Tips studi ke Jepang tanpa biaya

Akhir-akhir ini banyak students dan juga alumni yang tertarik untuk melanjutkan studi ke Negeri Sakura. Berbagai alasan yang melatarbelakangi keinginan tersebut diantaranya: Jepang merupakan negara yang sudah maju dari sisi sains dan teknologi, Jepang memberikan jaminan studi dengan scholarshipnya (monbukagakusho scholarship dll), Perguruan tinggi di jepang mempunyai banyak bidang keilmuan dan mayoritas high quality dibandingkan dengan kampus di luar jepang, Kultur Jepang yang hampir sama dengan Indonesia karena adat timurnya, dan lain-lain.
Namun terkadang keinginan tersebut memudar dikarenakan ketidaktahuan informasi jalan menuju ke Jepang. Sebagaimana dulu penulis juga sempat pesimis dikarenakan susahnya menembus beasiswa. Berikut ini beberapa tips yang menjadi pengalaman penulis dan juga sebagian teman-teman yang berhasil mendapatkan berbagai macam beasiswa melanjutkan studi postgraduate ke Jepang.
1. Tingkatkatkan IPK dan TOEFL
Ya, IPK (Indeks prestasi Komulatif) dan Test of English as Foreign Language (TOEFL) adalah syarat awal yang paling urgen untuk mendapatkan beasiswa studi ke Jepang. Diusahakan agar IPK minimal 3.51 dan TOEFL score minimal 550. Walaupun terkadang syarat minimal tersebut juga harus berkompetisi dengan alumni universitas bergengsi di Indonesia. Ada kasus-kasus khusus yang syarat tersebut bisa tembus walaupun di bawah standar di atas. Misalnya dikarenakan adanya kedekatan personal dengan sensei (calon professor pembimbing) atau karena berasal dari kampus yang sudah mengadakan kerja sama dengan universitas Jepang. Namun, akhir-akhir ini universitas di Jepang tetap mensyaratkan IPK dan TOEFL sebagai standar mutlak untuk studi ke Jepang. Oleh karena itu, mulai meningkatkan IPK dan TOEFL adalah jalan awal untuk mendapatkan beasiswa.
2. Menfokuskan bidang penelitian untuk proposal riset
Banyak students yang menginginkan untuk studi lanjut. Namun ketika ditanya mengenai bidang risetnya, mereka belum bisa memberikan jawaban secara spesifik tentang topik risetnya. Misalnya, ketika ditanya tentang bidang risetnya, mereka menjawab Fisika spektroskopi. Padahal di dalam spektroskopi sendiri banyak cabang keilmuanya, diantaranya spektroskopi molekuler dan spektroskopi atomik. Di dalamnya masih ada cabang lagi diantaranya, X-ray spektroskopi, Raman spectroscopy, Plasma spektroskopi, Laser spektroskopi, absorption spectroscopy, emission spectroscopy dll. Oleh karena itu, sedetail mungkin menfokuskan bidang keilmuan adalah bagian penting dari persiapan studi lanjut.
3. Adanya korelasi antara bidang keilmuan di S1 dengan proposal riset untuk S2.
Korelasi keilmuan ini adalah sangat penting untuk bisa mendapatkan grant studi lanjut ke Jepang. Akan mengalami kesulitan kalau bidang keilmuan tidak sealur. Misalnya bidang Biologi seharusnya mencoba mencari bidang keilmuan lanjutan ke biologi sains, biologi molecular, atau biologi biochemistry. Kalau memaksakan diri ke bidang electrical engineering atau civil engineering, probabilitas untuk mendapatkan beasiswa akan sangat kecil. Namun perlu penulis sampaikan bahwa ada beberapa keilmuan yang mempunyai alur sama walaupun beda program studi. Misalnya, bidang Fisika Atom bisa mengajukan proposal riset untuk S2 ke bidang Teknik Nuklir, Ilmu spektroskopi, Nuklir kedokteran, dll. Oleh karena itu, mulai di kaji korelasi bidang keilmuan kita sekarang dengan bidang yang akan ditekuni selama posgraduate di Jepang.
4. Membangun komunikasi dengan institusi terkait dengan bidang keilmuan kita.
Kita sudah mengetahui bahwa mayoritas untuk fresh graduate biasanya belum mempunya institusi setelah baru saja selesai studi S1. Oleh karena itu, selama di S1 diharapkan bisa menjalin komunikasi dengan institusi-institusi yang sesuai dengan bidang kita. Khusus untuk kampus-kampus yang belum menjalin kerjasama dengan univeritas di Jepang contohnya Fisika Undip dengan Universitas Fukui Jepang, maka sudah sepatutnya students mencoba aktif untuk menjalin komunikasi dengan institusi di luar kampus. Hal ini akan kita gunakan untuk memenuhi persyaratan untuk mengisi formulir registrasi bahwa pasca studi dari Jepang, kita akan kembali ke Indonesia dan membangun Indonesia melalui institusi tersebut. Walaupun hanya secara formal, institusi tersebut sangat kita butuhkan. Untuk kampus-kampus yang sudah membangun kerjasama, biasanya applicants menggunakan atas nama institusinya (seperti UI dan ITB) bahwa nantinya mereka akan kembali ke Indonesia untuk menjadi lecturers walaupun bukan PNS. Untuk applicants yang sudah mempunyai institusi, maka otomotasi persiapan di point ini gugur.
5. Mulai mencari ide riset untuk proposal postgraduate
Mencari ide riset yang sesuai dengan bidang keilmuan sedini mungkin. Pencarian ide riset bisa dilakukan dengan menanyakan topik riset dosen kita yang pernah studi ke jepang. Pencarian juga bisa dilakukan melalui internet (searching by google bagian scholars) dengan keywords topik riset kita. By searching, kita akan menemukan journal papers yang biasanya terdiri atas authors dan hasil riset. Kalau tidak bisa mendownload dikarenakan harus membayar, kita mencoba meminta bantuan senior yang sedang belajar di luar negeri untuk mendownload dikarenakan biasanya universitas internasional sudah langganan journal. Namun, sebisa mungkin cari yang gratisan dulu. Selain melalui internet, kita bisa mencari ide-ide riset dengan menghadiri seminar-seminar atau konferensi yang keynote speaker nya berasal dari Jepang.
6. Mencari professor pembimbing untuk postgraduate
Sebagaimana point no. 5, mencari professor bisa dilakukan dengan memohon dosen pembimbing kita yang pernah belajar ke Jepang untuk memberikan kontak person dengan professor di jepang. Cara ini adalah paling efektif karena professor biasanya sudah mengenal dosen pembimbing kita dengan baik. Sehingga kita diuntungkan melalui human relations dengan dosen pembimbing kita. Selain itu, pencarian bisa menghubungi professor yang ada di author journal yang telah kita temukan melalui internet. Kontak professor bisa dilakukan dengan email. Alternatif lain adalah bertemu langsung dengan professor saat acara seminar, konferensi, workshop, kunjungan kerja, pameran pendidikan, joint riset di Indonesia dll.
7. Membangun komunikasi dengan calon professor pembimbing
Membangun komunikasi dengan professor adalah sangat penting setelah kita mendapatkan professor melalui point 6. Membangun komunikasi bisa dilakukan dengan korespondesi melalui email dengan menanyakan hasil-hasil riset dari professor dan masalah-masalah yang ditemuai saat membaca hasil riset professor. Komunikasi ini sangat penting karena akan meyakinkan professor bahwa kita benar-benar serius untuk studi postgraduate di laboratoriumnya.
8. Pencarian beasiswa
Ini adalah point yang paling penting karena tanpa beasiswa kita cukup mengalami kepayahan selama studi di Jepang. Perlu diketahui bahwa untuk registrasi di universitas di Jepang kita membutuhkan biaya sekitar Rp 30 juta. Biaya per semester sekitar Rp 25 juta. Biaya hidup tinggal di Jepang sekitar Rp 8 juta/bulan. Oleh karena itu beasiswa sangat penting untuk kelancaran studi kita. Beberapa beasiswa yang bisa kita dapatkan di antaranya, beasiswa monbukagakusho (beasiswa resmi Departemen Pendidikan Jepang), beasiswa AYF (Asian Youth Fellowship), beasiswa Panasonic, beasiswa Dikti Indonesia (Pendidikan Tinggi Indonesia), beasiswa ADB-JSP (Asian development Bank-Japan Scholarship program), Joint Japan/World Bank Graduate Scholarship Program, Hitachi sholarship, beasiswa pemerintah propinsi jepang, beasiswa laboratorium di universitas di jepang, dll. Pencarian beasiswa bisa dilakukan di internet dengan memasukkan keywords beasiswa di atas ke google search. Khusus untuk beasiswa monbukagakusho ada 2 metode yaitu melalui kedutaan dan melalui universitas di universitas jepang. Untuk lebih detailnya silahkan dirujuk di postingan sebelumnya tentang beasiswa. Beasiswa pemerintah propinsi jepang dan beasiswa laboratorium bisa didapatkan melalui rekomendasi dari professor yang akan kita jadikan pembimbing. Oleh karena itu, silahkan untuk secara intens mengontak professor dengan meyakinkan sehingga professor benar-benar tertarik dengan kita.
9. Kerja part time (arubaito)
Alternatif untuk bisa studi di jepang adalah dengan kerja part time. Kerja part time bisa menghasilkan Rp 5-8 juta yen setiap bulan. Namun kerja part time ini cukup berat karena biasanya untuk mahasiswa S2 dan mahasiswa S3 harus benar-benar fokus di laboratorium dari pagi sampai malam. Tentu hal ini bisa didiskusikan dengan professor nantinya. Untuk bisa datang ke Jepang tanpa beasiswa, calon mahasiswa harus mempunyai tabungan minimal 50 juta untuk perjalanan, registrasi dan biaya hidup sementara. Karena tanpa tabungan, kita akan mengalami kesulitan dalam pembuatan visa studi ke jepang. Kecuali jika professornya sudah menjamin finansial bulanan kita untuk bisa studi di labnya, maka terkadang kita hanya menyediakan uang untuk perjalanan dan registrasi.
10. Berdoa kepada Allah dengan sungguh-sungguh
Ikhtiar maksimal kita sebaiknya dibarengi dengan doa yang sungguh-sungguh kepada Allah. Karena semua keputusan ada di Allah. Kewajiban kita adalah berikhtiar, berdoa, dan tawakal. “Dan apabila hamba-hambaku menanyakan kepadamu tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku memperkenankan permohonan ( Doa ) seseorang bila ia memohon kepada-Ku. Karena itu hendaklah ia mentaati segala perintahku dan beriman kepada-Ku semoga ia selalu dalam kebenaran”.(Al-baqarah: 186)
Semoga tips ini bermanfaat untuk rekans, former students, undergraduate students, dan teman-teman yang membutuhkan. Terkadang saat ini kita membaca informasi dengan waktu yang bersamaan dengan teman-teman. Namun, kita kalah start dikarenakan tidak bisa merespon informasi dengan cepat. Semangat saja tidak cukup, karena harus dibarengi dengan action yang cerdas dan cepat. Kalau ada yang belum lengkap, rekans bisa menambahkan. (http://www.mitimahasiswa.com/2009/08/tips-studi-ke-jepang-tanpa-biaya.html)

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s