Archive | September 2010

Pembuatan Pupuk Buatan


Pupuk buatan atau sebutan lainnya pupuk anorganik, adalah pupuk yang dibuat oleh pabrik-pabrik pupuk, dengan meramu bahan-bahan kimia (anorganik) dengan kadar hara tinggi. Misalnya, pupuk Urea yang kadar hara nitrogen 45-46%. Artinya setiap 100 kg Urea, di dalamnya terdapat 45-46 kg N (Nitrogen) (Lingga, 1989).

Zwavelzure amoniak (ZA) lebih dikenal dengan sebutan ZA. Pupuk ini dibuat dari gas amoniak dan asam belerang. Persenyawaan kedua zat ini menghasilkan pupuk ZA yang mengandung N 20,5-21%. Artinya tiap 100   ZA berisi 20 kg N. Bentuknya Kristal kecil-kecil berwarna putih, abu-abu, biru keabu-abuan, dan kuning (Lingga, 1989).

Kalium klorida lebih dikenal dengan singkatan KCl. Sama halnya dengan pupuk ZK, KCl ini juga ada dua macam, yaitu KCl 80 mengandung K (K2O) 52-53%; KCl 90 mengandung K (K2O) 53-58 %. KCl mengandung klorida yang busa berpengaruh negative pada tanaman yang tidak membutuhkan atau peka terhadap klorida, seperti tanaman kentang dan wortel (Lingga, 1989).

Pupuk majemuk NPK yang siap pakai harganya amat mahal ketimbang pupuk tunggal. Supaya harga ini tidak terlalu mencekik, ada baiknya membuat sendiri dengan cara mencampur pupuk tunggal. Untuk mendapatkan NPK yang dikehendak, tinggal menjumlahkan masing-masing pupuk tunggal itu dan itu berarti kita memperoleh NPK sebanyak yang diinginkan sesuai perbandingan (Lingga, 1989).

Dalm praktikun kali ini, membuat pupuk campur NPK dengan bahan dasar ZA (20% N), SP20 (20% P2OS), dan KCl (50% K2O). Kadar NPK yang akan memiliki komposisi atau perbandingan bahan dasar 7:3:9. Dalam hal ini dimisalkan, pupuk yang akan dibuat 100g, maka kadar masin-masing pupuk tunggal yang dibutuhkan adalah 35g 2A, 15g SP20 dan 18g KCl. Total pupuk tunggal tersebut adalah 68g, sisanya 32g diganti dengan bahan pengisi berupa abu dapur.

Perbandingan antara N, P, dan K untuk memperoleh pupuk campur dihitung dengan rumus perhitungan nilai pembanding dibagi kadar unsur tunggal dan kemudian dikali jumlah pupuk yang akan dibuat. Perbandingan menentukan tingkat kemampuan tanaman dalam menyerap unsure yang diperlukan. Dalam pembuatan pupuk campur, hal-hal harus diperhatikan ialah kadar unsure pupuk tunggal harus tepat. Setelah itu barulah ditentukan jumlah masing-masing pupuk tunggal (Lingga, 2001).

Pemberian pupuk atau pembuatan pupuk campur harus sesuai dengan perbandingan, karena pemberian pupuk harus diberikan dalam jumlah yang tepat. Apabila pemberian pupuk berlebihan maka proses atau metabolism tanaman untuk tumbuh terganggu. Perbandingan harus sesuai agar tingkat pemupukan seimbang dan dapat memenuhi semua unsure yang dibutuhkan tanaman.

Penggunaan pupuk campur lebih menguntungkan bagi patani karena lebih menghemat biaya. Selain itu, penggunaan pupuk campuran bias menambah kreatifitas patani dalam pemupukan. Cara pembuatan pupuk campur mudah dan keuntungan yang diperoleh pun besar tanpa mengurangi kualitas NPK buatan sendiri itu (Lingga, 1989).

Media Kultur Jaringan


Komposisi formulasi dari suatu media, harus mengandung nutrient esensial makro dan mikro serta sumber tenaga. Zat-zat tersebut bisa dicampur sendiri dari bahan dasarnya, atau diperoleh sudah dalam bentuk campurannya. Biasanya ditambah zat pengatur tumbuh, seperti hormone-hormon dan zat penyangga seperti agar (Westherell,1982).

Media merupakan faktor penentu dalam perbanyak secara kultur jaringan. Media kultur jaringan tanaman harus berisi semua zat yang diperlukan untuk menjamin pertumbuhan eksplan yang ditanam. Media tersebut harus berisi garam mineral berupa unsur makro dan mikro, gula, protein, vitamin dan hormon.

Jenis-jenis yang termasuk unsure makro adalah nitrogen (N), fosfor (P), kalium(K), sulfur (S), kalsium (Ca) dan magnesium (Mg). unsure NPK adalah unsure yang mutlak dibutuhkan oleh tanaman, yamg berarti harus selalu tersedia. Sedangkan unsure S, Ca dan Mg boleh ada dan boleh tidak. Tetapi, karena fungsinya sangat mendukung jaringan maka akan lebih baik apabila unsure-unsur tersebut juga tersedia (Hendaryono dan Wijayani, 1994).

Unsure-unsur yang termasuk unsure mikro yaitu klor (Cl), Mangan (Mn), Besi (Fe), tembaga (Cu), seng (Zn), Bor (B) dan molybdenum (Mo). Unsure-unsur makro biasanya diberikan dalam bentuk NH4NO3, KNO3, CaCl2, 2H2o, MgSO4.7H2O dan KH2PO4. Sedangkan unsure-unsur mikro biasa diberikan dalam bentuk MnSO4.4H2O, ZnSO4.4H2O, H3BO3,KJ, NaMoO4.2H2O, CuSO4.5H2O dan CoCl2.6H2O (Ari Indrianto, 1990).

Jenis dan formulasi media untuk tiap spesies tanaman berbeda-beda. Demikian juga dengan tahap pertumbuhannya, memerlukan media khusus. Sebagai contoh, kultur jaringan anggrek Dendrobium lebih cocok menggunakan media formulasi Vacin & Went, untuk menumbuhkan anggrek vanda lebih cocok menggunakan formulasi murashige & Skoog (Widarto, 2000)

Penggunaan media kultur jaringan, jenis-jenis media yang hanya mengandung unsure makro dan mikro perlu ditambah bahan-bahan pelengkap berupa asam amino, vitamin , gula dan hormon tumbuhan (fitohormon). Derajat keasaman dari media perlu diperhatikan, yakni sekitar 4,8-5,6. Untuk menyesuaikan pH campuran media dapat ditambahkan larutan NaOH 0,1 N bila larutan terlalu asam (pH rendah). Sedangkan bila pH terlalu tinggi ditambah HCl 0,1 N untuk menurunkan pH sesuai0 dengan yang dikehendaki.

.Zat pengatur tumbuh atau ZPT sangat diperlukan sebagai komponen medium bagi pertumbuhan dan diferensiasi. Tanpa penambahan ZPT dalam medium, pertumbuhan akan terhambat bahkan mungkin tidak tumbuh sama sekali. Golongan auksin yang sering ditambahkan pada medium kultur jaringan antara lain 2,4-D, IAA, NAA, dan IBA. Sedangkan dari golongan sitokinin antara lain Kinetin, Zeatin, dan BAR. Konsentrasi yang digunakan untuk masing-masing tanaman dan bagian tanaman tidak sama. Media kultur dapat berupa media cair atau media padat. Media padat sama dengan media cair hanya diberi sedikit pemadat seperti agar-agar. Media yang sering kali digunakan adalah media MS.

Sebelum membuat media tumbuh, terlebih dahulu kita harus menetukan medium apa yang akan kita buat. Jenis medium dengan komposisi unsure kimioa yang berbeda dapat digunakan untuk media tumbuh dari jaringan tanaman yang berbeda.

Menurut George dan Sherington (1984) ada media dasar yang pada umumnya diberi nama sesuai dengan nama penemunya, antara lain:

  1. Medium dasar Murashige dan Skoog (MS), digunakan hamper pada semua macam tanaman terutama herbaceous. Media ini memiliki konsentrasi garam-garam mineral yang tinggi dan senyawa N dalam bentuk NO3- dan NH4+.
  2. Medium dasra B5 atau Gamborg, digunakan untuk kultur suspense sel kedelai, alfafa dan legume lain.
  3. Medium dasar white, digunakan untuk kultur akar. Medium ini merupakan medium dasar dengan konsentrasi garam-garam mineral yang rendah.
  4. Medium Vacint Went (VW), digunakan khusus untuk medium anggrek.
  5. Medium dasar Nitsch dan Nitsch, digunakn untuk kultur tepung sari (Pollen) dan kultur sel.
  6. Medium dasar schenk dan Hildebrandt, digunakan untuk tanaman yang berkayu.
  7. Medium dasar Woody Plant Medium (WMP), digunakan untuk tanamn yang berkayu.
  8. Medium dasar N6, digunakan untuk tanaman serealia terutama padi, dan lin-lain.

Benih Jagung Hibrida


Benih jagung hibrida dihasilkan dengan cara persilangan galur-galur murni yang telah dikembangkan dengan cara inbreeding dan seleksi selama sedikitnya 5 generasi (Mugnisyah, 1990). Cara inbreeding akan mengakibatkan:

  1. penekana vigor (Inbreeding depression)
  2. peningkatan keseragaman pertumbuhan (munculnya dominasi homozigot)
  3. penampakan gen-gen resesif yang tidak diinginkan, tetapi dapat dihilangkan dari populasi.

Produksi benih jagung hibrida dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya yaitu (Mugnisyah,1990):

  1. Produksi hibrida persilangan tunggal jagung
  2. Produksi hibrida persilangan ganda dan tiga jagung
  3. Produksi hibrida jagung menggunakan faktor pemulih sterilitas (Restorer)

Produksi benih bertujuan untuk menghasilkan benih dengan mutu yang memenuhi syarat sertifikasi benih. Dalam produksi benih diperlukan prinsip-prinsip berikut:

  1. persyaratan lahan produksi

Ada 2 persyaratan utama lahan produksi benih, yaitu:

  1. lahan subur dan cukup tersedia air, untuk memproduksi benih umumnya dilakukan diluar musim tanam karena untuk memeneuhi kebutuhan benih pada musim berikutnya, air harus tersedia baik secara teknos melalui irigasi atau secara alami sebagai lahan tadah hujan
  2. lahan bersih dan bebas dari varietas lain, untuk menghindari pencampuran varietas sebaiknya dicaritahu jenis dan varietas tanaman apa saja yang pernah ditanam sebelumnya
  3. benih sumber

Benih sumber yang akan digunkan haruslah bermutu tinggi dan jelas asal usulnya.

  1. Isolasi waktu dan jarak

Isolasi waktu dan jarak merupakan perlindungan terhadap penyerbukan silang oleh varietas lain, baik dari dalam maupun dari sekitar lahan produksi

  1. Teknik budidaya dan produksi benih

Teknik produksi benih berbeda dengan produksi non benih yang terletak pada prinsip genetiknya, dimana aspek ekmurnian genetiknya menentukan kelulusan dalam sertifikasi. Teknik budidaya secara internal dilakkukan oleh penangkar benih dalam bentuk roguing dan secara eksternal dilaksanakan oleh balai pengawas dan sertifikasi benih (BPSB) dalam bentuk pengawasan di lapang. Teknik budidaya mulai dari pengolahan tanah sampai panen antara teknik budidaya produksi benih dan non benih relatif sama.

Jagung merupakan tanaman menyerbuk silang, oleh karena itu isolasi jarak atau pun waktu merupakan hal yang sangat penting dalam memproduksi benih jagung bersertifikat. Isolasi jarak seluas 200meter sedangkan isolasi waktu minimal 3 minggu.

Teknik budidaya produksi jagung hibrida sehingga menghasilkan benih hibrida adalah:

  1. Persiapan lahan

Persiapan lahan meliputi pemilihan lahan tanam dan pengolahan lahan tanam, serta penentuan jarak tanam. Lahan yang akan ditanami harus memenuhi isolasi jarak dan waktu. Hal ini dimaksudkan agar antar tanaman jagung tidak terjadi penyerbukan silang. Isolasi jarak yang diperbolehkan adalah tidak kurang dari 200 meter, sedangkan isolasi waktu yang diperbolehkan adalah 3 minggu. Jarak tanam antara antan adalah 15 cm dan jarak tanam antara betina adalah 20 cm. pengolahan lahan dilakukan supaya lahan yang akan ditanami menjadi gembur.

  1. Persiapan benih sumber

Persiapan benih sumber ini meliputi pemilihan benih dan menghitung kebutuhan benih. Benih yang dipakai pada praktikum adalah berasal dari perusahaan penangkar benih Sang Hyang Sri yang tidak perlu dipertanyakan lagi kualitasnya.

  1. Penanaman dan perawatan

Sebelum dilakukan penanaman, tanah dilubangi sedalam 2-5 cm terlebih dahulu. Masing-masing lubang di tanami 2-3 benih. Dalam pembuatan benih hibrida ini, di gunakan tiga tetua, 2 betina dan satu jantan. Waktu tanam antara benih jantan dan betina berbeda dikarenakan benih betina lebih cepat tumbuh daripada benih jantan. Jarak antara jantan dan betina adalah 30 cm. hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi penyerbukan silang .

Benih yang telah ditanam perlu dirawat supaya perkembangannya lebih baik. Perawatannya berupa pemberian pupuk, penyiangan dan pembumbunan. Penyiangan dilakukan seperlunya, yaitu apabila ada gulma yang tumbuh. Pembumbunan dilakukan supaya tanaman yang telah tinggi tidak rebah. Pembumbunan biasanya dilakuakn 15 hari setelah tanam.

  1. Pengamanan kemurnian genetis

Untuk menjaga kemurnian genetis, produksi benih hibrida dilakuiakn dengan cara:

  1. Isolasi
  2. Roguing

Roguing dilakukan dengan cara membuang tanaman yang diragukan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari penyerbukan tanaman tetua betina oleh tanaman yang tidak dikehendaki, damn pembentukan benih bukan dari tanaman tetua yang diinginkan.

  1. Penggunaan tanaman induk steril

Tanaman induk steril merupakan tanaman tetua betina yang steril bunga jantannya, baik secara alamiah maupun buatan. Tanaman tetua yang steril jantan, maka tidak akan terjadi persilangan sendiri.

Steril jantan merujuk kepada suatu bunga atau tanaman yang tidak menyebarkan serbuk sari hidup. Sterilitas sitoplasmik ditentukan oleh kondisi sitoplasma tetua betina. Sitoplasma steri Cms menghasilkan keturunan steril jantan. Tanaman yang bersitoplasma normal menghasilkan serbuk sari yang normal tetapi tidak memulihkan kembali fertilitas dari tanaman Cms.

Sterilisasi jenetik sitoplasmik, faktor pemulih (restorer) yang dikendalikan secara genetis yaitu Rf, akan memulihkan kembali fertilitas kepada keturunan CmsxRf. Semua tanaman yang RfRf dan Rfrf akan fertil jantan tanpa memandang kondisi sitoplasmanya. Galur-galur fertil jantan yang tidak memulihkan fertilitas disebut galur pemelihara (maintaner lines). Karena galur-galur steril jantan dan pemelihara sama secara genetis, kecuali untuk sifat steril jantan benih yang dihasilkan bukanlah hibrida.

  1. Emaskulasi/Detaseling

Yaitu pembuangan bunga jantan dari tanaman tetua betina yang belum dewasa.

  1. Menutup bunga betina

Bunga betina tanaman tetua ditutup agar tidak diserbuki oelh serbuk sari lain yang tidak dikehendaki.

  1. Penataan letak tanaman induk

Tata letak pertanaman induk disesuaikan dengan jenis hibrida yang akan dihasilkan. Untuk menghasilkan hibrida jagung persilangan tunggal, tat letakl pertanaman mengikuti pola 2:1, yaitu setiap dua baris tanaman tetua betina jagung  berselang dengan 1 tetua jantan jagung.

  1. Panen

Ciri tanaman jagung sudah waktunya dipanen adalah kelobotnya sudah berwarna putih kecoklatan dan tidak meninggalkan bekas apabila bijnya ditekan menggunakan kuku.

Praktikum pembuatan benih hibrida jagung yang dilakukan di lahan SRDC (Soybean Research Development Center) ini telah dilakukan selama ±4 bulan dengan hasil yang kurang memuaskan. Benih hibrida yang diharapkan ternyata hanya sedikit. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah terlambatnya pemotongan bunga jantan pada tetua betina (detaseling) sehingga terjadi penyerbukan sendiri.

Detaseling seharusnya dilakukan ketika bunga jantan baru muncul sebagian supaya tidak terjadi penyerbukan yang tidak diinginkan. Pada saat detaseling praktikan harus teliti memeriksa perbaris tanaman agar tidak ada satu pun bunga jantan yang terlewati. Selain itu, pada saat musim muncul bunga jantan, praktikan harus mengecek tiap saat, karena pemunculan bunga jantan tidak serentak. Detaeling bisa dilakukan dalam kurun waktu 5-10 hari.

Detaseling biasanya dilakukan secara mekanis dengan mesin pertanian,  sedangkan dengan cara pencabutan biasanya dilakukan dengan tangan. Praktek di lapangan, pencabutan dilakukan terhadap sisa bunga jantan yang tidak terpotong mesin pertanian karena ketidakseragaman waktu pemunculan bunga.

Teknik pembuatan jagung hibrida yang telah dilakukan selama ini tidak sesuai dengan teknik yang tercantum pada literatur. Teknik pembuatan benih hibrida yang telah dilakukan tidak memenuhi syarat. Salah satu syarat yang tidak terpenuhi tersebut adalah tidak adanya isolasi jarak dan waktu. Isolasi jarak pada pembuatan benih hibrida seharusnya 100 meter dari lokasi lahan dan isolasi waktu sebaiknya 3 minggu. Selain isolasi jarak dan waktu, pertanaman jagung juga tidak dirawat dengan baik dan benar.

PADI GOGO AROMATIK


Terdapat 25 spesies dalam genus Oryza. Oryza sativa L. dengan dua subspesies yaitu Indica (padi bulu) dan Japonica (padi cere) merupakan spesies yang paling umum ditanam di Indonesia. Padi gogo merupakan padi yang ditanam di lahan tanpa penggenangan air. Sumber pengairan padi gogo sebagian besar dari hujan. Tanaman padi memiliki ribuan varietas yang termasuk dalam Oryza sativa L. dan mempunyai ciri khas tersendiri sehingga dapat dibedakan dengan varietas yang lain. Klasifikasi botani tanaman padi (Prihatman, 2000) adalah sebagai berikut.

Kingdom         : Plantae

Divisi               : Spermatophyta

Sub divisi        : Angiospermae

Kelas               : Monotyledonae

Ordo                : Glumiflorae

Keluarga          : Gramineae (Poaceae)

Genus              : Oryza

Spesies            : Oryza sativa L.

Varietas unggul padi gogo di Indonesia antara lain: Batur, Danau Atas, Poso, Laut Tawar, C22 dan Danau Tempe yang dilepas pada periode tahun 1988 – 1993. Namun demikian, varietas padi gogo berdaya hasil tinggi (potensi hasil 3,0-5,0 ton/ha) tersebut memiliki kelemahan, yaitu pada mutu beras yang rendah. Periode tahun 2001 – 2003 telah dilepas empat varietas padi gogo (potensi hasil (4,0-5,0 ton/ha) yaitu Danau Gaung, Batutugi, Situ Patenggang dan Situ Bagendit. Keempat varietas tersebut dinyatakan memiliki nasi pulen tetapi hanya satu yang beraroma wangi, yaitu Situ Patenggang. Akan tetapi, keempat varietas tersebut masih berstatus non komersial (Departemen Pertanian, 2008).

Perakitan padi gogo berdaya hasil tinggi dan memiliki kualitas yang baik telah dilakukan oleh pemulia di Universitas Jenderal Soedirman (Totok dkk, 2003). Perakitan varietas padi gogo aromatik hasil persilangan Mentik Wangi dengan Poso dan persilangan Mentik Wangi dengan Danau Tempe sebagai tetuanya telah menghasilkan sembilan galur yang telah mengalami pengujian hingga F7 dan sudah merupakan galur murni. Aroma merupakan salah satu sifat yang diinginkan dari generasi hasil persilangan tetua. Sifat aromatik berasal dari tetua Mentik Wangi sedangkan daya hasil tinggi pada padi gogo dari tetua Poso dan Danau Tempe. Sembilan galur hasil seleksi persilangan yang memiliki sifat aromatik dan memiliki potensi hasil 4,0-5,0 ton/ha adalah G9, G10, G12, G13, G19, G34, G35, G39 dan G136 (Totok, 2004).

Aroma pada padi disebabkan oleh senyawa kimia yang mudah menguap. Taraf aroma pada padi berkaitan dengan perbedaan konsentrasi komponen-komponen kimia pada berbagai taraf konsentrasi antara varietas padi aromatik dan non-aromatik (Wilkie et al., 2004). Kombinasi teknik analisis aroma pada padi dengan cara panelis sensor dan gas kromatografi oleh Buttery et al. (1983) menjelaskan bahwa 2-acetyl-1-pyrroline (2AP), walaupun hanya muncul pada konsentrasi yang rendah pada padi aromatik, (2AP) merupakan kandungan kimia utama yang bertanggungjawab terhadap karakter aromatik pada padi Jasmine dan Basmati. Hasil penelitian menunjukkan terdapat lebih dari 114 senyawa pada padi aromatik (Tsuzuki et al., 1981; Buterry et al., 1983). Namun demikian, hasil penelitian yang telah dilakukan menyatakan bahwa senyawa utama yang menyebabkan aroma wangi pada padi adalah 2-acetyl-1-pyrroline (Buttery et al., 1983).

Senyawa 2-acetyl-1-pyrroline pada padi aromatik mencapai 0,04 – 0,09 ppm dari bobot biji, senyawa 2AP beras non aromatik hanya 0,004 – 0,006 ppm (Buttery et al., 1983). Bahkan Singh et al. (2000) menyatakan bahwa kandungan 2AP padi aromatik 15 kali lebih besar daripada kandungan 2AP padi non aromatik. Aroma padi aromatik tidak hanya dapat dicium pada nasi. Seringkali aroma dapat tercium saat tanaman padi berbunga di lahan. Selain itu, senyawa aromatik, ditemukan pada bagian tanaman padi yang lain seperti daun (Mittal et al., 1995 dalam Totok, 2004).

Beberapa metode pengujian aromatik pada tanaman adalah: sensor panelis, gas kromatografi dan PCR. Pengujian aroma menggunakan sensor panelis diperlakukan dengan memasukkan potongan daun tanaman (1,5 g) ke dalam tabung gelap yang berisi 20 ml KOH 1,7% dan dibiarkan selama 5 menit. Identifikasi aroma dilakukan dengan mencium aroma yang terdapat pada tabung gelap dan intensitas aroma diukur menggunakan skoring, yaitu sangat wangi (skor 9), wangi (skor 7), wangi sedang (skor 5), agak wangi (skor 3), dan tidak wangi (skor 1) (Sood dan Siddiq, 1978). Pengujian aroma pada tanaman padi dengan gas kromatografi dengan sampel tepung biji padi hasil tumbukan yang kemudian disaring dengan saringan 20 mesh. Tepung yang lolos saringan dimasukkan ke dalam tabung kemudian ditambahkan 2, 4, 6 trimethylpyridine dalam dichloromethane. Sampel tepung biji diinkubasi pada suhu 850C selama dua setengah jam kemudian didinginkan pada Agilent 6890N Gas Cromatograph yang dilengkapi dengan pengionisasian api. Sampel dipanaskan secara bertahap pada 1550C, deteksi pada 3000C, kemudian pada oven dengan suhu 350C selama 1,79 menit dan meningkatkan suhunya menjadi 700C dan secara bertahap dinaikkan menjadi 1000C dan 2700C dan dipertahankan selama dua menit. Konsentrasi 2 AP diketahui melalui perhitungan kurva standar (Lorieux et al., 1996).

Penggunaan teknik PCR untuk deteksi sifat aromatik pada tanaman dilakukan dengan cara mengekstrak DNA tanaman kemudian memprosesnya dengan memberikan primer spesifik yang dapat digunakan sebagai penanda sifat aromatik pada tanaman dan larutan PCR mix. Proses PCR pada dasarnya adalah menggandakan untai DNA target yang sudah ditandai oleh primer sehingga nantinya dapat terdeteksi pada proses gel elektroforesis. Hasil PCR sampel tanaman yang memiliki sifat aromatik akan menunjukkan pita dengan panjang tertentu pada gel elektroforesis yang menjadi acuan ada tidaknya sifat aromatik (Bradbury, 2007).

BUDIDAYA STROBERI LEWAT TABUNG (IN VITRO)


Stroberi merupakan salah satu jenis buah-buahan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Beberapa petani di Indonesia, khususnya didaerah dataran tinggi telah melakukan budidaya tanaman stroberi secara komersial. Prospek usaha stroberi sangat menjanjikan, produksi buah yang sampai sekarang belum dapat memenuhi permintaan pasar ini memiliki harga jual yang cukup tinggi. Produk olahan stroberi juga banyak diminati di pasaran, stroberi juga dapat diolah menjadi selai, manisan, sirup, dodol, yoghurt, maupun es krim.

Untuk mengusahakan stroberi secara komersial harus benar-benar memperhatikan berbagai aspek. Teknik budidaya yang diterapkan sangat berpengaruh terhdap produksi buah yang dihasilkan, baik kuantitas maupun kualitasnya. Umumnya budidaya yang dihasilkan petani masih konsenvional, terkadang dengan cara seperti ini biaya produksi yang digunakan tidak sebanding dengan keuntungan yang didapat.

Perbanyakan tanaman stroberi kini tidak hanya dapat dilakukan melalui biji saja namun dapat menggunakan cara secara in vitro (kultur jaringan). Perbanyakan secara in vitro merupakan perbanyakan dengan menggunakan bagian kecil tanaman, media tanam berupa media buatan aseptik yang diletakkan didalam wadah kecil seperti tabung reaksi atau botol jam (selai). Investasi awal untuk fasilitas aini cukup mahal namun secara potensial untuk perbanyakan secara massal.

Keunggulan perbanyakan secara in vitro adalah dapat mendapatkan bibit induk yang bebas virus, daerah meristem pucuk dengan beberapa primordia daun disterilkan dan diambil secara hati-hati dengan bantuan mikroskop binokuler. Pucuk yang berukuran 0,5-0,7 mm ini pada umumnya tidak mengandung virus, pucuk kemudian ditanam dalam media buatan yang mengandung unsur hara, gula, vitamin, asam amino dan hormon.

Perbanyakan secara in vitro dilakukan di laboratorium yang selalu dijaga kebersihannya dengan mengatur suhu dan kelembabannya (cahaya). Lboratorium tersebut dilengkapi dengan fasilitas ruang atau tempat persiapan, ruang transfer, ruang kultur dan ruang stok sebagai tempat kegiatan. Berikut langkah-langkah di dalam perbanyakan tanaman stroberi secara in vitro :

Persiapan dan sterilisasi media tumbuh.

Media tumbuh berisi gula, itamin, asam-asam amino, garam-garam anorganik, air, fitohormon, dan bahan pemadat media berupa agar-agar. Media tumbuh untuk kultur pucuk stroberi terdiri dari empat macam yaitu :

Media untuk inisiasi awal yang terdiri dari garam makro dan media knop ditambah garam mikro dari media MS (Murashige dan Skoog).

Media multiplikasi terdiri dari garam makro dan mikro dari media MS.

Media pengakaran berupa media MS.

Zat pengatur tumbuh yang digunakan berupa 6-benzylamino acid (BAP), naphtalene acetid acid (NAA), dan indole butryric acid (IBA).

Media tumbuh berupa gula dan lain-lainnya perlu disterilisasi. Hal ini dikarenakan media tersebut merupakan tempat pertumbuhan yang baik bagi cendawan dan bakteri. Bila lingkungan mendukung, mikroorganisme akan tumbuh cepat dan menutupi permukaan kultur bahan tanaman, di samping itu juga akan merusak bahan tanaman dan menyebabkan tanaman mati.

Sterilisasi dan isolasi bagian tanaman.

Persiapan sterilisasi dan isolasi yang dilakukan meliputi pemilihan bahan tanaman dan sterilisasi permukaan agar bahan tanaman bebas dari mikroorganisme yang menjadi kontaminan. Berikut ini tahap-tahap sterilisasi dan isolasi ;

Cuci bersih bahan tanaman yang diambil dari lapangan, buang bagian yang kotor dan mati dan buang juga daun-daun hingga tersisa bagian pucuk dengan 1-2 lembar daun kecil.

Rendam pucuk selama 10 menit di dalam larutan deterjen encer.

Rendam pucuk di dalam larutan agrimisin 1g/100 ml selama 2 jam.

Kegiatan selanjutnya dikerjakan dalam laminar air flow cabinet

Penanaman pucuk di dalam media inisiasi.

Pekerjaan ini dilakukan dalam lingkungan kerja yang aseptik yaitu di dalam laminar air flow cabinet. Pada inisiasi awal bisanya sukar didapatkan kultur yang bersih dari bakteri dan cendawan.

Peletakan kultur (media yang telah ditanami pucuk).

Kultur diletakkan di atas rak didalam ruang kultur atau ruang tumbuh yang bersih. Cahaya untuk perbanyakan in vitro berasal dari lampu TL yang dipasang pada rak. Lampu 40 watt dipasang pada ketinggian 50 cm dari rak kultur untuk menyinari daerah seluas 40 x 100 cm.

Pengamatan dan subkultur.

Kultur yang bersih (bebas kontaminasi bakteri dan cendawan) disebut kultur yang aksenik. Pucuk yang aksenik akan menunjukkan pertumbuhan dalam waktu 4 minggu, setelah 4 minggu pucuk dipindahkan ke media multiplikasi.

Dalam media multiplikasi, pucuk kecil akan membentuk tunas-tunas baru dalam 12-15 hari. Multiplikasi pertama menghasilkan 5-7 tunas, tunas yang diperoleh kemudian dipecah dan ditanam secara terpisah pada media multiplikasi. Proses pemecahan dan penanaman dalam media baru disebut subkultur. Dalam sub kultur pelipatan tunas berulang kembali, setiap 4 minggu dapat dilakukan sub kultur, stelah 5 kali sub kultur akan diperoleh antara 900-1000 tunas. Tunas-tunas tersebut kemudian diakarkan dalam media pengakaran.

Aklimatimasi pucuk.

Setelah akar sempurna dan mencapai panjang kira-kira 3 cm atau lebih (berumur 3 minggu), tanaman dapat dikeluarkan dan dilanjutkan dengan tahap aklimatisasi untuk selanjutnya dipindahkan ke pembibitan. Masa aklimatisasi ini merupakan masa yang sangat kritis dikarenakan tanaman kecil yang diperoleh (planlet) harus belajar berdiri sendiri untuk beralih dari kondisi heterotrof menjadi autotrof.

Perubahan yang drastis dari kultur jaringan dalam botol dan laboratorium ke lapangan adalah perubahan kelembaban, suhu dan intensitas cahaya. Untuk menjaga kelembaban yang tinggi maka planlet harus disungkup sekitar 2 minggu, intensitas cahaya dijaga dengan memberikan naungan dari paranet atau dapat menggunakan bilah-bilah bambu. Sementara suhu yang baik sekitar 23-25˚C pada siang hari ditempat dengan altitude tinggi atau dengan penyemprotan air secara berkala ditempat aklimatisasi.

Langkah-langkah aklimatisasi adalah sebagai berikut :

Siapkan media aklimatisasi yang terdiri dari media pasir dan kompos dengan perbandingan 1 : 1.

Kukus media selama 1 jam, kemudian isikan pada wadah aklimatisasi. Wadah dapat berupa pot individu kecil berukuran 3 cm atau baskom plastik untuk sejumlah planlet.

Bersihkan planlet dari sisa agar-agar.

Rendam planlet pada larutan Benlate 2 g/l selama 10 menit lalu dikering anginkan.

Tanam planlet pada media tumbuh yang sudah dibasahi sebelumnya.

Tutup pot kecil dengan botol selai atau sungkup plastik bila menggunakan baskom plastik.

Letakkan planlet dalam media sungkup pada media yang telah ternaungi dan bersuhu sejuk atau semprot sungkup dengan air secara berkala.

Buka sungkup berangsur-angsur setelah 2 minggu.

Pindahkan tanaman ke lahan pembibitan hingga mencapai 6 helai daun atau tanaman sudah tidak layu di dalam sungkup, selanjutnya bibit dapat ditanam di lapangan.