Pengamatan dan Analisis Distribusi Sebaran Belalang pada Lahan Jagung

PENDAHULUAN

Jagung merupakan tanaman pangan di Indonesia yang menduduki peringkat kedua setelah padi. Sedangkan berdasarkan urutan bahan makanan pokok di dunia, jagung menduduki urutan ketiga setelah gandum dan padi (AAK, 1993). Permintaan pasar yang semakin meningkat menjadi tantangan bagi para petani jagung. Sebab petani mempunyai kesempatan untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan produksi per satuan luas yang sama. Di samping itu diversifikasi penyajian makanan dari jagung sangat mendukung peran aktif petani dalam mengelola jagung.

Gambar 1. Tanaman Jagung

Keberhasilan peningkatan produksi pertanian, termasuk tanaman jagung, diantaranya ditentukan oleh keberhasilan tindakan pengendalian hama. Sebab antara hama dan tanaman terdapat hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Perkembangan dan pertumbuhan hama sangat dipengaruhi oleh adanya tanaman. Tanaman sangat diperlukan oleh hama sebagai tempat berlindung, makanan dan kadang-kadang untuk berkembangbiak. Tanaman inang yang terserang oleh hama akan mengalami kerusakan dan menimbulkan gejala kerusakan yang sangat spesifik. Kerusakan yang ditimbulkan oleh golongan hama serangga tidak lepas dari morfologi alat mulutnya.

Penekanan populasi hama atau pengendalian hama yang sering dilakukan di Indonesia masih mengandalkan penggunaan pestisida. Demikian pula tanaman pangan, seperti jagung, masih mengandalkan pestisida. Menurut Subiyakto Sudarmono (1988) Penggunaan pestisida dinilai berdampak negatif, sebab merugikan kesejahteraan manusia. Dampak yang paling jelas adalah terbunuhnya musuh-musuh alami (predator atau parasit) yang berasosiasi rapat sekali dengan hama.  Pestisida dapat menyebabkan ledakan hama sekunder, atau menyebabkan munculnya jenis hama tertentu. Di samping dapat menyebabkan resurgensi, yaitu bila suatu jenis hama setelah memperoleh pestisida berkembang lebih banyak dibanding dengan yang tanpa perlakuan pestisida.

Maka diperlukan pengendalian yang terbaik untuk pengelolaan hama agar produktifitas tanaman tetap tinggi. Oleh karena itu laporan ini dibuat sebai salah satu upaya mencari pengendalian terbaik dengan cara melakuakan pengamatan terhadap pola distribusi sebaran hama, khususnya belalang pada tanaman jagung.

TUJUAN

  1. Mengetahui model atau pola distribusi matematika dari sebaran serangga hama.
  2. Penentuan jumlah (N) sampel contoh optimum.

METODE PENELITIAN

Pengambilan sampel jumlah populasi hama belalang dilakukan dengan metode mutlak melalui pengamatan hama secara langsung di lapang. Sampel yang diambil sebanyak 30 unit yang diambil secara acak. Pola  pengamatan sampel yang digunakan adalah simple random sampling atau pengambilan acak sederhana. Masing – masing unit sampel yang terserang belalang adalah pertanaman dari areal lahan jagung seluas 60 m2 milik Bapak Hadi yang bertempat di depan Pabrik Sohun, Desa Karang Wangkal Rt / Rw : 01/02.

HASIL PENGAMATAN

Tabel 1. Banyaknya Belalang dalam satu pohon Jagung pada areal tanaman Jagung seluas 60 m2

Nomor Sampel Jumlah Belalang per pohon
1 1
2 2
3 1
4 1
5 1
6 1
7 1
8 2
9 1
10 1
11 1
12 1
13 1
14 2
15 3
16 2
17 1
18 1
19 2
20 1
21 1
22 1
23 1
24 1
25 1
26 1
27 1
28 1
29 1
30 1
Jumlah 37

HASIL ANALISIS

  1. Uji disribusi ( model matematika )

n = 30

ΣX = 37

  1. Uji kecocokan distrubisi
  1. Sampel optimal
  1. Ketepatan mean

x dari 30 sampel adalah 1,23 individu per pohon, dalam 60 m 2 ada 144 pohon sehingga estimasi individu dalam luas tanaman jagung 60m 2 adalah (1,24 x 144) =177,12 atau dibulatkan menjadi 177 individu belalang.

  1. Standar error dari mean

PEMBAHASAN

Pengamatan dilakukan dengan terlebih dahulu menentukan tempat yang akan diamati, yaitu di lahan jagung milik Bapak Hadi yang bertempat di Kelurahan Karangwangkal Rt/Rw : 01/02 depan Pabrik Sohun.Setelah itu menentukan hama yang akan diamatai, yaitu hama  perusak daun, belalang Ailopus tamulus Fabricius dari ordo Orthoptera dan family Arcididae. Belalang ini mempunyai warna hijau, coklat atau kemerahan dengan dua strip cokelat pararel pada verteksnya. Sayap depan panjang, warna keputihan, dan terdapat bercak.

Gambar 2. Belalang yang menyerang tanaman Jagung

Belalang dewasa maupun nimfa memakan daun dan dapat menyebabkan gundulnya daun. Bahkan kelompok kawanan belalang dalam jumlah besar dalam waktu beberapa jam dapat menyebabkan tanaman mati.

Gambar 3. Kerusakan daun Jagung

Kemudian unit sampel ditentukan satu lahan jagung seluas 60 m2 dengan pola pengambilan sampel acak (random) sebanyak 30 sampel pohon jagung. Tiap pohon dihitung banyaknya belalang yang menyerang dan dibuat data pengamatan. Analisis dilakukan dari data pengamatan dengan menghitung uji distribusi dan sampel optimal. Setelah di lakukan perhitungan didapat nilai rata-rata (x ) yaitu sebesar 1,23 dan nilai Vairance ( S2) sebesar 0,26. Dari hasil perhitungan tersebut dapat dilihat bahwa nilai rata-rata lebih besar dari pada nilai varience sehingga distribusi belalang pada lahan jagung adalah distribusi binomial positf atau distribusi acak. Selain itu didapat pula bahwa sampel optimalnya bernilai 68,724. Pendugaan jumlah belalang dalam luas 60 m2 lahan jagung adalah 177 individu.

Kesimpulan

  1. x > S2 maka pola distribusi matematik dari serangan belalang adalah disrtibusi binomial positif atau acak.
  2. Jumlah sampel optimum dengan error yang dapat ditolelir 0,05 adalah 68,724
  3. Pendugaan jumlah belalang dalam luas 60 m2 adalah 177 individu

About Evan

Sungguh saya adalah orang spesial, sebab tidak akan ada seseorang yang mampu mengalamai pengalaman yang persis dengan saya lalui.

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: