SAAT TERAKHIR DENGAN BAPAK

Aku ingat betul, sore itu pintu rumah ada yang mengetok dari luar, ”Bu, tadi ada telepon dari kantor Bapak sakit” dengan jelas aku mendengar dari ruang tengah ketika A Windi memberitahu Ibu.

Duh ada apa ya dengan Bapak?” Ibu bergegas berganti pakaian.

Aku segera membuka pintu depan mobil dengan hati yang gundah, dan yang aku pikirkan, Bapak sakit, tapi kenapa harus nelepon tetangga tidak langsung ke rumah. Sementara itu Ibu dengan gamis hitamnya terlihat cemas di samping adikku, Iqbal. Kami semua sibuk dengan pikiran masing-masing, jauh dalam hatiku aku berdo’a panjang supaya tidak terjadi apa-apa, paling Bapak maag-nya kambuh, karena memang Bapak sudah maag kronis.

Halaman kantor Bapak sepi, tapi di dalam ruang tamu sana sudah banyak yang berkumpul. Di mana Bapak, pikirku, saat ku lihat beliau terbaring lemah di tempat tidur, aku tak kuasa melihat hal itu dan akhirnya keluar dari ruang tamu yang sesak oleh rekan sejawat Bapak.

Beberapa kemudian Bapak diangkat menuju mobil, mobil atasan Bapak akhirnya menjadi pilihan sedangkan aku dan adikku menyusul dengan mobil yang dikendarai pamanku.

Hening. Semua diam di dalam mobil, hanya pikiranku saja yang bertanya-tanya Bapak kenapa, mungkinkah penyakit komplikasinya kambuh lagi, pasti ada yang salah dengan makan yang bapak makan karena biasanya penyakit Bapak kambuh karena beliau kadang suka bandel dengan makanan yang dilarang Dokter.

Dua puluh menit kemudian kami sampai di tempat praktek Dokter umum, dan yang membuat aku cukup terkejut Bapak terkena storke ringan, Ya Allah, aku hanya bisa bersitigfar dan aku langsung mengabari orang rumah Bapak dibawa ke rumah sakit.

Gedung UGD Rumah Sakit Umum Dr. Slamet cukup untuk menampung orang sebanyak ini, sudah jam tujuh malam, tapi masih banyak orang. Ya tentu saja mereka sedang berjaga sanak saudara yang sedang sakit.

Serangkaian tes aku saksikan dijalani Bapak, dan ternyata positif stroke, bahknan bagian kiri tubuh Bapak sudah tidak bias digerakkan. Ada getir-getir luka melihat Bapak selemah itu,. Bapak yang tadi pagi menyempatkan melayat sodara yang meninggal dengan Ibu, yang aku saksikan beliau sarapan di dapur dan yang tadi malam bersama-sama nonton televisi, kini tak berdaya Beliau sudah setengah sadar.

Koma, ya.. Bapak lumpuh total dan koma, sama sekali tidak sadar setelah ia dipindah ke ruang perawatan. Aku harus pulang mengambil perlengkapan Ibu dan juga baju ganti Bapak, bahkan beliau sampai beliau di infuspun beliau masih memakai serangam kantor.

“ Evan besok saja nginepnya, biar sekarang Ibu ditemani paman saja” Ibu berkata demikian sebelum aku pulang mengambil perlengkapan. Namun, menolak permintaan Ibu, aku rasa aku yang harus menunggui Bapak.

Akhirnya tinggalah Ibu dan aku yang menunggui Bapak, kedua pamanku dan adikku Ibu suruh pulang, biar gentian besok, kata Ibu.

Tengah malam, sayu-sayup aku mendengar suara tangisan, karena kebetulan kamar perwatan Bapak kelas utama dan ada ruang tamu sendiri, aku tidur di ruang tamu. Suara tangis semakin jelas dan baru aku sadar itu suara tangisan Ibu. Benar saja aku mendapatkan Ibu sedang menangis disamping Bapak, rupanya ia tidak tidur sekejappun.

“Kenapa Bu?” aku bertanya setelah ku pastikan Bapak tidak ada apa-apa.

“ Gak apa-apa nak?” dalam tangis ia mengompres kening Bapak, rupanya Bapak demam. Aku tak sampai hati untuk kembali tidur di ruang tamu, tapi Ibu memaksaku untuk tidur dan akhirnya aku tidur disofa dekat tempat tidur Bapak.

Pukul 04.00

Jelas tangisan Ibu meledak dan membangunkanku, nafas Bapak sangat berat waktu itu. Aku sendiri bingung apa yang harus aku perbuat selain menenangkan Ibu. Nafas Bapak terhenti dikuti jerian Ibu memanggil beliau, dan Bapak nafas Bapak pun ada lagi, hal itu terulang sampai tiga kali, nafas Bapak terhenti dan ada lagi saat Ibu menangis keras. Ibu keluar kamar memanggil perawat dan dokter, disaat itu jantung Bapak masih berdetak. Aku mendekap dada Bapak dan membisikan kalimat syahadat di kuping Bapak sampai tiga kali,kemudian Ibu datang. Ketika itulah Bapak sudah benar-benar dipanggil Allah, Bapak sudah tidak ada.

Ibu benar-benar histeris, dan aku sendiri belum bias percaya hal ini. Sekuat tenaga aku menelepon keluarga Bapak dan Ibu. Aku memeluk Ibu erat dan menenangkannya saat para perawat datang dan mengatakan Bapak positif telah meniggalkan dunia ini. Ibu masih menangis dipelukanku. Namun Ibu tidak akan serapuh itu, ia segera menghapus air matanya dan segera menghubungi bagian ambulans untuk mengantar jenazah Bapak.

Beberapa orang memperhatikan kami saat jenazah Bapak melewati lorong-lorong rumah sakit di pagi-pagi buta. Sepanjang perjalanan aku masih belum percaya dan tidak yakin bahwa jasad kaku ini adalah Bapak. Di mobil ambulans ini aku berada di belakang berdua dengan pegawai rumah sakit, sedangkan Ibu di depan bersama supir, dari balik jendela aku liat beliau menghapus air matanya dengan sapu tangan. Jujur aku belum bias menitikan setetes air matapun, sekali lagi aku tidak yankin dan tidak percaya.

500 meter dari rumah suara sirene ambulans meraung memcah pagi, barulah aku menitikan air mata, serasa ada sebilah pisau yang mengoyak hati. Baru aku percaya ketika 50 meter dari rumah banyak orang berkumpul, baru aku percaya setelah sampai rumah Ibu kembali histeris dan baru aku percaya saat jenazah Bapak diturunkan. Disaat itulah aku bias menitikan air mata.

Semua orang sibuk, aku sendiri seperti limbung melihat orang sebanyak ini. Aku anak laki-laki pertama Bapak akhirnya harus mengurus tempat Bapak akan dikubur? Aku anak laki-laki pertama Bapak ikut memandikan jasad Bapak. Tak hentinya air mataku melihat Bapak sedang dimandikan. Satu yang buat aku heran, wajah Bapak terlihat tersenyum, seolah tersenyum padaku. Sebagai bakti terakhir aku ikut memandikan Bapak dan aku tak kuasa lagi untuk menahan derasnya air mata dan menjebol pertahananku. Beberapa orang yang memandikan sempat berkata, “ Baru kali memandikan orang yang meninggal dengan tubuh semulus ini, tidak terlihat kalu sedang sakit”

Semua orang tidak akan percaya dengan kejadian ini, semua terasa seperti petir menyambar di siang bolong. Cuaca tiba-tiba redup dan rintik-rintik air hujan turun seakan ikut bersedih saat jasad Ayah ditandu menuju pemakaman. Aku mencoba tegar dengan menggandeng tangan Ibu sepanjang perjalanan. Yang membuat aku kembali tersayat saat jasad Bapak diturunkan ke liang kubur. Aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri hal itu, beberapa orang memegangiku dengan erat, mungkin mereka takut aku tiba-tiba histeris dan mengamuk. Tapi tidak, aku terus mencoba kuat, hanya aku dan adikku yang bisa menjadi kekuatan Ibu untuk melanjutkan hidup. Ketika aku kuat maka Ibuku pun akan kuat.

Hari-hari terasa kosong tanpa kehadiran Bapak, setiap sore entah kenapa aku selalu menunggu Bapak pulang kantoer, seolah-olah Bapak masih ada dan pergi bekerja seperti biasa. Hari-hari pertama yang cukup berat karena Ibu sering menangis dan aku pun akan selalu ada dengan memeluk dan menguatkannya, begitu pula dengan adikku. Aku yakin sekali adikku un merasakan kehilangan yang sangat dalam karena ia begitu dekat dengan Bapak.

Awalnya aku mara kenapa harus secapat ini Allah memanggil Bapak, disaat aku masih kuliah dan adikku masih sekolah? Disaat aku masih butuh sosok seorang ayah yang menjadi tauladan dan pemimpin di rumah, serta semua nasehat-nasehatnya yang bijak.

Hari ini aku telah ikhlas dengan kepergian Bapak, aku hanya meyakini bahwa Allah lebih saying pada beliau sehingga dipanggil terlebih dahulu. Dan aku hanya meyakini Bapak pergi saat sedang berjihad, karena Bapak jatuh sakit dan sampai meninggal sesaat setalah menjalankan tugas kantor ke lapangan.

Bapak adalah Bapak terbaik di dunia. Walaupun belum pernah aku mendengar Bapak mengucapkan rasa sayangnya tapi jauh dilubuk hatinya ia sangat menyangi aku, menyangi kami, aku dan adikku. Yang aku tahu dia akan selalu begadang semalaman ketika aku sakit, takut kalau ada yang aku butuhkan. Yang aku tahu Bapak akan gelisah dan tidak bisa tidur jika permintaanku belum bisa ia kabulkan. Yang aku tahu Bapak akan menyuruh Ibu untuk menelepon ku ketika ia merasa rindu denganku. Yang aku tahu Bapak akan rela tidak beli baju baru ketika anak-anaknya belum emdapat baju baru saat lebaran. Yang aku tahu Bapak tidak rela ketika anak yang ia sayangi, sakit dan berada jauh ratusan kilo meter darinya, hingga ia harus rela menjengukku ke sini.

Bapak selalu berpesan ia tidak bisa mewariskan harta, tapi dia hanya bisa mewariskan ilmu dan akhlak yang baik. Kini setiap malam, setiap hari aku hanya bisa mendo’akannya supaya segala diampunkan segala dosanya dan diterima amal ibadahnya, diluaskan dan diterangi alam kuburnya, dijauhkan dari siksa kubur dan siksa api neraka serat Bapak detempatkan bersama para syuhada dan para solihin.

SENANDUNG RINDU AYAH

Teringat sindah senandungmu tenangkan aku didepakku

kidungkan lagu alum merdu dengan dzikir tak henti batinmu

Lambaian kisah masa lalu tatkala ayah bersamaku

Sejukan luka hati biru senandungkan kidung relung kalabu

Rindu ayah daku padamu

rindu suara rindu hangatmu

rindu ayah daku padamu

rindu suara rindu sandungmu

Ya Allah masa-masa itu biar tetap bersama langkahku

susuri nikmat ujianmu tetap syukur hanya kepadMU

dengan cintaMu Alllah bahagiakan ayah

dengan rahmatmu allah ampunkan ayahku

dengan cintamu Allah ku relakan ia bersama-Mu

Rindu ayah daku padamu rindu suara r

Rindu hangatmu

Rindu ayah daku padamu

Rindu suara rindu senandungmu

Bersama hembusan angin

diterik panas mentari

ditengah gulita malam

tak henti doakan mu ayah

tak henti rindukan Ayah

( tim nasyid Lazuardi )

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s