Penyakit Layu Fusarium

Gejala Layu Fusarium

Gejala Layu Fusarium

Penyakit layu Fusarium disebabkan oleh jamur Fusarium oxysporum f.sp. lycopersici. Menurut Alexopoulos dan Mims (1979), pengkelasan F. oxysporum sebagai berikut:

Kingdom         : Myceteae

Divisi               : Amastigomycota

Subdivisi         : Deuteromycota

Kelas               : Deuteromycetes

Ordo                : Moniliales

Famili              : Tuberculariaceae

Genus              : Fusarium

Spesies            : Fusarium oxysporum f.sp. lycopersici

Koloni jamur F. oxysporum dapat berkembang dengan cepat dan diameternya dapat mencapai 4,5-6,5 cm dalam empat hari pada suhu 25oC (Domsch et al., 1993). Menurut Semangun (2000), jamur membentuk miselium bersekat dan dapat tumbuh dengan baik pada bermacam medium agar yang mengandung ekstrak sayuran. Hal ini seperti nampak pada Gambar 1. Jamur lebih banyak membentuk mikrokonidium bersel satu, tidak berwarna, lonjong atau bulat telur dengan ukuran (6 – 15) x (2,5 – 4) µm. Sementara itu, makrokonidium jarang terdapat, makrokonidium berbentuk kumparan, tidak berwarna, bersekat dua atau tiga, berukuran (25 – 33) x (3,5 – 5,5) µm. Pada miselium yang lebih tua maupun makrokonidium dapat terbentuk klamidospora yang berdinding tebal.

Gejala awal penyakit layu Fusarium tomat berupa pucatnya tulang daun, terutama daun sebelah atas, kemudian diikuti dengan merunduknya tangkai, dan akhirnya tanaman menjadi layu secara keseluruhan. Seringkali kelayuan didahului dengan menguningnya daun, terutama daun bagian bawah. Kelayuan dapat terjadi sepihak. Pada batang kadang terbentuk akar adventif. Pada tanaman yang masih muda dapat menyebabkan matinya tanaman secara mendadak karena pada pangkal batang terjadi kerusakan (Semangun, 2002).

F. oxysporum f.sp. lycopersici dapat bertahan lama dalam tanah. Tanah yang sudah terinfestasi akan sukar dibebaskan kembali dari jamur ini. Jamur akan menginfeksi akar melalui luka, kemudian akan menetap dan berkembang di berkas pembuluh (Sastrahidayat, 1990; Semangun, 2002). Infeksi yang terjadi pada akar sehat lebih lambat dibandingkan melalui luka pada akar. Setelah tabung kecambah masuk, miselium bergerak menuju pembuluh silem. Dalam pembuluh silem, miselium akan mengeluarkan toksin yang akan mengubah permeabilitas selaput plasma sel tanaman inang sehingga lebih cepat kehilangan air.

Jamur F. oxysporum dalam daur hidupnya mengalami fase patogenesis dan saprogenesis. Pada fase patogenesis, jamur hidup sebagai parasit pada tanaman inang yang dimulai pada saat patogen mulai masuk dan memarasit inang (Sastrahidayat, 1990). Apabila tidak ada tanaman inang, patogen dapat bertahan sebagai saprofit pada sisa tanaman, dan bertahan di dalam tanah dalam jangka waktu yang tidak terbatas (Agrios, 2005). Penyebaran penyakit dapat melalui bemacam luka untuk jalan infeksinya, misalnya luka karena pemindahan bibit, pembumbunan, serangga, atau nematoda. Penyebaran jarak jauh dapat melaui pemindahan tanaman sakit atau pemindahan tanah yang terinfeksi (Semangun, 2002).

Perkembangan  F. oxysporum sangat sesuai pada tanah dengan kisaran pH 4,5-6,0 sedangkan pada biakan murni akan tumbuh dengan baik pada kisaran pH 3,6-8,4. pH optimum  untuk pensporaan sekitar 5,0, pensporaan yang terjadi pada tanah dengan pH di bawah 7,0 adalah 5-20 kali lebih besar dibandingkan dengan tanah yang mempunyai pH di atas 7,0 (Sastrahidayat, 1990). Pada pH di bawah 7,0 pensporaan terjadi secara melimpah pada semua jenis tanah, tetapi tidak akan terjadi pada pH di bawah 3,6 atau di atas 8,8. Suhu optimum untuk pertumbuhan jamur   F. oxysporum adalah 20-300C, maksimum pada suhu 370C atau di bawahnya, sedangkan suhu optimum untuk pensporaan adalah 20-250C (Domsch et al., 1993).

Secara umum, usaha untuk mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh jamur F. oxysporum dapat dilakukan dengan: 1) penanaman tomat varietas tahan, 2) pemberian kompos jerami yang diberikan 2 minggu sebelum tanam, dan 3) penggunaan agensia hayati, seperti isolat Trichoderma, antara lain T. harzianum, T. koningii, T. viridae, dan Gliocladium fimbriatum (Direktorat Perlindungan Hortikultura, 2002).

Daftar Pustaka

Agrios, G.N. 2005. Plant Pathology, 5 th ed. Elsevier Academic Press, California. 944pp.

Alexopoulos, C.J. and C.W. Mims. 1979. Introductory Mycology. 4th ed. John Willey & Sons Inc., New York. Pp. 214-250.

Direktorat Perlindungan Hortikultura. 2002. Penyakit layu Fusarium. Departemen Pertanian (On-line). http://www.deptan.go.id/ditlinhorti/opt/pisang/ fusarium. htm diakses 20 Maret 2008.

Domsch, K.H., W. Gams, and T.H. Anderson. 1993. Compendium of Soil Fungi. Volume 1. IHW-Verlag, Eching.

Sastrahidayat, I.R. 1990. Ilmu Penyakit Tumbuhan. Usaha Nasional, Surabaya. 366 hal.

Semangun, H.  2001. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gadjah Mada Unversity Press, Yogyakarta. 754 hal.

About these ads

About Evan

Sungguh saya adalah orang spesial, sebab tidak akan ada seseorang yang mampu mengalamai pengalaman yang persis dengan saya lalui.

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: