pisang di Jawa Barat adalah Cianjur, Sukabumi, dan daerah sekitar Cirebon. Tidak diketahui dengan pasti luas perkebunan pisang di Indonesia. Walaupun demikian Indonesia termasuk salah satu negara tropika yang memasok pisang segar atau kering ke Jepang, Hongkong, Cina, Singapura, Arab, Australia, Negeri Belanda, Amerika Serikat, dan Perancis. Nilai ekspor tertinggi pada tahun 1997 adalah ke Cina (Sunarjono, 2004).

Pengkelasan botani tanaman pisang adalah:

Divisi               :           Spermatophyta

Sub divisi          :           Angiospermae

Kelas               :           Monocotyledonae

Keluarga          :           Musaceae

Genus               :           Musa

Spesies :           Musa spp.

Jenis pisang dibagi menjadi empat:

  1. Pisang yang dimakan buahnya tanpa dimasak, yaitu M. paradisiaca var. sapientum, M. nana atau disebut juga M. cavendishii, dan M. sinensis. Misalnya, pisang ambon, susu, raja, cavendish, dan barangan.
  2. Pisang yang dimakan setelah buahnya dimasak, yaitu M. paradisiaca forma typica atau disebut juga M. paradisiaca normalis. Misalnya, pisang nangka, tanduk, dan kepok.
  3. Pisang berbiji, yaitu M. brachycarpa, yang di Indonesia dimanfaatkan daunnya. Misalnya, pisang batu dan klutuk.
  4. Pisang yang diambil seratnya, misalnya pisang manila (abaca).

Pisang termasuk tanaman yang mudah tumbuh di sembarang tempat. Namun, agar produktivitasnya optimum, sebaiknya pisang ditanam sesuai dengan syarat agronomi dan agroklimat tanamannya, yaitu dataran rendah tropika basah dengan ketinggian 100-700 m dpl dan suhu udara 22-320 C, tidak terdapat angin kencang, subur, dan terutama harus ada sumber pengairan saat musim kemarau panjang. Di daerah beriklim basah dengan curah hujan merata sepanjang tahun (2.000-3.000 mm/tahun), ketersediaan sumber air menjadi kurang penting bagi tanaman pisang (Sunarjono, 2004).

Selain syarat tersebut, pada tanah tandus atau marginal (karena banyak erosi, bercadas, atau berpasir kuarsa), sangat diperlukan pemberian bahan organik (pupuk kandang atau kompos) yang tinggi (40-60 kg/tanaman). Kemiringan tanah pun perlu diperhatikan. Daerah dengan agak miring (kemiringan kurang dari 10%) sangat baik sebagai kebun pisang. Hal ini disebabkan penutasan (draenase) air lebih mudah dibanding lahan datar (Sunarjono, 2004).

One thought on “Bioekologi Tanaman Pisang

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s