LAKI-LAKI CAHAYA

Ummiiiii….. !!!”

Segera Tono terperanjat di tempat tidur, terbangun dari mimpi buruknya. Ia mencoba mengatur nafas dan melirik ke arah jarum jam di tembok,

Huhmm.. sudah sepertiga malam “.

Hening. Setidaknya sepertiga malam ini terasa demikian bagi Tono, laki-laki berparas oriental dengan hidungnya yang bangir, mirip personil F4 ( Baca: Efse). Ia berangsur dari tempat tidurnya menuju ruang belakang dan.. Cesss… air keran mulai membasuh pergelangan tangannya kemudian berkumur dan mengisap air lewat hidung, teratur sekali hingga ia membasuh kedua kakinya. Ada rasa tenang ketika percikan air itu mengenai pori-pori kulitnya, konon katanya memang air wudlu itu memang menyegarkan bagi saraf-saraf tepi pada kulit kita.

Sesekali ia tersedu mengiba dalam khusyuknya shalat malam,

Rabb.. sirnakan keraguan terhadap fajar yang pasti datang dan memancar terang, dan hancurkan perasaan jahat dengan secercah sinar kebenaran. Hempaskan semua tipu daya setan dengan bantuan bala tentaramu.

Rabb.. sirnakan kami dari rasa sedih dan luka, dan usirlah kegundahan dari jiwa kami semua. Kami berlindung kepada-Mu dari rasa takut yang mendera. Hanya pada-Mu kami bersandar dan bertawakal. Hanya pada-Mu kami memohon dan hanya pada-Mu lah semua pertolongan. Cukuplah Engkau sebagai pelindung kami, karena Engkaulah sebaik-baik Pelindung dan Penolong “ (DR. ‘Aidh al-Qarni).

***

“ Makan.. Makan.. Makan.. “

Suasana panti akan ramai ketika pagi hari, anak-anak usia SD yang akan berangkat sekolah berebut makan sedangkan yang balita akan merengek-rengek minta digendong.

“ Tenang anak-anak Kakak akan menyiapkan sarapan kalian, yang sabar ya.. Ummi kan lagi sakit” Laki-laki berkulit putih itu menetralisir situasi panti, maklum beginilah kalau Ummi sakit, anak-anak jadi tidak terkendali.

Alhamdulillah ada Mbak Marni yang membantu dan suasana kini mulai tenang, tapi jangan senang dulu sebab lima menit kemudian…

“ Kakak… sepatuku mana?? ”

“ Kak. aku belum ngerjain PR, bantuin ya..”

“ Isi pulpenku abis, Kak. Gimana nih ??”

” Kakak…”

” Kakak.. ”

” Kakak… ”

” Kakak… ” semua berebut.

” STOPPP!!!” aku tiba-tiba berteriak lepas kendali. Semua anak menoleh padaku, jelas ada rasa takut dari mata mereka. Ingin aku segera ledakan isi kepalaku yang memanas karena kejengkelan pada mereka.

” Dani… ” sapaan halus itu merambat ke dalam gendang telingaku dan mampu membuat tensi amarahku menurun, siapa lagi yang akan membuat aku seperti ini kalau bukan teman sekamarku sendiri.

” Biar aku saja yang mengurus mereka ” lanjutnya.

” Ya sudahlah ” Aku mengawasi Temanku itu dari kejauhan, ia begitu sabar membantu anak-anak, adik-adik kami. Ya siapa lagi keluarga bagi ku kalau bukan mereka toh aku juga hidup sebatang kara. Aku sendiri heran kenapa ia sesabar itu, sejak Ummi sakit ia menjaga anak-anak lain, bahkan ia berhenti sekolah, sudah dua bulan.

” Temanku.. ” dengan lirih aku mengakui ia begitu dewasa dan bertanggungjawab walaupun usianya berpaut dua tahun lebih muda. Golakan amarahku kini sudah dingin oleh salju kebaikan temanku ini dan kini aku berada di sampingnya membantu memasang tali sepatu Eka, salah satu anak panti usia SD.

***

Ia mencuim tangan perempuan di sampingnya,

” Ummi.. gimana kabarnya ? Sehat ? ”

” Pagi ini anak-anak bersemangat pergi ke sekolah. Alhamdulillah ada Mbak Marni yang membantu urusan dapur, anak-anak remajanya juga pada bantu kok, Mi ”. Sejenak ia terdiam menunggu reaksi Ummi,

” Ya sudah, Mi. Tono pergi pamit dulu, ada kebutuhan panti yang harus di beli. Maaf Tono tidak bisa menemani Ummi “ Kecupan Tono mendarat di kening Ummi dan kemudia ia menghilang di balik pintu.

***

“Dari mana kamu dapat uang ini ??” aku mengempaskan genggamannya dari tanganku.

“ Insya Allah ini halal “

“ Aku tidak mau ! “ Aku memalingkan muka darinya, aku sendiri tak habis pikir dari mana ia mendapatkan uang sebesar itu, padahal aku tahu keuangan panti akhir-akhir ini menipis, para dermawan sudah jarang memberi bantuan.

“ Kamu perlu ini untuk SPP, untuk melanjutkan sekolah. Aku mohon terimalah “.

“ Sedangkan kamu sendiri tidak melanjutkan sekolahmu !!” aku mencengkram kerah bajunya dan ingin ku datarakan satu pukulan di dahinya.

“ Sebentar lagi kamu ujian akhir sekolah. Kamu harus lulus. Kamu harus bisa lulus.” jelasnya

” Kamu harapan satu-satunya di panti ini, siapa yang akan menggantikan Ummi jika ia telah tiada?? Kamu.. kamu adalah satu-satunya harapanku. Kamu harus bisa pintar dan berpendidikan seperti Ummi. Biar aku saja yang berhenti sekolah dan bekerja keras mencari nafkah untuk menghidupi panti ini, walau tidak seberapa jika dibandingkan pemberian dermawan. Tapi sejak Ummi sakit, para dermawan itu jarang datang, kamu tahu itukan ?? ”

Benarkah ??? Ia berpikir jauh lebih tua dari usianya. Aku melepaskan cengkramanku dan terkulai lemas. Aku merasa rendah, aku tidak bisa apa-apa. Aku.. aku.. aku tidak bisa mengatakan apa-apalagi selain menangis dan ia merangkulku.

***

Sepuluh tahun kemudian…

” Maaf Pak pesanan sudah datang ” Seseorang menelepon dari kantor.

” Kalau begitu segera kirimkan ke Panti Asuhan Siti Khodijah. Jangan sampai ada yang terlewat ”.

” Insya Allah Pak, Assalamu’alaikum ”.

” Wa”alaikumsalam ”.

Setelah gagang telepon di simpan seorang gadis kecil menghampirinya,

” Ayah.. ini foto siapa ?”

Aku mengambil selembar foto dari tangn mungil anakku dan ku lihat. Masya Allah, foto yang selama ini aku cari ternyata ketemu juga.

” Ini foto Ayah sayang.. ” aku mulai berkaca-kaca.

” dan ini teman baik Ayah, teman yang sangat baik ”. Aku menceritakan semua perjalanan selama di panti pada anakku, walaupun aku tidak tahu apakah anak usia tiga tahun mengerti dengan apa yang aku ceritakan.

Hingga akhirnya, sampai pula aku pada cerita yang sangat menyedihkan..

***

” Ampuuuuunnnnn… Astagfirullahal’adzim.. ” Teriakan histeris Mbak Marni membuat seluruh penghuni panti gempar. Ummi kondisinya semakin parah, terjadi pendarahan di perutnya, ginjalnya sudah benar-benar bocor dan perlu dilakukan pencakokan.

Anak-anak usia SD mulai menangis mendengar berita tersebut, bagi mereka Ummi sudahlah menjadi bagian dari hidup mereka, bahkan lebih dekat secara batin dari pada ibu kandung mereka sendiri.

Semuanya berdo’a malam ini, ba’da Isya semuanya berkumpul dari anak-anak usia SD sampai para remaja semuanya berkumpul dan berdo’a untuk kesembuhan Ummi.

” Aku ingin bicara denganmu ” Seseorang mengajakku keluar dengan berbisik.

Aku mengikutinya hingga sampai di belakang rumah,

” Kita harus cari donor ” ungkapnya.

” Di mana? aku gak tahu harus cari di mana? ” aku bingung dengan perkataannya, anak SMU kayak kami mau nyari donor ginjal di mana, toh Mall-mall saja kami belum pernah menginjakan kaki di sana.

” Biar aku saja yang cari ” Ujarnya mantap.

” Tidak. Ini sudah malam. ” Cegahku setengah berbisik, aku tidak mau rencana gila ini diketahui oleh semua penghuni panti, mereka bisa pada nekat mengikuti usul konyol ini.

” Kamu nggak mau kehilangan Ummi kan ??”

Aku tertunduk

” Jawab! ”

” Ayo.. jawab ” tubuhku diguncang oleh tangannya.

” Kita semua tidak ingin kehilangan Ummi, sekarang biar aku mencari donor buat Ummi. Kamu jaga yang lain ya..” Ia beranjak keluar lewat pintu belakang, tapi tak berapa lama ia kembali lagi.

” Foto kita sudah selesai cetak, kamu ambil di bawah tempat tidurku ”.

***

” Ayah… Ayah.. kok nangis ” anakku dengan polos memandang wajahku yang telah basah.

Aku tak sanggup lagi untuk membayangkan kejadian itu, selembar foto ini mengingatkan aku padanya, ada pesan terakhir di balik foto itu :

Sahabatku Dani

Kamu sudah tahukan, aku memang suka kembang api sejak kecil ?? Lilin juga. Sampai-sampai Ummi sering marah kalau aku menghabiskan persediaan lilin panti atau menghabiskan uang jajan untuk membeli kembang api.

Malam ini aku ingin menjadi kembang api dan lilin. Menjadi kembang api yang walaupun cahayanya singkat namun semua orang akan mengaguminya dan menjadi lilin yang rela hancue demi menerangi orang-orang yang dicintai. Dan aku ingin cahaya lain sdatang di panti ini yaitu Ummi…

Sahabatmu

Tono

THE END

12 November 2008

Oleh : Evans


Iklan

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s