Layu Bakteri

Penyakit layu bakteri merupakan salah satu penyakit yang cukup penting pada tanaman kentang. Menurut  Setiadi dan Nurulhuda (2004), penyakit layu bakteri ini dapat mengakibatkan kematian kentang hingga 40%. Penyakit yang sering disebut penyakit lendir ini disebabkan oleh R. solanacearum. Patogen ini merupakan bakteri patogen terbawa tanah yang menjadi faktor pembatas utama produksi berbagai tanaman di dunia (Olson, 2005).

Bakteri ini adalah patogen yang menyebar luas di daerah tropis, subtropis, dan beberapa daerah hangat di dunia. Spesies ini mempunyai inang yang sangat luas dan dapat menginfeksi ratusan spesies pada banyak famili tanaman. Tanaman inang paling penting secara ekonomi adalah tanaman dari famli Solanaceae (Olson, 2005). Denny dan Hayward (2001) menyatakan bahwa bakteri ini bersifat patogenik terhadap lebih 50 famili tanaman. Kebanyakan inangnya adalah tanaman dikotil dan tanaman pisang.

Klasifikasi bakteri penyebab layu tersebut adalah (Agrios, 2005):

Kingdom          : Procaryotae

Divisi                : Gracilicutes

Kelas               : Proteobacteria

Famili               : Pseudomonadaceae

Genus               : Ralstonia

Spesies : Ralstonia solanacearum

Gambar 1.  Koloni bakteri R.  solanacearum pada medium CPG-TTC

(Olson, 2005).

Tyo (2008) menyatakan bahwa Kingdom Procaryotae termasuk ke dalam Domain Bacteria berdasarkan pengajuan Carl Woose pada tahun 1990 yang membagi makhluk hidup dalam 3 domain yaitu Bacteria, Archaea dan Eucarya. R. solanacearum merupakan bakteri gram negatif, berbentuk batang (0.5-0.7×1.5-2.5 µm), berflagel, aerobik, tidak membentuk endospora tidak berkapsula, motil, membentuk koloni berlendir, berwarna putih dengan warna kemerahan pada bagian tengah, reaksi oksidasi dan katalase positif, dapat mengakumulasi poly-β-hydroxybutyrate (PHB) dan mengurangi nitrat. Bakteri ini sedikit atau tidak tumbuh pada medium 2% NaCl dan bersifat negatif terhadap arginin dihydrolase, gelatin, serta hydrolisis eskulin (Denny dan Hayward, 2001; Olson, 2005). Pada medium CPG-TTC, koloni R. solanacearum yang virulen akan membentuk koloni yang luas, tidak beraturan, cembung, berlendir, warna putih susu dengan tengahnya berwarna merah muda, sedangkan yang tidak virulen tidak atau kurang berwana merah (Olson, 2005).

Tanaman yang sakit dapat membebaskan banyak bakteri dalam tanah. Bakteri dapat masuk ke dalam tanaman lain yang sehat melalui aliran air, penggemburan tanah, dan pemindahan tanaman. Bakteri masih dapat hidup di tanah selama beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun pada suhu 21-35 oC dengan kandungan air tanah tinggi (Pracaya, 2007). Menurut Rukmana (2006) patogen ini dapat hidup di dalam tanah selama 3-5 tahun.

Penyakit layu tidak akan terjadi di daerah dengan suhu di bawah 10 oC dan di atas 40 oC. Biasanya berkembang baik pada kisaran suhu antara 35-37 oC. Patogen ini dapat hidup pada semua jenis tanah dan kisaran pH yang luas, mulai dari tanah asam dengan pH 4,3-4,5 sampai tanah alkalis dengan pH 7,5-8,5. Biasanya patogen ini menginfeksi perakaran tanaman melalui lubang alami atau luka dan bergerak secara sistemik melalui pembuluh silem sehingga menyebabkan kelayuan (Denny dan Hayward, 2001; Goto, 1992).

Menurut Denny dan Hayward (2001), patogen R. solanacearum dibedakan menjadi 5 ras berdasarkan kepatogenannya terhadap inang utama. Ras 1 menyerang banyak tanaman, termasuk famili Solanaceae, ras 2 memiliki inang utama pisang, ras 3 inang utamnya kentang, ras 4 menyerang jahe, dan ras 5 menyerang tanaman strawberi.

Pada umumnya, pertama kali gejala layu terlihat pada tanaman yang berumur lebih kurang 6 minggu. Biasanya daun layu dimulai dari daun muda. Apabila batang tanaman yang terinfeksi penyakit dipotong dan ditekan, maka akan terlihat berkas pembuluh yang berwarna coklat dan mengeluarkan massa lendir berwana keabuan. Apabila batang yang dipotong tersebut dimasukkan ke dalam air jernih, maka akan mengeluarkan benang putih halus yang merupakan massa bakteri. Hal ini merupakan perbedaan yang jelas antara penyakit layu bakteri dan penyakit layu Fusarium (Semangun, 1994).

Menurut Agrios (2005), Bakteri layu ini menghasilkan enzim pektolitik yang berperan sebagai perombak zat pektat penyusun lamela tengah pada dinding sel tanaman, sehingga enzim ini penting peranannya dalam infeksi patogen. Bakteri ini memiliki extracellular polycaccharides (EPS) yang berlendir dan dapat menghalangi transformasi air serta unsur hara ke daun, sehingga tanaman tidak dapat melakukan fotosintesis dan tanaman menjadi layu hingga akhirnya tanaman mati. Keberadaan EPS menentukan tingkat kepatogenan R. solanacearum. EPS terdiri dari homo dan heteropolisakarida yang berfungsi melindungi bakteri dari kekeringan, pagositosis protozoa dan serangan organisme lain, tempat menerima dalam absorbsi fag, adhesi sel bakteri ke permukaan benda padat, pengambilan ion, dan interaksi inang parasit (Djatmiko, 2004)

About these ads

Tentang Evan

Sungguh saya adalah orang spesial, sebab tidak akan ada seseorang yang mampu mengalamai pengalaman yang persis dengan saya lalui.

One response to “Layu Bakteri”

  1. nurulafriyantiutamidewi says :

    saya heran kenapa ya jika saya membuat biakan murni selalu kontaminasi?? apa ada tips-tipsnya? Terimakasih

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: