Bioekologi Tanaman Jahe

Tanaman jahe membutuhkan curah hujan relatif tinggi, yaitu antara 2.500 – 4.000 mm/tahun. Pada umur 2,5 sampai 7 bulan atau lebih, tanaman jahe memerlukan sinar matahari. Penanaman jahe sebaiknya dilakukan di tempat yang terbuka sehingga mendapat sinar matahari sepanjang hari (Rukmana, 2000).

Suhu udara optimum untuk budidaya tanaman jahe antara 20-350C. Tanaman jahe paling sesuai ditanam pada tanah subur, gembur, dan banyak mengandung humus. Tekstur tanah yang baik adalah lempung berpasir, liat berpasir, dan tanah laterik. Tanaman jahe dapat tumbuh pada keasaman tanah (pH) sekitar 4,3-7,4. pH optimum untuk jahe adalah 6,8-7,0. Jahe tumbuh di daerah tropika dan subtropika dengan ketinggian 0-2.000 m dpl, tetapi pada umumnya di Indonesia ditanam pada ketinggian 200-600 m dpl (Santoso, 1994).

Tanaman jahe memerlukan lahan di daerah yang sesuai untuk pertumbuhannya. Pertumbuhan jahe yang optimum memerlukan persyaratan iklim dan lahan sebagai berikut: iklim tipe A, B dan C (Schmidt & Ferguson), dengan ketinggian tempat 300 – 900 m dpl, suhu rerata tahunan 25 – 300C, dengan jumlah bulan basah (> 100 mm/bl) 7 – 9 bulan per tahun, curah hujan per tahun 2.500 – 4.000 mm, intensitas cahaya matahari 70 – 100% atau agak ternaungi sampai terbuka, drainase tanah baik, tekstur tanah lempung sampai lempung liat berpasir, dan pH tanah 6,8 – 7,4. Pada lahan dengan pH rendah dapat diberikan kapur pertanian (kaptan) 1 – 3 ton/ha atau dolomit 0,5 – 2 ton/ha untuk meningkatkan pH tanah (Rostiana et al., 2005).

Menurut Prihatman (2000), jahe dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan ukuran, bentuk dan warna rimpangnya. Umumnya dikenal tiga varietas jahe, yaitu:

  1. Jahe putih/kuning besar atau disebut juga jahe gajah atau jahe badak.

Rimpangnya lebih besar dan gemuk, ruas rimpangnya lebih menggembung dari kedua varietas lainnya. Jenis jahe ini bisa dikonsumsi baik pada saat berumur muda maupun berumur tua, baik sebagai jahe segar maupun jahe olahan.

  1. Jahe putih/kuning kecil atau disebut juga jahe sunti atau jahe emprit.

Ruasnya kecil, agak rata sampai agak sedikit menggembung. Jahe ini selalu dipanen setelah berumur tua. Kandungan minyak atsirinya lebih besar daripada jahe gajah, sehingga rasanya lebih pedas, di samping seratnya tinggi. Jahe ini sesuai untuk ramuan obat-obatan, atau untuk diekstrak oleoresin dan minyak atsirinya.

  1. Jahe merah

Rimpangnya berwarna merah dan lebih kecil daripada jahe putih kecil, sama seperti jahe kecil, jahe merah selalu dipanen setelah tua, dan juga memiliki kandungan minyak atsiri yang sama dengan jahe kecil, sehingga sesuai untuk ramuan obat-obatan.

About these ads

About Evan

Sungguh saya adalah orang spesial, sebab tidak akan ada seseorang yang mampu mengalamai pengalaman yang persis dengan saya lalui.

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: